Tulisan ini pada awalnya adalah tulisan laporan observasi yang saya kirimkan kepada Kak Andy, setelah saya melakukan proses observasi sebelum akhirnya masuk ke tahap magang. Diunggah ke Ririungan seturut saran dari Kak Andy yang saya terima, yaitu agar warga Smipa dan pembaca sekalian dapat juga membacanya. Selamat menyelami observasi saya^^
Cacah Waktu dan Peran Anak untuk Menentukan. Hari Kedua Observasi.
Di hari kedua, Rabu (3/5) saya mengikuti kelas SD 5 yang bernama Nuwo Pesat. Sama seperti di Kelompok Panjang, suasana awal kelas dibuka dengan melingkar, lalu kakak fasilitator mengobrol dengan cair dengan anak-anak seputar hal-hal kecil. Kemudian dilanjutkan waktu hening 8 menit dan berdoa. Secara karakter Kelompok Nuwo Pesat cenderung tidak seenerjik SD 6, lebih kalem dan tenang. Kegiatan dimulai dengan membagikan hasil review, kakak fasilitator tidak menyebutkan siapa nilainya berapa, tapi memanggil anak satu persatu dan di akhir hanya menyebut siapa yang top three saja. Setelah itu baru masuk ke kegiatan Alam Rintang. Kegiatan yang dilakukan di luar kelas, yaitu di teater.
Ban-ban luar mobil yang tertumpuk di teater diminta Kak Iyan dan Kak Puti untuk anak–anak susun jadi sebuah rintangan. Tanpa diintruksi lebih, beberapa anak menyusunnya setelah berpikir, mempertimbangkan, dan diskusi sebentar dengan temannya. Tersusun lah rintangan yang mengharuskan tiap orang lompat dari ban pertama ke ban kedua, lalu merayap masuk ke ban yang berdiri, melompat lagi dua kali ke dua ban di depannya, naik ke dinding atas, kemudian turun lagi ke teater untuk berjalan bergelinding bersama bannya. Tiap anak diberi kesempatan untul melalui semua rintangannya sesuai gaya masing-masing dan di sesi kedua, tiap orang dihitung secara waktu dan dilihat siapa yang pemenangnya.
Kegiatan kemudian kembali ke kelas, setelah semua cuci kaki dengan saling antre rapi menunggu giliran. Kursi ditata secara berhadapan (dua baris) dan anak-anak duduk. Oh ya saya di hari kedua baru menyadari bahwa konsep kelas yang secara default lesehan, dan meja-kursi diset di waktu-waktu tertentu saja sebagai cara bukan hanya untuk membuat suasana lebih santai, tapi ada kesadaran ruang dan motorik yang baik yang akhirnya dilatih pada anak-anak.
Kak Puti dan Kak Iyan menggulirkan diskusi bahwa kegiatan saat ini adalah cacah waktu projek pagelaran yang sedang berjalan. Bahasan cacah waktu ini harus dimulai dengan membahas dulu progress, kekurangan, dan to-do-list tiap kelompok. Dari seluruh anak dibagi dua kelompok, kelompok nari dan kelompok musik. Sambil anak-anak diskusi di kelompoknya, kakak fasilitator menulis kolom hari dari minggu ke 14 (hari itu) sampai minggu ke 18 (target gladi & pentas) sambil berkeliling membantu guliran diskusi di tiap kelompoknya.
Kelompok musik membahas bagaimana reff lagunya, bagaimana liriknya, nadanya, pembagian siapa yang main instrumen siapa yang nyanyi, pilihan genre, kapan latihan; dan kelompok nari membahas instrumen, rencana mix lagu, properti, konsep yang berperan jadi pohon, desain kostum, dan pembuatannya. Kak Puti dan Kak Iyan berkeliling sambil mengurai bahwa mereka harus menentukan step dan kemudian tiap kelompok presentasi dan saling menanggapi. Setelah tiap step tersusun, hal menarik adalah momen yang menyadarkan saya bahwa cacah waktu bukan sekadar penjadwalan/pengumuman jadwal. Tapi ada pemberian peran pada anak-anak dalam menentukan jadwal mereka sendiri, berdasarkan pertimbangan yang mereka baru saja diskusikan. Diskusi cacah waktu dibuka dengan pertanyaan Kak Iyan, “temen-temen mau ngapain di hari Jumat?” yang berlanjut ke penentuan jadwal empat minggu ke depan kegiatan mereka.
Kegiatan lalu berlanjut menuju perpustakan, Jabadipus, atau Jam Baca di Perpustakaan. Saat masuk ruang perpus, anak-anak dan kakak fasilitator, termasuk saya duduk melingkar. Hari itu, petugas perpustakaannya kebetulan sedang tidak masuk. Saya melihat semuanya langsung melihat sekeliling dan tak lama Kak Iyan dan Kak Puti menggulirkan tentang rencana mengirim surat ke Kak Andy berisi desain, saran, dan kritik soal kondisi perpustakaan. Ternyata kondisi perpustakaan sebelum libur tidak sebersih dan belum tertata seperti hari itu. Sehingga bergulirlah percakapan dari ruangan perpustakaan yang sedang mereka lihat, dibandingkan dengan ingatan sebelumnya. Komentar bahwa penataannya yang lebih bagus, kursi warna-warni yang sudah tidak ada ternyata berpengaruh membuat ruang jadi lebih leluasa, pajangan yang dipajang tidak terbengkalai lagi, sampai ventilasi jendela atas yang dibuka. Hal-hal tersebut berasal dari anak yang berbeda, menarik melihat bagaimana anak-anak Nuwo Pesat bisa mengomentari itu. Selain menjadi bentuk dari kepekaan, tapi kesadaran akan lingkungan hidup dan juga yang paling penting koneksi anak-anak dengan sekolahnya sendiri; di mana, komentar-komentar itu akan diejawantahkan menjadi isi surat yang akan dikirimkan ke Kak Andy sebagai koordinator sekolah. Satu momen yang membuat saya terkesan, karena pengajaran surat menyurat (mata pelajaran Bahasa Indonesia) bisa diajarkan lewat praktik yang tidak berjarak, tapi dengan laku sungguhan (membuat surat resmi betulan).
Karena Jabadipus, guliran diskusi surat tadi berganti menjadi kegiatan membaca dan refleksi di akhirnya. Ada satu kejadian pada sesi ini, di mana, satu anak bernama Bagir menulis ulasan buku yang dia baca bukan di jurnalnya, tapi di kertas selembar. Alasan Bagir karena bukunya hilang. Saya melihat bagaimana kakak fasilitator menghadapi ini, di mana pada akhirnya ternyata bukunya Bagir ada di dalam tas, Kak Puti dan Kak Iyan bergiliran menyelesailan persoalan Bagir ini dengan: mendengarkan keterangan, meruncingkan alasan-alasan Bagir, dan membantu Bagir menyimpulkan. Saya menangkap dua hal di sini: penerapan disiplin pada hal yang terlihat sepele dan menghadapi ketidakdisiplinan anak dengan cara yang bersahabat namun tetap berorientasi penyelesaian masalah yang mandiri.