Potongan cerita dari pengalaman di Sulawesi tahun 2016-2017
Setelah hampir 1 jam perjalanan melewati jalan terjal, akhirnya motor yang luar biasa tangguhnya ini berhenti di depan sebuah rumah panggung. Rumah panggung ini berbeda dengan rumah panggung lainnya yang ada di sekitar Desa Taipaobal. Menurut keterangan tetangga, ternyata memang rumah ini adalah salah satu rumah yang paling pertama dibangun dan masih bisa bertahan di desa ini. Ketika menaiki anak tangga dan mulai memasuki rumah ini memang terasa sekali getarannya, bahkan ada satu bagian rumah yang nampaknya bergoyang-goyang ketika ada beberapa orang yang berdiri di sana. Semoga saja rumah ini nasibnya tidak seperti kapal Titanic walaupun di dalamnya diisi seorang pria yang sedikit sekali mirip dengan Leonardo DiCaprio. Jangan tanyakan siapakah orang itu karena pasti akan terjadi kontroversi dan protes di kalangan para pembaca kalau disebutkan.
Aku dikejutkan dengan jawaban kepala Sekolah ketika aku bertanya ruangan manakah yang merupakan kamarku. Dia menjawab, “Nah di sini Pak Maul,” sambil menunjuk tempat berupa kamar yang nampaknya mendadak dibuat. Kamar ini tidak mempunyai privasi karena memang adalah tempat yang harus dilewati terlebih dahulu untuk masuk ke kamar guru lainnya. Di malam harinya aku merasakan getaran yang cukup keras di tubuhku, aku berpikir apakah aku mendapatkan mimpi buruk di hari pertama tidurku ataukah getaran ini nyata. “Mbeeee!!!” Pertanyaanku terjawab ketika terdengar suara seekor domba dari bawah rumah panggung sambil menanduk-nanduk papan yang merupakan alas tidur rumah ini. Aku belajar rasa syukur dari rumah tua ini, karena suasana mengabdi sangat terasa dan aku jadi tahu bagaimana rasanya bertahan hidup di daerah terpencil dengan kebutuhan papan yang terbatas namun ternyata bisa memadai dan menambah kesan di hati.
Di hari penurunan pertama setelah beberapa hari meninggali rumah tua otot tanganku seperti berkontraksi layaknya atlet angkat besi olimpiade Athena, olimpiade versi jadul kenanganku yang ditonton ketika masih bersekolah, setelah menahan beban agar tidak berpelukan dengan supir (supir?) ojeg ketika turun gunung jalan curam Desa Taipaobal. Ternyata beban hidup untuk menuruni gunung ini lebih besar daripada ketika kita harus mendakinya.
Bayangkan perjuangan untuk menahan agar kita tidak berpelukan mesra a la film Titanic dengan supir ojeg untuk menghindari karamnya motor yang kita kendarai bersama. Tanganku memegang pegangan motor ke belakang sambil menahan badanku agar tidak memberatkan punggung sang supir yang juga tidak kalah hebat perjuangannya karena dia sekuat tenaga menahan agar pantatnya tidak berpaling dari ujung jok motor yang paling depan.
“Going Down”
Going to the top is a must
Said people who chase their lust
Going down is considered as just
A transit to strengthen their gut
People here don’t need to rise
Up here is a paradise
With all words of satisfied
They made their own beautiful sky
– Untuk mereka yang bersyukur