AES0005 Mengamati Praktik Sekolah Holistik Selama 3+1 Hari (III)
Naufal
Monday May 29 2023, 11:04 PM

Tulisan ini pada awalnya adalah tulisan laporan observasi yang saya kirimkan kepada Kak Andy, setelah saya melakukan proses observasi sebelum akhirnya masuk ke tahap magang. Diunggah ke Ririungan seturut saran dari Kak Andy yang saya terima, yaitu agar warga Smipa dan pembaca sekalian dapat juga membacanya. Selamat menyelami observasi saya^^

cr18_1_1_.jpg

Pintar-pintar Cari Celah. Argumen dan Kontribusi. Observasi Hari Ketiga.

Masih sama seperti di jenjang SD, dibukanya kelas masih dengan duduk melingkar tanpa alas kaki, chit-chat ringan kakak ke anak-anak, berdoa dan lalu waktu hening. Kegiatan pertama di kelas SMP 8 yang bernama Joglo Lawakan itu ternyata matematika. Pada saat itu juga baru saya tau kalau di jenjang SMP, khusus pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan olahraga difasilitasi oleh kakak lain di luar kakak fasilitator kelasnya. Jadi pagi itu selain Kak Bayu dan Kak Arsyil, juga ada Kak Hanif yang akan memfasilitasi matematika.

Kelas yang difasilitasi Kak Hanif jadi momen pertama saya secara seksama mengamati bagaimana perbedaan treatment memfasilitasi kelasnya dengan jenjang SD. Suasana awal yang terasa bahwa usia SMP 8 adalah masa-masa remaja menuju remaja akhir. Terasa bagaimana tiap anak seperti sudah ngegenk (punya teman dekat masing-masingnya di kelas) dan curi-curi ngobrol menjadi hal yang lumrah, sekaligus jadi tantangan untuk kakak fasilitatornya. Berbeda dengan SD yang masih bisa untuk selalu diintervensi langsung, entah itu dengan pantikan, nasihat, atau bantahan yang lugas di tiap momennya. Saya melihat ada usaha lebih yang harus dilakukan yaitu pintar-pintar cari celah untuk menetralkan kondisi kelas, misalmya untuk membuat anak-anak bisa fokus pada kegiatan.

Saat itu kelas matematika membahas materi piramida. Kak Hanif membawa alat bantu yang berupa model piramid yang dibuat dari karton berukuran besar dan balok-balok mahjong yang tidak asing bagi anak-anak. Alih-alih hanya menjelaskan soal rumus saja, perhatian anak-anak menjadi penuh ke kegiatan kelas ketika Kak Hanif menyisipkan cerita tentang sejarah cubit dan feet, sebagai sistem ukur sebelum ada penggaris, dengan menggunakan lengan dan kaki raja inggris. Dengan bahasa sehari-sehari seperti “salah sorangan make leungeunna jeung ngukur (salah sendiri pakai tangannya untuk sistem ukuran)”, merespon celetukan anak soal, memangnya ukuran lengan (cubit) tiap orang sama? Berubah-berubah dong, kak? dan seterusnya. Dari sana Kak Hanif mulai mengurai logika bagaimana rumus limas bisa muncul dan mengajak anak-anak melakukan percobaan dengan menggunakan balok-balok mahjong. Ini sangat menarik, karena anak-anak didorong bukan saja untuk berpikir hitungan, tapi juga imajinasinya. Sampai akhirnya percobaan balok mahjong itu dilakukan dengan antusias dan diurai kembali bahwa penemu rumus limas itu juga melakukan praktik yang sama, dengan tahap akhirnya menipiskan balok-balok mahjong itu hingga bisa berbentuk limas (dari bentuk awalnya yang kotak-kotak). Di tengah-tengah itu Kak Hanif lalu melempar soal, sebagai cara mengulang ingatan tentang rumus, sambil berkeliling Kak Hanif menghampiri hampir tiap anak. Pada akhir saat jam matematika akan habis, Kak Hanif memberi pengumuman bahwa hasil review Algoritma harus diulangi karena hasilnya dianggap masih banyak yang belum paham. Sementara Algoritma adalah pengetahuan penting yang akan dibawa hingga tua. Namun yang menarik, bukan langsung memutuskan untuk tes baru atau remedial, Kak Hanif meminta semua anak untuk menuliskan dua poin: 1) Bagian mana dari penjelasan Kak Hanif tentang Algoritma yang paling kamu tidak mengerti? 2) Bagian mana dari penjelasan Kak Hanif tentang Algoritman yang paling kamu mengerti?. Cara Kak Hanif ini membuatnya memberi ruang kritik dan introspeksi, bahwa kurang optimalnya pemahaman anak itu dipengaruhi oleh faktor penyampaian fasilitatornya bukan hanya pada anak kesalahannya.

