(Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto memaparkan presentasinya berjudul The Apocalypse of Humanity: A Search For Meaning / dok. pribadi)
Hari Sabtu, 8 Juli 2023, pada penghujung jeda dari rutin datang ke Sukamulya 77-79 sejak dua minggu terakhir, saya mengikuti acara Colloquium Philosophicum yang diadakan Fakultas Filsafat Unpar yang bertema: kiamat.
Saya datang dengan motivasi u̶n̶t̶u̶k̶ ̶m̶e̶m̶b̶u̶a̶t̶ ̶s̶e̶n̶a̶n̶g̶ ̶h̶a̶t̶i̶ ̶K̶a̶k̶ ̶L̶e̶o̶ ̶s̶e̶b̶a̶g̶a̶i̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶m̶e̶n̶g̶a̶j̶a̶k̶,̶ ̶m̶e̶s̶k̶i̶p̶u̶n̶ ̶b̶e̶l̶i̶a̶u̶ ̶s̶e̶n̶d̶i̶r̶i̶ ̶m̶a̶l̶a̶h̶ ̶t̶i̶d̶a̶k̶ ̶i̶k̶u̶t̶ karena rasa penasaran dan tertarik dengan topiknya. Menarik, apalagi karena selama ini kan topik kiamat rasanya selalu saya temui hanya dalam diskursus agama saja. Bukan berarti diskursus agama tidak menarik atau tidak perlu, tapi karena dominasi agama dalam diskursus terhadap topik kiamat itu lah membuat jadi bertanya-tanya: bagaimana ya jika kiamat didiskusikan menggunakan berbagai perspektif 'duniawi' alih-alih melulu hanya soal 'akhirat'? Makanya, ketika info seminar ini dibagikan oleh Kak Leo ke grup KPB bulan lalu, saya langsung mendaftar. Terima kasih infonya, Kak. Maknyos!
Ya, memang, beberapa tahun terakhir ilmuwan, aktivis, dan gerakan lingkungan di berbagai belahan dunia sudah sering menyebut-nyebut kiamat dalam satu tarikan nafas bersama orasi-orasi tentang kerusakan alam dan kerakusan kapitalisme yang membuat iklim menjadi krisis. Tapi, sebagai orang Indonesia yang tumbuh dengan budaya timur, sekalipun pengetahuan yang konkret sudah banyak tercerap, tetap saja hal-hal yang paling menghantui di kepala adalah citraan kiamat yang berasal dari sistem religi, yang, cenderung, muaranya selalu hanya pada: ketakutan. Kiamat. Kiamat sudah dekat. Tanda-tanda akhir zaman. Film tentang kiamat yang menakutkan. Ramalan kapan kiamat. Apalagi, ya? Hal-hal macam itu lah pokoknya, yang mewakili citraan kita tentang kiamat. Atau setidaknya citraan saya, sampai di perjalanan menuju lokasi acara seminar kiamat ini.
Mengunjungi Kiamat di Kepala
Saya datang sedikit agak telat, tapi acara belum dimulai, tapi, kursi-kursi peserta sudah hampir penuh semua. Ketika hendak menduduki satu kursi yang kosong di sisi kiri belakang, eh, ternyata di sana ada Saskia Electra (sekarang K12 di KPB) dan teman-teman komunitasnya. Saya duduk, tak lama mc memulai acara. Cuap-cuap sedikit. Lalu acara dibuka dengan penampilan teater dari tuan rumah. Tiga orang. Bergerak-gerak seperti menari tapi bukan, dengan musik dan video latar yang sangat nuansa 'kiamat' (noise, random, dan menegangkan). Bagian akhir adalah yang paling menarik dari penampilan teater tubuh ini. Tiba-tiba saat seketika ketiga performer itu berhenti, seseorang berjaket orens dan mengenakan helm, berteriak dari arah belakang penonton. "Paket! Atas nama yang menunggu? Atas nama yang menunggu?!". Cukup tak terduga, sih. Ini langsung mengingatkan saya kepada lakon terkenal 'Waiting For Godot', dan adegan setelah itu, adalah ketiga performer membagikan bongkahan es batu kepada penonton. Es batu itu yang tadi ada di dalam paket yang baru saja mereka terima. Sebuah pembukaan yang kontekstual, menarik.
Rasa penasaran dan ketertarikan yang menjadi motivasi saya ikut ini akhirnya terbayar karena bahasan seminarnya memang seru. Bukan hanya Prof. Iwan Pranoto dan Prof. Bambang Sugiharto sebagai pembicara, tapi para audiens di sesi tanya jawab juga.
Dibuka oleh pemaparan Prof. Iwan yang sejak awal membawa kita pada topik 'kehancuran kreatif', lewat pernyataan di awal bahwa seluruh gambar dalam power poinnya kali ini itu dibuat oleh AI. Sebuah disclaimer yang kemudian menuntun semua orang di dalam ruangan untuk meraba kiamat dari pemahaman bahwa: DNA dari peradaban adalah DNA kreatif dan DNA dari kreatif adalah selalu membangun dan menghancurkan. Teknologi baru menghancurkan teknologi lama.
