AES0006 Mengamati Praktik Sekolah Holistik Selama 3+1 Hari (IV)
Naufal
Monday May 29 2023, 11:09 PM

Tulisan ini pada awalnya adalah tulisan laporan observasi yang saya kirimkan kepada Kak Andy, setelah saya melakukan proses observasi sebelum akhirnya masuk ke tahap magang. Diunggah ke Ririungan seturut saran dari Kak Andy yang saya terima, yaitu agar warga Smipa dan pembaca sekalian dapat juga membacanya. Selamat menyelami observasi saya^^

cr18_1_1_.jpg

Jabawaskita dan Benang Merah Pendidikan Holistik.

Pada hari Jumat pagi (5/5) saya mengikuti kegiatan Jabawaskita. Selama 30 menit, setiap hari Jumat, Smipa memiliki tradisi baca buku bersama, bukunya bebas pilihan masing-masing, bukan hanya diikuti oleh anak semua jenjang, tapi kakak fasilitator dan kadang orangtua juga. Saya dan dua teman lain sesama calon kakak juga ikut dalam kegiatan ini. Tidak banyak interaksi, karena kegiatan ini memang baca buku bersama-sama di waktu yang sama, itu saja. Tapi ini menurut saya sangat menarik karena kesadaran literasi yang dianggap klise dipraktikan oleh Smipa dalam bentuk mentradisikannya. Ini tentu akan berbeda dengan cara mendidik yang hanya sekadar memerintahkan anak untuk rajin membaca, tanpa diberi contoh dan dibantu agar lingkungannya mendukung dengan kegiatan membaca. Selain itu, ruang yang ada di Smipa juga penting saya harus apresiasi kembali, karena sangat ramah lingkungannya, jadi memang betul-betul seperti rumah lingkungannya didesain (nyaman biar pun tanpa alas kaki).

Lalu ketika Kak Diky bertanya pada saya tentang benang merah Smipa, sejak pertanyaan itu sampai saya menulis tulisan ini adalah bagaimana perspektif holistik itu benar-benar telah saya saksikan praktiknya di Rumah Belajar Semi Palar.

Bagaimana dalam satu kegiatan itu bisa memuat berbagai mata pelajaran sekaligus. Misalnya di SD 6 bagaimana pengerjaan proyek diorama bisa memuat sejarahnya, seninya, dan fisikanya (sistem listrik), atau ketika bagaimana SD 5 saat Jabadipus bisa dibangun untuk, bukan sekadar baca buku dan membangun budaya literasi ke anak dengan berkunjung ke perpus, tapi juga didorong tentang kesadaran lingkungan hidup, yang memuat aspek kepekaan dan berani berargumen, juga ada pelajaran bahasa Indonesia juga (membuat surat sungguhan) dan bagaimana itu akan dipraktikan dalam praktik yang nyata dan tidak berjarak. Lalu misalnya juga di SMP bagaimana cara Kak Hanif, yang sekalipun itu mata pelajaran matematika, ada aspek motorik dan paparan sejarah yang digulirkan, atau praktik dari pelajaran bahasa Indonesia yang teoritik sebelumnya ke projek yang multidisiplin, yang pada akhirnya menciptakan bahwa pemahaman (mata pelakaran) yang satu akan selalu berkaitan dengan yang lain.

Koneksi dan relasi juga menjadi perhatian saya. Dimulai dari tradisi kelas yang sama di kedua jenjang, bagaimana duduk melingkar lesehan dan kakak yang membuka obrolan kecil sebelum lanjut berdoa (dengan cara doa yang natural dan jujur) dan dilanjut waktu hening sebelum kegiatan dimulai. Konsep rumah belajar benar-benar terasa sampai di dalam kelas. Kursi dan meja yang tidak selalu diset juga membuat kelas menjadi hidup, semua barang difungsikan sesuai fungsinya, dan dirapikan kembali ketika tidak diperlukan lagi. Koneksi dan relasi antar anak juga dibangun sedemikian rupa, seperti yang Kak Asep dan Kak Ima pantik pada SD 6 tentang menyebut dua teman (laki-laki dan perempuan) yang ini meluaskan makna relasi di benak mereka, yang tadinya sempit laki-laki menaruh perhatian ke perempuan pasti suka, menjadi netral bahwa maknanya belum tentu begitu. Koneksi dan relasi juga saya lihat saat SD 5 kegiatan Jabadipus, bisa terlihat bagaimana anak-anak dibangun untuk memiliki koneksi dan relasi langsung dengan lingkungan sekitar mereka di sekolah. Sekolah adalah kehidupan itu sendiri, maka memang kita bisa merasakan di Smipa anak-anak tidak dieksklusi dari kehidupan ketika mereka sekolah. Saat mereka ada di dalam perpustakaan, perpustakaan itu lah kenyataan terdekat mereka dan mereka boleh untuk mengomentarinya, mengkritisinya, mengubahnya, memanfaatkan tapi juga menjaganya (mengembalikan buku ke tempatnya dan membersihkannya). Sementara di SMP, meskipun terasa agak lebih renggang dari SD, koneksi dan relasi juga tetap bisa saya lihat dalam kelas, di mana, menyesuaikan dengan karakter dan usia mereka, pada jenjang SMP koneksi dan relasi itu dibangun melalui argumen dan kontribusi mereka secara kolektif (projek). Sehingga simpulan umum lainnya adalah saya bisa melihat bahwa tiap anak itu unik, tiap kelas juga unik, dan tiap jenjang itu unik. Dan apa yang bisa saya amati adalah cerminan dari sistem sekolah yang menerapkan holisti dalam pendidikannya.