12 jam di dalam pesawat itu merupakan sebuah pengalaman yang menarik. Membosankan tapi jika diperhatikan benar-benar, sangat menarik.
Dimulai dengan menyibukkan diri sendiri dengan browsing berbagai program yang ada di layar monitor dihadapan saya. Ada filem apa saja yang bisa diputar. Diawali dengan genre yang dianggap menarik, action? Thriller? Horor, drama, komedi? Lalu pilih satu, setelah beberapa menit mulai bosan, berhenti lalu memilih yang lain. Karena tidak ada yang menarik, mulai melihat lagu-lagu. Jazz, R&B, Pop, Oldies 80-an. Putar satu lagu, coba yang lain, lalu dimatikan. Sebetulnya saya bisa saja membaca, di kompartmen di atas kepala, ada buku Mitch Albom yang terbaru berjudul Twice, katanya tentang seorang pria bernama Alfie Logan yang memiliki kemampuan menghidupkan kembali saat-saat tertentu lalu memperbaiki kesalahannya. Lagi-lagi saya malas bangkit dan membuka koper. Bokong mulai terasa tidak nyaman sehingga terpaksa berdiri. Saya memang sengaja mengeluarkan sedikit uang untuk membeli tempat duduk di lorong sehingga jika ingin ke WC, tidak perlu membangunkan atau menganggu orang lain. Tidak terbayang bagaimana rasanya menahan panggilan alam selama 12 jam! Saya berjalan ke kamar kecil. Penerbangan dari istanbul ini spertinya hampir penuh, saya lihat semua kursi terisi, tidak seperti perjalanan saya dari Denver ke Istanbul, saya dapat 3 kursi kosong yang secara bergantian dengan Nina menggunakan 3 kursi itu untuk tidur berbaring! Tampaknya tidak banyak orang yang berpergian ke dan dari Amerika. Persis seperti keberangkatan saya dari tanah air ke Istanbul pesawat penuh sesak, dari Istanbul ke Denver kosong. Tempat duduk di samping saya selama perjalanan tidak terisi. Para pelancong memilih negara lain dan menjauh dari Amerika.
Di sisi sebelah kanan di deretan tengah 1 baris dibelakang saya ada 2 orang ibu-ibu dan seorang anak laki-laki. Terbatuk-batuk diiringi suara dahak. Saya mulai merasa ngeri apalagi baru-baru ini katanya ada wabah Flu strain baru. Saya mulai berpikir mengenakan masker tapi malas berdiri untuk membuka kompartmen di atas kepala untuk membuka koper. Rasa malas bertempur dengan kemungkinan risiko tertular dan sakit. Kemalasan saya menang, berkilah bahwa tubuh saya kuat dan yakin tidak akan tertular.
Baru beberapa menit pesawat mengudara rasanya sudah berjam-jam. Mulai khawatir saya tidak akan survive dalam penerbangan panjang ini. 2 orang yang duduk disamping saya langsung tertidur. Ketika mulai dibagikan botol air mineral mereka tetap bergeming. Saya merasa ingin berbaik hati, saya selipkan masing-masing 1 botol di keranjang depan tempat duduk mereka. Ada perasaan bangga bahwa saya berbaik hati. Lalu saya merasa diri saya "garing" tidak ada kerennya berbuat itu. Benar saja, setelah sekian waktu dia terbangun menyenggol botol air itu hingga jatuh ke lantai namun tidak dia perdulikan.. kebaikan saya tersia-siakan.
Makanan dibagikan, mereka berdua masih tertidur. Mengingat botol air tadi, saya malas membangunkan mereka. Bukan tugas saya, toh pramugari yang bertugas tidak mengacuhkan mereka, dilewat begitu saja maka saya pun tidak merasa bersalah dan menikmati segelas chardonay, shepherd's Salad, grilled Kofte dengan tomato bulgur dan zucchini dan ditutup dengan marinated berries vanilla pudding with creme Fraiche yang manis, krimi dan cocok untuk makanan penutup.
