AES0003 Mengamati Praktik Sekolah Holistik Selama 3+1 Hari (I)
Naufal
Monday May 29 2023, 10:38 PM

Tulisan ini pada awalnya adalah tulisan laporan observasi yang saya kirimkan kepada Kak Andy, setelah saya melakukan proses observasi sebelum akhirnya masuk ke tahap magang. Diunggah ke Ririungan seturut saran dari Kak Andy yang saya terima, yaitu agar warga Smipa dan pembaca sekalian dapat juga membacanya. Selamat menyelami observasi saya^^

cr18_1_1_.jpg

Terima kasih untuk Kak Maya, Kak Ima, Kak Asep, Kelompok Panjang (SD 6), Kak Puti, Kak Iyan, Kelompok Nuwo Pesat (SD 5), Kak Andy, Kak Bayu, Kak Arsyil, Kak Hanif, Kelompok Joglo Lawakan (SMP 8), Kak Robert, dan Kak Diki atas setiap pertanyaan, penjelasan, apresiasi, masukan, dan setiap interaksi selama saya melakukan observasi dalam 4 hari di SD 6, SD 5, SMP 8, dan Jabawaskita di 1 hari terakhir.

  

Sekapur Sirih

Mulai hari Selasa (2/5) saya datang ke Smipa untuk melakukan observasi, dari jam 07.15 sampai 12.30, kecuali di hari ketiga yang kelas baru ditutup jam 13.00. Pada hari pertama saya berkesempatan mengikuti kelas SD 6 dengan pertama-tama bertemu Kak Maya sebagai koordinator jenjang SD Besar, lalu kemudian mengikuti rangkaian kelasnya di hari itu bersama Kak Ima dan Kak Asep sebagai fasilitator kelasnya. Sedikit beruntung bagi saya, karena di hari pertama ini anak-anak yang saya ikuti kelasnya, sudah saya kenal sepintas sebelumnya di program kolaborasi mereka dengan sebuah projek teater museum yang saya ikuti pada bulan Februari lalu. Saya mengikuti serangkaian kegiatan kelas dari mulai melingkar sebelum berdoa dan waktu hening di awal aktivitas, sampai melingkar dan berdoa di akhir kelas. Begitu juga pada hari kedua, di kelas SD 5 bersama Kak Puti dan Kak Iyan sebagai fasilitatornya, dan kelas SMP 8 bersama Kak Hanif yang mengajar matematika, dan Kak Bayu dengan Kak Arsyil sebagai fasilitatornya pada hari ketiga. Saya lebih memilih untuk lebih banyak mengamati secara berjarak di satu sisi, tapi juga mencoba melebur atau mendekat pada saat-saat tertentu di sisi lain dalam mengumpulkan informasi selama proses observasi. Laporan yang akan saya paparkan adalah hasil amatan saya yang akan berurut, dari hari pertama ke hari terakhir (melalui gambaran umum dan uraian dalam empat aspek yaitu kegiatan, suasana, anak, dan fasilitator), dan simpulan atau benang merah dari keseluruhan amatan saya selama empat hari.

 

Hari Pertama Kelompok Panjang Setelah Libur Panjang. Hari Pertama Observasi.

Setelah libur panjang hari raya idulfitri, hari itu adalah hari pertama sekolah, termasuk untuk anak-anak di Kelompok Panjang atau kelas SD 6. Kelompok Panjang adalah nama dari kelas SD 6, jadi, di Semi Palar salah satu keunikannya adalah menamai tiap kelasnya dengan nama tertentu yang nama itu akan berhubungan dengan tema yang akan dijalankan. Tema sendiri adalah satu sistem yang dipakai untuk memandu jalannya kelas, dalam satu semester terdiri dua tema dan dalam setiap temanya akan berhubungan dengan berbagai mata pelajaran. Makanya tidak heran mengapa dalam ‘satu jam pelajaran’ (istilah di sekolah formal) di Smipa, kita bisa melihat ragam mata pelajaran bergulir sekaligus.

