AES0002 Momen-Oh-Geuning
Naufal
Monday May 29 2023, 9:36 PM

Cerita ini terpantik oleh pengalaman saya mengikuti kegiatan Baileo, Kelas 10 KPB pada hari Rabu tanggal 24 Mei 2023. Pada hari itu, Baileo melakukan kelasnya di satu pemukiman di Dago bernama Kampung Sekepicung, tepatnya, di suatu tempat di mana ada komunitas bernama Rumah Baca Mentari, komunitas yang dikelola oleh pasangan Pak Lala dan Bu Dewi, warga lokal yang punya perhatian terhadap literasi dan lingkungan.

Menariknya, komunitas itu saat ini sedang redup, dalam arti kegiatan kelas belajar gratis untuk anak-anak, perpustakaan gratis, dan berkebun yang dulu rutin dilakukan Rumah Baca Mentari saat ini sedang tidak berjalan, karena masih terbawa dampak pandemi kemarin. Makanya sejak awal saya bertanya-tanya, lho, lalu bagaimana ya teman-teman Baileo bisa belajar dari komunitas yang komunitasnya sedang redup? Sampai saya merasa beruntung bisa mengikuti langsung kegiatannya pada hari itu, yang menyadarkan saya bahwa pertanyaan di benak saya sebelumnya ternyata adalah satu kealpaan tersendiri, sebab saya sempat memandang sempit makna belajar itu sendiri yang padahal, guru terbaik adalah pengalaman dan pengalaman terbaik adalah pengalaman yang disadari keberhargaannya.

WhatsApp Image 2023-05-29 at 22.01.31.jpeg

Baileo Merespon Sampah

Kelas dibuka pukul 8.00 dengan duduk melingkar di atas karpet kecil di dalam area perpus, saya sebut area perpus karena karpet itu tepat di samping rak berisi buku-buku yang ternyata adalah hasil dibereskan teman-teman Baileo pada pekan-pekan sebelumnya. Setelah melingkar, Kak Maul sebagai fasilitator menggulir percakapan kecil seperti menanyakan kabar, membahas satu-dua anggota Baileo yang belum datang, selanjutnya dimulai lah waktu hening dan lalu berdoa. Tidak lama kemudian, saat setelah doa dilakukan anggota Baileo lain yang terlambat akhirnya datang, menceritakan kenapa mereka terlambat dan lengkap lah semuanya. Obrolan lalu berlanjut ke hal yang lebih apa yang akan mereka lakukan hari ini, bagaimana situasi pagi itu seperti ternyata baik Pak Lala maupun Bu Dewi masih memiliki urusan di rumahnya, sampai akhirnya diputuskan bahwa dari dua target hari itu, beberes kebun depan didahulukan, dan persiapan menuju agenda acara ngeliwet mendatang menunggu Bu Dewi yang pagi itu belum luang untuk ditemui.

Penerapan disiplin waktu mulai kelas jam 8.00 menjadi penting, sekalipun sederhana, biar pun kegiatan hari itu terasa seperti tidak formal, ‘hanya beberes halaman’ dan ‘hanya prepare masak’, namun, kesadaran bahwa hal sederhana dan sangat sehari-hari pun pada kehidupan nyata nyatanya juga memang perlu kedisiplinan diri.

Momen ini mengingatkan saya pada percakapan lain yang terjadi di grup teman seangkatan sekolah saya akhir-akhir ini, di mana tips paling ampuh yang selalu disarankan ke beberapa teman yang sedang kesulitan mencari pekerjaan adalah dengan tetap melakukan rutin seperti seseorang yang bekerja, melakukan aktifitas sedari pagi sampai sore, apapun itu, entah belajar sesuatu meningkatkan kapasitas diri atau riset dan mengirim portofolio ke berbagai tempat, sekalipun ia masih sebagai pencari kerja. Intinya, kondisi menganggur itu soal lain, tapi kesadaran tentang melatih diri untuk disiplin adalah keharusan dan hal ini lah yang saya lihat dilakukan Baileo pada hari itu: tetap punya kesadaran disiplin waktu meski dalam kegiatan yang tidak formal.

