Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba sore itu
Ini dari kami bertiga
Untuk kakak yang tertembak siang tadi
Ini adalah potongan puisi yang dikenalkan padaku dan teman-teman sekelas saat kami duduk di kelas 3 SD. Aku selalu mengingat syairnya seperti itu, tidak lebih dan tidak kurang. Waktu itu sih kami hanya disuruh menghafalkan, lalu dideklamasikan di depan kelas tanpa pernah dibahas maknanya. Mungkin ini adalah perkenalan pertamaku dengan puisi.
Syair puisi itu tak pernah hilang dari ingatanku. Isinya begitu lugas. Aku selalu membayangkannya begini: Ada tiga orang anak datang sambil tersenyum malu-malu, membawa bunga untuk seorang kakak yang tertembak di Salemba. Aneh ya, padahal tidak ada kata 'bunga' dalam puisi itu.
Berbekal baris-baris syair yang kuingat itu, beberapa tahun lalu aku mencari tahu lebih dalam tentang puisi di atas. Dan inilah hasilnya.
Karangan Bunga
(Taufiq Ismail, 1966)
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi
.
Puisi ini dibuat untuk mengenang tewasnya seorang mahasiswa UI, Arif Rahman Hakim, yang tertembak dalam sebuah demonstrasi terhadap kekuasaan Orde Lama. Puisi yang cukup berat, sebenarnya. Sampai sekarang pun aku tak mengerti, mengapa dulu guruku memilih puisi ini untuk murid kelas 3 SD. Apakah karena kami hanya diminta menghafalkannya tanpa mengetahui latar belakangnya? Mungkin akan lain ceritanya, kalau puisi ini dikenalkan pada anak Smipa. 
Dan, entah dulu ibu guruku yang menyederhanakan syairnya, atau memang aku yang lupa sehingga hanya sebagian syair puisi Karangan Bunga itu yang tersisa di kepalaku. Yang pasti, puisi tak berima ini ikut meramaikan perjalanan literasiku hingga saat ini.