Suasana bersahabat langsung dirasakan sebagai kesan pertama, kelas dimulai dengan duduk melingkar lesehan, dengan tanpa alas kaki. Tas dan sepatu disimpan di rak di depan ruang tengah di samping kelas. Ketika melingkar Kak Ima dan Kak Asep menggulirkan percakapan begitu saja, ngobrol sewajarnya ngobrol dengan anak-anak. Baru setelah beberapa saat, satu anak diminta memimpin doa. Sesi doa yang lebih baik dari sesi doa yang saya jalani bertahun-tahun saat sekolah dulu: doa yang tulus, memakai bahasa sendiri, dan itu ternyata terasa lebih hikmat.

Ada sesi waktu hening selama 8 menit. Ini adalah sesi di mana setiap orang dalam lingkaran (termasuk kakak fasilitator, bahkan saya juga) duduk bersila dengan badan tegap, mata ditutup, dan kita harus mengatur nafas kita sendiri dalam waktu 8 menit. Selama sesi ini, saya yang agak-agak penasaran mengintip melihat Kak Asep sempat bangun dari waktu heningnya untuk berkeliling, membetulkan posisi tubuh beberapa anak yang terlihat tidak betul, entah itu terlalu membungkuk atau goyang-goyang. Saat satu anak yang ditunjuk memberi aba-aba selesai, semua membuka mata. Lalu kemudian, karena kebetulan hari itu adalah hari pertama sekolah lagi setelah libur panjang, Kak Asep memantik diskusi tentang manfaat waktu hening–yang telah anak-anak jalani sejak kelas 1. “Ada yang tau gak apa manfaat kita waktu hening? Jangan-jangan pada lupa, ya? Terus kalau manfaatnya gak tau, gak peduli sama maknanya, gak ada artinya dong tadi kita melakukan waktu hening, ya?” kata Kak Asep ke semuanya, yang membuat anak-anak jadi meresponnya, dan bergulir lah diskusi tentang manfaat waktu hening yang sempat tidak dilakukan karena libur, makanya beberapa anak seperti lupa memaknainya.

Kelas ini, anak-anaknya sedari awal banyak yang energinya besar, antusias dengan obrolan, dan tidak sulit saat dipantik untuk berbicara. Seperti sesi kenalan saya di mana saya dikeroyok pertanyaan mulai dari alasan mendaftar jadi calon guru di Smipa, cita-citanya apa, sampai profesi sebelumnya apa. Antusiasme yang bersahabat bahkan saat setiap pertanyaan itu saya jawab. Kelas lalu masuk sesi di mana Kak Ima dan Kak Asep meminta tiap anak bercerita satu hal menarik yang spesifik tentang liburan dan menyebutkan dua teman yang dikangenin beserta alasannya. Keona jadi anak pertama dari total 15 anak yang mengajukan diri untuk cerita duluan. Keona cerita tentang liburannya ke Jogja, adik yang berisik selama di jalan, lalu akhirnya ke pantai, dan beberapa hal yang tidak tercapai seperti jumlah THR yang sedikit. Di tengah ceritanya, Keona diselah Kak Asep dan diingatkan kalau cerita yang diminta itu tentang satu hal dan yang spesifik. Kak Asep juga menjelaskan alasannya, selain agar belajar terstruktur dalam bercerita tapi juga karena kalau semua orang di kelas itu cerita lebih dari satu hal yang menarik, secara waktu akan sangat lama. Akhirnya Keona berpikir sejenak, lalu dia mengingat tentang bertemu pelukis dan ketika bertemu dia sempat mewawancarai pelukis itu yang hasil tulisannya pun dibayar. Keona lalu diminta Kak Ima menyebut siapa dua teman di kelas yang dikangenin beserta alasannya, Keona menyebutkan Bia karena lama tidak bertemu dan Halid karena kangen ngatur Halid yang susah diatur. Teresha lalu jadi anak kedua yang bercerita dan artikulasi jadi hal yang dikomentari kakak fasilitator. Dilanjut dengan cerita Aikha, Faris, Binar, Abi, Cinggar, Dylan, Bia, Jio, Sena, Revina, Marvel, Kristo, sampai Kak Ima dan Kak Asep juga. Saya menangkap makna yang lebih luas dari sesi ini. Pertama saat melihat cara kakak fasilitator menanggapi penceritaan tiap anak, dengan suasana yang tetap bersahabat tapi tetap punya orientasi kualitas bercerita (bukan judgemental pada konten ceritanya, tapi cara menceritakannya) dan selain itu, permintaan untuk menyebut dua nama teman yang dikangenin di kelas (yang harus terdiri dari laki-laki dan perempuan) juga menjadi menarik. Di saat sebagian anak, terutama anak laki-laki menolak untuk menyebutkan teman perempuan dengan alasan tidak ada. Dalam momen itu, kakak fasilitator kemudian berperan sebagai penetral bahwa teman yang dimaksud, sekalipun itu lawan jenis, bukan dalam arti suka, karena kesukaan itu privasi, tapi yang kakak maksud itu bisa siapa pun karena alasan apapun. Bisa karena sebal, kesal, atau kenangan yang ada hubungannya dengan orang itu. Setelah bergantian dijelaskan oleh Kak Ima dan Kak Asep, dengan juga respon beragam dari anak lainnya, beberapa anak yang tadinya menolak itu akhirnya mau menyebutkan nama temannya. Artinya guliran yang diciptakan kakak fasilitator sekalipun sempat menemui penolakan, tapi penolakan itu bisa dikelola oleh kakak fasilitator dengan berhasik, karena uraian yang disampaikan akhirnya memberi anak inspirasi sampai bisa mau menyebut teman lawan jenis yang awalnya tidak mau.