Beberes kebun depan dimulai. Beberes ini punya kaitan khusus dengan agenda ngeliwet mendatang, tentu saja biar ngeunaheun, karena tidak mungkin kan acara makan liwet bersamanya akan enak kalau pemandangan di depannya ada tumpukan sampah? Jadi tepat di depan bangunan Rumah Baca Mentari ini ada sehalaman yang jadi kebun labu, di sana juga ada rak bambu buatan teman-teman Baileo untuk disimpan pot-pot kecil tanaman. Nah, di halaman yang dijadikan kebun itu juga ada setumpuk sampah dari berbagai jenis sampah. Teman-teman Baileo sudah membawa sarung tangan dan memakai peralatan milik Pak Lala seperti sekop, cangkul, dan golok. Merespon tumpukan sampah itu, teman-teman Baileo mengambil langkah yang terlampau praktis: ayo kita buat lubang di tanah, satu lubang untuk sampah organik, satu lubang lagi untuk tempat membakar sampah non organik. Saya mengamati momen ini dengan sesekali melibatkan diri membantu teman-teman Baileo yang secara berkolektif mengerjakan itu. Semuanya mengambil tugas bergantian. Pertama-tama membabat sedikit area dari tanaman labu yang masih ada di atasnya, aksi yang sudah mendapat izin dari Pak Lala sebagai empunya kebun, dan pada kegiatan ini lah terbuka serangkaian percakapan penting itu:

Ini gak apa-apa ya kita babat tanaman labunya?
Sampah-sampahnya banyak, harus kita pisah juga nih yang plastik, puntung rokok, dan daun-daun.
Kenapa ya sampahnya harus ditumpuk begini?
Lubangnya sedalam apa, ya?
Dua-duanya sama atau beda ya kedalamannya?

WhatsApp Image 20230529 at 21.58.07 1.jpegFoto dokumentasi Baileo, dikirim kepada saya sebagai panduan ke Rumah Baca Mentari.

Pertanyaan di atas bergulir di teman-teman Baileo di antara kegiatan mencangkul tanah, membabat, mengumpulkan tanaman labu yang sudah dibabat, dan meraparasi besi cangkul yang lepas dari gagangnya. Pak Lala sempat muncul di tengah-tengah kegiatan, setelah menyapa kami Pak Lala pertama-tama menyebutkan tentang gak apa-apa sebagian tanaman labunya harus diikhlaskan untuk dibabat, karena memang mengelola tumpukan sampah lebih prioritas, hal yang membuat teman-teman Baileo merasa lebih yakin untuk melanjutkan proses pembabatan itu. Momen ini jelas penting karena pada awalnya sebelum Pak Lala muncul, informasi tentang izin itu sebetulnya sudah diceritakan Kak Maul, tapi saya melihat ada sedikit keraguan dan keraguan ini justru tanda bahwa ada kesadaran tentang etika sosial pada teman-teman Baileo, selain juga mungkin ada pertimbangan etika lingkungan karena harus membabat tanaman. Pak Lala juga lalu bercerita tentang tumpukan sampah itu, yang disimak oleh teman-teman Baileo termasuk saya. Pak Lala bilang bahwa sampah-sampah ini sebetulnya adalah sampah gabungan dari miliknya dan beberapa rumah sekitar, jadi bukan hanya dari rumah Pak Lala saja, tapi yang menjadi masalah adalah karena selama ini yang dilakukan baru membakarnya, dan hanya Pak Lala saja yang rutin membakarnya, tetangga lain yang ikut menumpuk sampah di situ tidak. Sehingga sering kali, seperti hari itu, yang menumpuk sebenarnya bukan sampah dari rumah Pak Lala, dan jadi menumpuk begitu saja. Dijelaskan lagi bahwa kenapa tidak diangkut petugas sampah, misalnya, itu karena medan menuju area ini tidak memungkinkan untuk dijangkau oleh gerobak sampah. Sedikit gambaran, jika warga Smipa dan pembaca sekalian suatu hari bisa berkesempatan ke sini, tempat ini memang harus melalui pudunan curam yang cukup panjang dan hanya bisa dilalui motor atau berjalan kaki. Sedikit intermezzo, pada hari itu bahkan motor butut yang saya gunakan sampai harus ke bengkel sepulang dari sana. Jadi memang betul tentang tidak memungkinkannya petugas sampah menjangkau area ini.

