AES008 Puisi
Mega
Thursday October 28 2021, 12:26 AM
AES008 Puisi

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba sore itu

Ini dari kami bertiga

Untuk kakak yang tertembak siang tadi

 

Ini adalah potongan puisi yang dikenalkan padaku dan teman-teman sekelas saat kami duduk di kelas 3 SD. Aku selalu mengingat syairnya seperti itu, tidak lebih dan tidak kurang. Waktu itu sih kami hanya disuruh menghafalkan, lalu dideklamasikan di depan kelas tanpa pernah dibahas maknanya. Mungkin ini adalah perkenalan pertamaku dengan puisi.

Syair puisi itu tak pernah hilang dari ingatanku. Isinya begitu lugas. Aku selalu membayangkannya begini: Ada tiga orang anak datang sambil tersenyum malu-malu, membawa bunga untuk seorang kakak yang tertembak di Salemba. Aneh ya, padahal tidak ada kata 'bunga' dalam puisi itu.

Berbekal baris-baris syair yang kuingat itu, beberapa tahun lalu aku mencari tahu lebih dalam tentang puisi di atas. Dan inilah hasilnya.

 

Karangan Bunga

(Taufiq Ismail, 1966)

 

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore itu

 

Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati

Siang tadi 

.

Puisi ini dibuat untuk mengenang tewasnya seorang mahasiswa UI, Arif Rahman Hakim, yang tertembak dalam sebuah demonstrasi terhadap kekuasaan Orde Lama. Puisi yang cukup berat, sebenarnya. Sampai sekarang pun aku tak mengerti, mengapa dulu guruku memilih puisi ini untuk murid kelas 3 SD. Apakah karena kami hanya diminta menghafalkannya tanpa mengetahui latar belakangnya? Mungkin akan lain ceritanya, kalau puisi ini dikenalkan pada anak Smipa. goofy-4

Dan, entah dulu ibu guruku yang menyederhanakan syairnya, atau memang aku yang lupa sehingga hanya sebagian syair puisi Karangan Bunga itu yang tersisa di kepalaku. Yang pasti, puisi tak berima ini ikut meramaikan perjalanan literasiku hingga saat ini.

You May Also Like