2 orang sebelah saya terbangun dan memandang saya seolah-olah menegur tidak membangunkan ketika makanan dibagi. Saya tidak pedulikan, bukan tugas saya membangunkan dia, toh sejak kami semua duduk bersebelahan tidak ada satu patah katapun yang terucapkan satu sama lain. Saya terus menikmati daging domba cincang yang dibentuk bulat lonjong itu. Rasa rempahnya cukup terasa dan sama sekali tidak berbau daging. Sejauh ini makanan-makanan yang saya terima dari maskapai ini bisa saya nikmati. Bulgur yang dimasak dengan tomat pun saya sukai. Jaman saya masih SD, saya sering dibgikan "jatah" bulgur di sekolah dalam kantong-kantong besar. Katanya sumbangan dari WHO, mungkin dulu Indonesia dianggap negara sangat miskin dan perlu disumbang. Kalau tidak bulgur, saya sering dibagi susu bubuk yang kalau dicampur air panas jadi mengerindil dan butuh waktu lama diaduk dan ditekan-tean agar susu dan air dapat tercampur dengan sempurna. Atau kadang juga kami dapat bagian sagon. Entah itu betul atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas seperti tepung warnanya kecoklatan lalu oleh orang tua saya disangrai dengan tambahan parutan kelapa dan gula pasir. Makanan jaman kanak-kanak yang seru sebab seringkali sengaja kami berbicara ketika baru saja menyuapkan sagon ini sehingga makanan berhamburan kemana-mana dari mulut. Namanya anak-anak, ide kacau semacam itu menjadi sebuah keseruan.
"Miss..miss... food!" kata 2 orang yang tadi terlewat karena tertidur.
"I'll be back to serve you." kata pramugari tadi.
Saya tersenyum sendiri. Penggunaan bahasa ala kadarnya memang menjadi pengalaman saya yang menarik setiap berpergian ke luar negeri. Jangan salah, saya tidak menganggap remeh orang-orang ini. Mereka yang mampu ke luar negeri adalah orang yang spesial. Tidak banyak orang yang berkesempatan untuk berjiarah, naik haji ataupun umroh. Butuh dana tidak sedikit, jadi memang mereka orang yang di atas rata-rata dan yang pasti sangat religius. Makanan saya sudah setengahnya habis. ibu-ibu yang terbatuk-batuk tadi sedang dilayani.
"Coca cola saja" katanya dalam bahasa Indonesia. Untung pramugari itu mengerti sehingga dia mengambil gelas kertas lalu meraih botol Pepsi dan menuangkan seglas lalu disodorkan kepada ibu itu yang menerima tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ya, ini juga sering saya lihat. Kebiasaan tata krama yang kurang terlatih. Penggunaan kata please, juga semakin berkurang, padahal itu menjadi ciri khas kesopanan.
Saya jadi ingat puluhan tahun lalu ketika masih bekerja membuat roti lapis, ada seorang pria datang bersama anak perempuannya yang masih kecil. Anak kecil itu selalu menegur ayahnya ketika tidak menggunakan kata please.
"What kind of bread would you like?" Tanya saya.
"Wheat bread." Kata pria itu
"Please." Kata anak itu sambil memberikan pandangan menegur pada ayahnya.
Beberapa kali anak itu mengucapkan kata please sampai akhirnya ayahnya sadar dan menggunakan kata itu. Anak perempuan itu saya hadiahi sebuah cookie ketika ayahnya selesai membayar.
"Pilih apa?" tanya wanita di belakang saya pada ibu yang suka batuk-batuk itu.
