Spiritualitas sendiri rasanya bisa kita dekati dari beberapa ranah, dari ranah paling dalam sampai yang paling lahiriah.
1. Ranah kesadaran
Aku tuliskan dari yang jarang disebut dulu, namun merupakan fondasi dari semuanya. Mungkin diksi “kesadaran” pun banyak disalahartikan karena dipakai di banyak ranah berbeda, tapi seolah menunjuk hal yang sama. Paling umum berarti tidak pingsan, bangun dari tidur, sadar secara medis, juga ada pengertian kesadaran normatif-kognitif (misal sadar buang sampah pada tempatnya). Namun yang kita bahas di sini adalah kesadaran yang sifatnya eksistensial. Aku lebih suka menyebutnya sebagai knowing, daripada istilah2 seperti consciousness, awareness, presence. Tapi karena di luaran sudah lebih banyak dikenal istilah-istilah tersebut, jadi anggaplah kita merujuk pada maksud yang sama. Kesadaran sebagai yang bukan objek, yang selalu sudah hadir/ever present, ada sebelum konsep apapun, fakta bahwa apapun bisa disadari. Kesadaran ini ga bisa diceritakan, hanya bisa dikenali. Kesadaran juga bukan pengalaman tertentu, seringnya terasa sunyi, biasa saja, tidak dramatis, tidak datang dan pergi, dan terlalu sederhana untuk dikenali oleh pikiran yang terbiasa mencari sesuatu yang spesial. Apakah sains bisa memahaminya? Menurutku sulit. Makanya ada istilah “Hard problem of consciousness”. Kenapa? Karena sains modern dibangun atas prinsip objektivitas: bisa diukur, observasi bisa diulang, bisa diverifikasi oleh orang lain. Sedangkan kesadaran adalah subjek, bukan objek. Semua alat sains melihat fenomena di luar (otak, amygdala, vagus nerve, reaksi hormon dsb), tapi yang mengalami itu “subjek yang mengetahui”, bukan objek yang bisa diambil oleh alat ukur. Bukan artinya sains bertentangan dengan kesadaran murni, ini hanya soal perbedaan alat saja. Semakin dipikirkan dengan sains, maka semakin banyak objek, semakin jauh dari pengalaman subjek. Jadi sebaiknya gimana? Turun dari kepala. Nanti kapan2 kubahas ya.
2. Ranah pengalaman batin/fenomena
Pengalaman batin ini yang paling sering disebut “spiritual”. Kadang suka disebut pengalaman spiritual. Pengalaman bisa terasa intens, dramatis, hening, rasa menyatu dsb. Namun sebenarnya, meskipun pengalaman itu sendiri valid, ia cuma fenomena yang muncul di ruang kesadaran tapi bukan kesadaran itu sendiri. Yang membuatnya disebut “spiritual” adalah interpretasi terhadap pengalaman tersebut. Pengalaman batin hanyalah fenomena/objek, yang tetap bisa diamati, bisa datang dan pergi, bisa diketahui, bisa dialami, bisa dirasakan, bisa diceritakan. Sama seperti pikiran, perasaan, emosi. Namun banyak orang menyangka pengalaman batin ini adalah tujuan, jadi mereka mengejar fenomena yang terasa magical, luar biasa, dan intens. Ketika bermeditasi mereka mencari-cari sensasi yang di luar dari biasa, penglihatan visual dsb, padahal itu semua adalah “isi” dari kesadaran.
