AES 008 AI ini AI itu
minfadlyrobby
Tuesday April 15 2025, 1:25 PM
AES 008 AI ini AI itu

stevejohnson_0iV9LmPDn0unsplash.jpg

Source https://unsplash.com/photos/a-computer-circuit-board-with-a-brain-on-it-_0iV9LmPDn0

AI atau Akal Imitasi (dalam Bahasa Indonesia yang baku) menjadi pembicaraan yang panas di media sosial. Pro kontra melingkupi perdebatan itu. Dalam hal ini kecerdasan buatan ini sudah diprediksi pada banyak film. Dalam banyak film itu kecerdasan buatan merupakan sebuah momok antara kecanggihan berfikir dan daya saing manusia dengan robot. Juga memperlihatkan bagaimana jika manusia bercinta dengan kecerdasan buatan tersebut. Pada akhirnya manusia memang harus beradaptasi dengan akal imitasi tetapi pemakaiannya perlu diatur agar manusia tidak mati.

Perkembangan AI sejatinya berasal dari bagaimana kecanggihan akal manusia menciptakan alat untuk mempermudah pekerjaannya. Teknologi buatan manusia yang sejatinya merupakan bentuk karya manusia peruntukannya untuk menciptakan karya lainnya dari teknologi ini. Lewat akal imitasi karya lainnya terbuat dari mengumpulkan inquiry yang ada di jagat internet lalu diolahnya. Sebelumnya kode-kode tertentu oleh manusia pembuat AI ini sudah dimasukkan agar AI dapat mengolahnya secara tepat -mungkin berguna-.

Pada gilirannya AI mengolah dengan kecerdasannya yang dipindahkan dari manusia itu sendiri. Memunculkan kekuatan manusia tetap harus ada dalam proses penggunaannya. Tidak cukup AI saja yang bekerja. AI hanya mempunyai akal saja sedangkan manusia mempunyai akal dan perasaan yang memperlihatkan suatu karya akan lebih bermakna.

Sentuhan manusia tetaplah diperlukan dalam proses penggunaan AI ini. Bagaimana sentuhan manusia untuk memasukkan persoalan etika seperti hak cipta dari karya yang disadur (baik berupa tulisan/gambar) yang berusaha disadur oleh AI. Itu adalah tetap pada kendali manusia. Lebih luas lagi kendali manusia adalah membuat peraturan penggunaan AI agar tidak merugikan manusia lain saat menggunakan AI. AI dengan kecanggihannya serta manusia sebagai pembuat dan pengguna harus bersikap adil dalam menggunakannya.

Karena AI tetap harus diregulasi oleh manusia itu sendiri. Posisinya sebagai alat mutlak. Ia bukan sebagai substitusi karena kecanggihannya di atas rata-rata. Adalah ia menjadikan hidup manusia terbantu lebih mudah sekali. Misalnya dalam berkarya gambar mencari referensi gambar akan sangat mudah dan cepat. Sementara dalam menulis kita akan sangat mudah untukĀ  mencari referensi tulisan bagus dengan lebih tepat dibanding mencari di mesin pencari.

Maka untuk itu AI seharusnya diregulasi ketat agar kemaslahatan untuk umat manusia terjamin lebih bermakna. Tidak ada yang merasa tergantikan. Hidup setara dan beriringan dengan akal imitasi. Sekurang-kurangnya proses ketika menggunakan AI diberi klasifikasi dan indikator sejauh mana kita menggunakan AI tersebut. Melampaui hal itu neraka yang selalu digambarkan oleh film-film dystopian soal robot menguasai bumi dan menggantikan manusia tersebut dapat ditanggulangi. Kita sebagai manusia tetap memegang kendali kehidupan kita sendiri.

You May Also Like