Pada waktu Kak Hanif mengumumkan dan meminta tulisan tentang refleksi Algoritma pada anak-anak itu, Kak Hanif sempat izin untuk memakai waktu 10 menit istirahat anak-anak kepada Kak Bayu. Percakapan ini berlangsung terbuka di dalam kelas. Kak Bayu menolak dan mempersilakan agar waktu bahasa Indonesia saja yang digunakan, alasan Kak Bayu membuat saya terkesan, katanya jangan ambil hak istirahatnya anak-anak, satu momen yang penting sekali bagaimana cara Kak Bayu sebagai kakak fasilitator bisa memutuskan dengan bijak.

Matematika selesai lalu masuk ke kegiatan diskusi merancang konsep launching buku (kumpulan catatan projek Akulturasi Budaya (sandang, pangan, papan, sosial), Perjalanan Besar ke tiga kota: Cirebon, Pekalongan, dan Semarang). Menurut Kak Arsyil Perjalanan Besar ini adalah bentuk dari membuktikan langsung pengetahuan dan materi tentang akulturasi budaya ke sumbernya. Anak-anak dibagi jadi tiga kelompok untuk berdiskusi. Kelas riuh dan cair, kadang beberapa anak sangat acak kelakuannya dan tidak fokus. Dari sini saya melihat bagaimana kakak fasilitator di SMP harus memiliki ketenangan dan kelihaian dalam mengelola kegiatan di kelas. Menyela, intervensi, dan menjelaskan harus benar-benar disampaikan melalui cara yang harus pada celah yang tepat, ngeblend dengan halus bersama anak-anak. Saya sempat menyoroti ada dua momen di mana Kak Bayu mengucapkan diksi ‘orang gila’ dan ‘budeg’ ketika ngeblend dalam percakapan anak-anak. Diksi yang dalam sepengetahuan saya sensitif, kurang baik untuk diucapkan. Penangkapan saya mengkritisi Kak Bayu mungkin satu hal, tapi dari fenomena ini saya menangkap sebagai kakak fasilitator SMP tidak semudah itu bisa relate dan didengarkan oleh anak-anak, dengan berbagai dinamika mereka di usia remaja itu.

Pelajaran bahasa Indonesia dimulai setelah waktu istirahat. Kak Bayu menjadi pembaca untuk definisi-definisi seperti proofreading, proofreader, editing/menyunting, editor/penyunting, dan kalimat logis-tidak logis. Dalam setiap pendiktean itu, Kak Bayu menggulirkan diskusi untuk definisi yang baru disebutkan. Oh ya, sesi mendikte ini agak unik karena secara terbuka Kak Bayu bilang kalau apa yang Kak Bayu baca itu dipikirkan dan didiskusikan dulu. Definisi itu ditulis sesuai pemahaman dan bahasa tiap anak masing-masing, setelah merasa paham. Unik karena kegiatan ‘guru mendikte murid’ sudah umum di banyak sekolah, tapi bagaimana cara itu digulirkan di kelas melebarkan makna dan kualitas belajar yang lebih lagi dari sekadar menyalin yang didiktekan.

Kak Bayu juga melakukan games bersama anak-anak berupa menyebut beberapa kalimat dan tiap anak Joglo Lawakan diminta menentukan, secara berkelompok, apakah itu kalimat logis atau tidak logis, dan kenapa. Momen ini berkesan karena ternyata apa yang saya tangkap tentang anak usia SMP 8 adalah bagaimana mereka sudah bisa berargumen. Kalau di SD anak ditanya persentase dalam konteks bisa belajar mengimajinasikan apa yang dia kerjakan dan harus dikerjakan, kalau di SMP anak ditanya persentase akan dikritisi oleh kakak fasilitatornya kenapa bisa kamu menyebutnya sekian persen? Dari mana hitungannya?

Saat kelas bahasa Indonesia hampir selesai, anak-anak diminta menuliskan refleksi tentang pembelajaran hari itu. Setelah istirahat kedua, Kak Arsyil dan Kak Bayu membuka lagi kelas dan menyerahkan ke koordinator (Ara & Salvia) untuk memimpin briefing tiap divisi. Jadi saat ini Joglo Lawakan sedang dalam proses menyelesaikan tulisan dan launching untuk bukunya. Divisi dibagi menjadi tiga: divisi penulisan, ilustrasi, dan humas (acara). Sekalipun secara individu mereka semua menulis dua catatan dari hasil Perjalanan Besar, tapi mereka juga berkontribusi secara kolektif yaitu dengan mengambil tanggung jawab di kepanitiaan. Di divisi penulisan ada yang bertugas sebagai editor untuk tulisan semua teman-temannya, proofreader, ada juga yang melayout. Di divisi ilustrasi ada yang membuat cover untuk buku, membuat komik, dan menata foto-foto. Di divisi humas, karena tugas mereka menghimpum foto sudah selesai, di sesi ini mereka meramu konsep launching antara lain: bagaimana publikasinya, apa saja konten acaranya, ingin ada teater, konsep talkhsowmya seperti apa, dan seterusnya.