"Nasi goreng sama daging." katanya
Saya tersenyum lagi karena tahu yang dia makan bukan nasi goreng melainkan bulgur yang dimasak dengan tomat, dan daging itu adalah kofte, daging cincang berempah yang dipanggang, khas makanan Timur Tengah. Semua ada di selembar kertas menu yang dibagikan menjelang makanan tiba. Saya juga tidak merasa perlu mengkoreksi. Tidak penting. Itu bukan makanan yang umum ditemukan di Indonesia, jadi saya maklum jika kebanyakan tidak tahu apa yang mereka makan. Saya juga tidak tahu apa itu Kofte atau Borek jika tidak berusaha mencari tahu. Makanan adalah salah satu kegemaran saya dan mencari informasi bahkan mengetahui bagaimana membuatnya merupakan salah satu obsesi saya, jadi ya wajar saja jika saya berusaha mencari tahu sementara kebanyakan orang yang tidak tertarik akan informasi tentang makanan yang mereka santap, juga sah-sah saja. Sama seperti ketika saya tidak tertarik pada saat Nina menjelaskan pada saya game theory atau model perhitungan ekonometrik.
Dua pria disamping saya akhirnya disodori makanan tapi tidak sama dengan yang saya makan, mereka mendapat borek ala Turki, semacam pastry berbentuk setengah lingkaran seperti bulan sabit, seperti pastel ukuran besar. Didalamnya katanya keju feta dan bayam. Kemungkinan besar pria ini juga tidak kenal makanan ini, buktinya semua dibuka dan dicoba. Salad tidak dia sentuh, lalu dengan lahap dia nikmati "pastel" ini. Sambil mengunyah dia buka puding dengan creme fraiche dan dia makan ketika mulut masih penuh dengan hidangan utama. "Waduh.." kata saya dalam hati. Bagaimana rasanya makan keju dan bayam yang dibungkus kulit pastry dicampur dengan puding Vanila? Saya berusaha tidak memikirkan itu. Bukan urusan saya dan berusaha keras untuk tidak menghakimi dia. Saya anggap ini sebagai pengalaman menarik.
Saya lirik beans yang dimasak dengan tomat itu sama sekali tidak mereka sentuh. Ah sungguh saya merasa sayang sekali karena itu makanan yang luar biasa enak. Mereka bukan orang yang adventurir dalam urusan makanan. Saya akan selalu mencoba jenis makanan baru sebagai cara "mengedukasi" diri dan juga berpetualang dalam urusan kuliner. Tidak ada salahnya jika mereka tidak mau, setiap orang beda-beda. Tidak bisa dibandingkan.
Eksplorasi dalam hal makanan bagi saya merupakan kegiatan yang menarik. Tentunya saya tidak akan seperti orang disebelah saya yang mencicipi puding ketika mulutnya masih penuh dengan keju dan bayam. Sama seperti orang yang tertarik pada puzzle dan teka-teki, ada semacam passion yang muncul ketika dihadapkan pada sebuah tantangan seperti itu. Saya akan tergugah ketika dihadapkan pada makanan yang belum pernah saya cicipi lalu semua titik perasa saya bermain dan menduga-duga kira-kira apa yang digunakan untuk menciptakan hidangan ini. Sampai pada pemikiran ini, saya tersenyum bahagia karena koper yang saya bawa dalam perjalanan kembali ke tanah air ini penuh dengan berbagai bumbu termasuk sumac, yaitu bumbu dari sejenis berries yang biasa digunakan pada hidangan Timur Tengah dengan cita rasa asam, seperti jeruk nipis atau lemon. Saya membawa berbagai macam saus cabe, peralatan untuk memanggang dan lain-lain untuk mengisi hari-hari saya dengan kesibukan di dapur. Mudah-mudahan ini tidak hanya seedar berwacana, saya ingin banyak berkesperimen di dapur. Mudah-mudahan para tetangga tidak keberatan jika dijadikan korban untuk mencicipi eksperimen saya.
Penerbangan mulai mendekati India, masih sangat panjang hingga tiba di tanah air. Saya harus mencari kesibukan karena dilanda kebosanan yang luar bisa. Tidur mungkin akan jadi salah satu pilihan. Ketika sedang pergi memulai liburan, rasanya jauh berbeda dengan saat pulang kembali menuju ke kenyataan hahaha.. Waktu pergi memulai lburan penuh dengan excitement, ketika semua berakhir maka yang jauh lebih terasa adalah kelelahan dan yang pasti 12 jam adalah waktu yang lama jika diterjang kebosanan!