Sesi di atas juga tidak ngeguluyur begitu saja, menariknya di tengah-tengah sesi cerita bergiliran, ketika suasana mulai kurang kondusif dan beberapa anak mulai tidak fokus, Kak Ima mengusulkan untuk break sejenak dan mengajak semuanya berdiri untuk melakukan gerakan dan pose secara bergantian. Ini lumayan efektif untuk mengambalikan suasana kelas waktu itu, karena baru sebagian anak yang bercerita, sebagian lagi belum. Menurut saya pengelolaan suasana ini bisa dengan mudah dilakukan, karena suasana duduk lesehan tanpa alas kaki juga menjadi faktor penentunya. Kelas rehat untuk bersiap melanjutkan projek. Saat itu, beberapa anak memimpin anak lainnya untuk mengatur kursi dan meja kelas, dengan letter u dan satu meja-kursi untuk kapten di tengah. Tiap meja lalu ditaruh dengan diorama mereka masing-masing, karya yang dimaksud bagian dari proyek oleh Kak Asep dan Kak Ima sebelumnya. Kak Asep lalu bilang kalau sesi ini akan berlangsung tanpa asistensi dan mandiri. Kegiatan lalu dimulai. Merancang listrik lampu projek, berhadapan dengan per, kabel, lem, batrai, dudukan batrai, dan mengatur posisi rancangannya adalah hal yang dihadapi tiap anak di Kelompok Panjang pada saat itu. Isi dioramanya sendiri bermacam-macam, tapi semuanya sama-sama tokoh sejarah. Mulai dari Gajah Mada, Gusdur, sampai Christina Martha Tiahahu, dst. Hasil bertanya pada Kak Asep dan Kak Ima di ruang tengah, tentang tokoh sejarah siapa yang dipilih si anak adalah tokoh yang berkaitan dengan dirinya secara personal. Satu hal yang luar biasa, karena sejarah yang biasanya membosankan jadi sangat seru apalagi pengaitannya dengan diri sendiri, membuat pengajarannya jadi dekat.

Suasana pengerjaan proyeknya cair tapi juga tekun, memang ada beberapa anak yang kadang hilang fokus dari dioramanya, tapi di tengah-tengah itu Kak Ima maupun Kak Asep memberi peringatan tentang pentingmya target, panduan pengerjaannya, dan fokus saat ini: uji coba apakah yang dibuat sama dengan rancangan, kalau sama kenapa bisa sama? Kalau beda, mengapa bisa beda?