WhatsApp Image 2023-05-29 at 21.58.07.jpeg
Foto dokumentasi Baileo, dikirim kepada saya sebagai panduan ke Rumah Baca Mentari.

Singkat cerita dua lubang sudah tergali dan tumpukan sampah siap dipisahkan untuk disimpan dan dikubur. Waktu sudah hampir jam 10.00. Saya mencerna momen penjelasan Pak Lala tadi yang disimak teman-teman Baileo dan kemudian lanjut mengerjakan misi sampah mereka sampai selesai. Ternyata teman-teman Baileo pun mencerna dan.. Oh, geuning ini teh sampah dari banyak rumah, ya? Ujar Zalika ke teman-teman lainnya dan bergulir lah momen percakapan-oh-geuning yang berulang-ulang mirip Eureuka Moment atau Aha Moment yang telah kita kenal telah dialami oleh Newton bahkan sampai Archimedes. Kenapa saya menganggapnya serupa? Sebab momen merespon tumpukan sampah ini, akhirnya sempat menjadi rumit di satu sisi, karena pada saat fakta lapangan itu sampai pada teman-teman Baileo:

Oh, geuning kondisinya kayak begitu ya.
Oh, geuning sampah yang harusnya diangkut petugas sampah karena medannya susah jadi gak bisa ya.
Oh, geuning ternyata kesadaran lingkungan teh gak semua orang punya ya.
Oh, geuning dengan kondisi warga yang seperti ini apa yang kita lakukan teh udah berharga banget.

Pada akhirnya tidak menjadi menyalahkan warga tapi memaknai apa yang bisa dilakukan saat ini. 

Dan bukan hanya teman-teman Baileo, yang pada hari itu barangkali mendapatkan momen-oh-geuning itu, tetapi juga saya.

Oh, geuning...sekalipun, katakan lah standar kesadaran lingkungan kita sudah baik, tetapi ketika berada di satu komunitas, di tengah masyarakat, kita yang mungkin punya banyak cara-cara canggih yang kita telah ketahui, kita mempunyai kesadaran lingkungan yang telah terbiasakan sejak lama, ternyata pengetahuan dan kebiasaan kita itu tetap harus dinegosiasikan dengan situasi spesifiknya. Bukan berarti dasar pengetahuan kita menjadi percuma hanya karena pada saat itu apa yang kita tahu tidak bisa diterapkan. Tidak ada langkah baik masa lalu yang percuma, dengan kita bisa mengambil pelajaran pada setiap langkah baik saat ini yang kita lakukan. Seperti yang Baileo lakukan pada hari itu, melakukan kegiatan sederhana yang menjadi sangat berharga karena dilakukan keberhargaan pengalaman itu bisa disadarinya dengan tulus.

Untuk teman-teman Baileo.. Ezar, Flafi, Zalika, Abigail, Adrien, Mika, Milo, Kenza, dan Kak Maul, semoga agenda liliwetannya di komunitas Rumah Baca Mentari di Sekepicung, agenda bareng komunitas Braga Heritage, dan agenda lain di TP18 ini berjalan lancar!

maulrest
@maulrest   3 years ago
Mantap tulisannya Kak Naufal. Terima kasih juga sudah merespon kegiatan Baileo dengan tulisan yang komprehensif ini 😁
Naufal
@naufal   3 years ago
Nuhunz sudah baca, kakz!
Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Sepakat. Tulisan keren ka Naufal. Bagus perspektifnya. 🙏😊
Naufal
@naufal   3 years ago
Sip kak, nuhun atas responnya. 🙏🏽