3. Ranah psikologis-emosional
Ini kayaknya ranah yang cukup penting karena berfungsi sebagai tempat di mana spiritualitas sejati bisa tumbuh sehat. Sering disebut sebagai ranah healing/penyembuhan. Tapi, ranah ini pun masih termasuk fenomena, bukan ruang kesadaran itu sendiri, jadi bukan tujuan. Ranah ini berbicara soal luka batin, pola emosi, mekanisme bertahan hidup, trauma, attachment, kebutuhan rasa aman dan dicintai dsb. Tanpa menyentuh ranah ini, spiritualitas rentan disalahartikan, ego menyamar jadi kesadaran, atau terjadi spiritual bypassing. Untuk lebih jelasnya kita pakai contoh saja. Misalkan seseorang mengalami pengalaman batin yang intens, tapi ia belum menyentuh luka, pola emosi, atau ketakutannya sendiri. Maka yang sering terjadi adalah ego menyamar jadi kesadaran (merasa sudah tercerahkan, padahal yang dialami adalah fenomena batin, tanpa menyadari masih ada pola trauma atau ketakutan yang tersembunyi yang bisa memunculkan ilusi), rasa damai sesaat diartikan sebagai kedalaman spiritual. Bagian tricky lainnya adalah healing tidak otomatis kesadaran hadir. Seseorang bisa fokus pada penyembuhan psikologis, tapi jika ia tidak hadir sebagai kesadaran, ia bisa tetap terjebak (ego menyamar jadi yang “sudah sembuh”, atau terus berputar pada upaya penyembuhan). Kabar baiknya, ranah psikologis-emosional bisa disentuh langsung oleh kesadaran, tanpa perlu “agenda” atau usaha manipulatif. Tapi tentu saja jika masalahnya terlalu berat, tetap perlu dibantu terapi atau konseling.
4. Ranah makna dan nilai hidup
Sepertinya ini ranah spiritualitas yang membumi. Wilayah yang disentuh antara lain tujuan hidup, makna hidup, panggilan batin, integritas, etika, bagaimana kita hidup sebagai manusia. Seseorang bisa saja nggak punya pengalaman mistik, juga mungkin belum mengenal kesadaran eksistensial tapi hidup sangat bermakna, etis, dan selaras, misal menolong orang lain, hidup jujur dan damai, memenuhi panggilan batin dsb. Ini karena ego atau akal bisa diarahkan pada nilai dan tujuan. Namun jika diterangi oleh cahaya kesadaran, keselarasan itu utuh tanpa drama ego.
5. Ranah bentuk (agama, ritual, praktik, cara)
Ini sepertinya adalah ranah yang paling disalahpahami, sekaligus paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ranah ini merupakan ekspresi lahiriah spiritualitas, seperti agama dan institusinya, ritual/doa/ibadah, meditasi sebagai teknik/cara, simbol, kitab suci, mantra sakral, tradisi, aturan, tata cara dsb. Semua ini tentunya bisa diamati, diajarkan, diwariskan. Dan itu sebuah hal yang wajar. Fungsi sejatinya di antaranya adalah memberi tempat berpijak bagi manusia, rasa aman dari ketidakpastian, keteraturan, juga wadah komunitas. Tanpa bentuk yang disebutkan di atas, kebanyakan manusia bisa tersesat atau tenggelam dalam kebingungan batin, dan perilaku yang merusak. Nah, masalah mulai muncul saat bentuk (misal agama) disangka tujuan. Jadi yang terjadi adalah ibadah jadi kewajiban mekanik (kadang juga didorong rasa takut neraka atau ingin surga), meditasi jadi teknik mengejar kondisi tertentu, identitas dan ego kolektif yang bisa jadi perpecahan (agamaku paling benar, caraku paling suci, tradisiku paling murni dsb). Di sini ego pribadi melebur jadi ego kelompok. Bisa juga terjadi ketaatan tanpa kesadaran. Patuh pada aturan disangka sudah “dekat dengan Tuhan”. Ranah ini ibaratnya jari yang menunjuk bulan sebagai tujuan, tapi orang2 menyangka jari adalah bulan itu sendiri.
Pada akhirnya, spiritualitas bukan soal seberapa dalam pengalaman kita, seberapa luas pengetahuan dan pemahaman kita, atau cara apa yang kita tempuh. Ia juga tidak selalu tampak sebagai sesuatu yang luar biasa. Ia bisa hadir tanpa pengalaman mistik, tanpa bahasa langit, tanpa aksesoris seperti kartu tarot, bahkan tanpa disadari sebagai “spiritual”. Ia hadir ketika kita ketrigger dan menerima semua sensasi emosi yang hadir, ketika kita hadir mendengar dengan atensi penuh ketika anak berkisah tentang karya yang ia buat, ketika kita memberi bukan karena kita mengharap balasan surga, bukan karena kita merasa lebih superior, tapi karena rasa kemanusiaan yang sederhana dan jujur.❤️