Di tengah-tengah kegiatan, Halid yang baru kembali dari kamar kecil masuk kelas dengan berlari dan hampir menabrak beberapa anak. Kak Asep yang melihat dengan lugas menyela Halid, “Halid? Jalannya yang bagus, ulangi” dan tak lama kemudian Halid mengulangnya lagi, berjalan dengan agak berlari dan tergesa-gesa. Kak Asep lalu meminta Halid waktu hening ke ruang tengah. Saya yang penasaran sampai mengikuti Halid, untuk melihat apakah ‘sanksi’ yang diintruksikan Kak Asep diterima oleh Halid dengan baik, dan ternyata ya. Halid melakukannya. Saya terkesan bagaimana momen ini bisa saya saksikan, ternyata penerapan kedisiplinan tidak melulu harus dibangun oleh cara-cara kaku yang kadang sarat kekerasan.

Pengerjaan projek terjeda oleh istirahat. Saya dipersilakan makan bekal bergabung bersama anak-anak. Momen yang ternyata sangat membuat saya belajar, karena hari itu saya bekal mie goreng. Sekalipun mie goreng yang saya bawa ada topingnya, saya kurang peka bahwa itu akan jadi contoh kurang baik bagi anak-anak. Sesuatu yang betulan terjadi, pada awalmya Sena dan Dylan bertanya apa bekal yang saya bawa, dan saya bilang mie dengan telur, bakso kepiting, nugget dan sawi. Seketika Dylan diam dan tiba-tiba Aikha bilang “di Smipa kita dimarahin kalau bawa mi instan, karena nggak bergizi”. Saya dengan sedikit kaget, menjawab bahwa, benar mie itu tidak sehat makanya kenapa harus diimbangi dengan protein dan tidak boleh terlali sering. Tapi Aikha dan Dylan, malah lalu berdebat karena Dylan yakin itu bukan larangan. Saya lalu minta maaf ke mereka, saya sudah bekal mi instan dan mereka bilang tidak apa-apa. Dari kejadian ini saya belajar bahwa jika kelak saya diterima menjadi fasilitator, kepekaan sangat penting, dan tiap anak akan selalu bertanya kapan pun maka kakak fasilitator harus siap menjawab itu. Dalam kasus saya bekal mi hari itu, saya memang tidak berekspektasi akan makan bekal bersama anak-anak, namun kesalahan saya memang saya tidak peka bahwa mi adalah jenis makanan yang kita tau kurang baik, khususnya bagi anak-anak.

Istirahat selesai, anak-anak dan kakak fasilitator kembali ke kelas. Sesi ini lalu dibuka dengan dilanjutkannya kegiatan projek sebelumnya. Kak Ima meminta tiap anak cerita tentang progress, trouble, dan rencana di rumah. Menarik saat tiap anak diminta “berapa persen?” pada akhir mereka menjelaskan progressnya, saya terkesan bagaimana tiap anak diajak membayangkan progress dirinya sendiri melalui perkiraan angka persentase. Selain ada tanggung jawab, di momen itu juga tiap anak belajar berargumen dan menyelami kegiatan yang mereka lakukan. Ada satu momen penting saat itu, ketika Dylan bingung ditanya presentase progressnya. Alasannya, karena satu lampu tidak menyala padahal sudah diganti beberapa kali. Dylan merengek karena dia merasa gagal dan pekerjaannya harus diulang. Yang menarik adalah cara Kak Asep mengurai kenapa Dylan sebetulnya tidak perlu mengulang, tapi cukup memeriksa lagi rancangan kabelnya secara bertahap. Saat Dylan masih sedikit merengek karena masih merasa gagal, Kak Asep menegaskan bahwa sebetulnya inti dari projek ini bukan lampunya nyala atau tidak, tapi Dylan bisa paham atau tidak tentang prosesnya. Ini jadi hal yang penting bagaimana Smipa sangat menghargai proses alih-alih hasil akhirnya saja.

Di akhir hari, kegiatan ditutup setelah permainan fisik ucing bola dilakukan. Seru dan asiknya, kakak fasilitator, termasuk saya juga, ikut dalam permainan. Jadi bukan hanya sekadar main-main motorik, kegiatan ini yang saya tangkap ada unsur kompetitifnya, belajar adilnya, dan apresiatifnya.