Prof. Iwan mengajak audiens untuk melihat bagaimana dulu ada yang namanya industri es. Memanen es dari permukaan atas danau yang membeku. Memasukkannya ke dalam gudang es, lalu menjualnya kepada orang kaya ketika musim es berakhir. Industri ini runtuh di saat kulkas (yang memiliki freezer) muncul. Kemudian fenomena koran tertua di dunia, Wiener Zeitung yang tutup pada 30 Juni 2023 lalu. Trivianya, koran ini berasal dari negeri yang sama dengan negeri asal dari Arnold Schweintzneiger, aktor yang terkenal dengan perannya di film dengan dialog "I'll be back", namun, koran Wiener Zeitung nampaknya telah benar-benar tak akan kembali lagi. Prof. Iwan yang merupakan dosen matematika di ITB lalu bilang bahwa jadi sebetulnya fenomena AI hari ini, di mana banyak pro kontra dan kontroversi adalah suatu kelumrahan karena dulu pada saat pertama kali kalkulator muncul, ada sejumlah protes di Eropa dan Amerika untuk menolak kalkulator dan protes itu dilakukan oleh para guru matematika. Lalu ada juga protes robot, sekarang protes AI.
Audiens juga diperlihatkan kurva progres inovasi dalam peradaban manusia 250 tahun terakhir, di mana kita diperlihatkan bahwa progres lahirnya inovasi yang baru dari inovasi sebelumnya makin sini makin singkat. Kurva lain yang Prof. Iwan perlihatkan menunjukan sebuah realitas bahwa dari konteks inovasi teknologi tersebut, peradaban manusia dapat dikatakan terus berada dalam siklus yang berpindah secara patah (mengalami lompatan) dari kurva yang satu ke kurva baru di selanjutnya. Maka katakanklah kehancuran, kehancuran kreatif, memang pasti akan terus terjadi tapi benarkah? Sementara, menurut Prof. Iwan, demokratisasi inovasi bisa menjadi salah satu poin di mana laju inovasi itu bisa kontekstual dan bukan nuansa kompetisi yang akhirnya terjadi tapi bagaimana naluri kreatif peradaban kita bisa bergerak menurut inovasi yang tepat guna, bukan semata-mata menguntungkan dalam pertimbangan yang kapitalistik. "Jangan kita kalah dengan kepercayaan zaman dulu, menganggap bahwa gelas yang diisi air itu lama-lama airnya akan tumpah juga, padahal kenyataannya gelasnya malah semakin membesar", tambah Prof. Iwan dengan kalimat yang sepertinya telah ia ulangi sebanyak tiga kali selama presentasinya.
Sebelum mikrofon berpindah ke Prof. Bambang, Prof. Iwan menutup pemaparannya dengan sebuah kutipan dari Anil Gupta, dengan terjemahan bahasa Indonesianya kira-kira begini: benak seorang yang berasal dari pinggiran (termarjinal) tidak berarti pikirannya pinggiran. Menegaskan lagi pentingnya kerja sama daripada kompetisi dalam inovasi, berlomba-lomba dalam siklus kreatif penghancuran.
Prof. Bambang mengambil giliran, beliau mulai pemaparannya dengan retorika bahwa inti dari seminar ini adalah bagaimana soal kita memaknai hidup, hanya itu. Kiamat atau kehancuran total mungkin akan terjadi, nothing to lose aja lah, katanya. Audiens diajak untuk memaknai ulang bahwa citraan kiamat yang menyeramkan itu selalu terlalu menyeramkan dan itu sebetulnya tidak perlu. Beliau juga menjernihkan ulang apa yang dipaparkan oleh Prof. Iwan sebelumnya, bahwa jangan sampai keliru, sebab peradaban bukan bagaimana teknologi membaru tetapi bagaimana sikap dasar kita (manusia). Sikap dasar ini lah yang seharusnya bergulir dalam percakapan tentang kiamat. Sebab kiamat, apapun itu deskripsinya, adalah satu bayangan tentang kehancuran total yang akan datang yang itu lahir dari belief (kepercayaan) tiap-tiap orang. Sementara masalahnya, lanjut Prof. Bambang, agama sering kali memantik kerja otak kita di bagian belakang di mana ketakutan bekerja. Ini alamiah, tetapi fungsi otak ini juga dimiliki oleh reptil. Kadang juga hanya sampai otak tengah yang kita fungsikan, soal kehendak untuk berkelompok, yang ini pun dimiliki oleh kawanan serigala. Otak bagian depan yang sebenarnya ciri khas dari kita, yang berfungsi untuk kerja pemikiran dan kehendak mencipta, ini yang malah paling jarang kita gunakan. Karena, apa? Karena ketakutan. Karena tubuh kita, diri kita, terlalu terbiasa hanya menggunakan bagian otak belakang dan paling banter belakang dan tengah. Itu lah yang membuat kita jadi mudah dikuasai rasa takut. Menyebalkan memang Artificial Intelligence, tapi perasaan inferior di hadapannya jauh lebih menyebalkan.
Dunia saat ini memang dunia yang mengandung multikontradiksi di banyak konteks. Namun, menurut Prof. Bambang kita perlu menumbuhkan motivasi apa untuk melakukan apa, padukan dengan imajinasi, dan apakah AI punya motivasi? Sepertinya tidak, ya. Kita juga perlu berupaya untuk keluar dari ketakutan, menjernihkan ketakutan, dan memahami cara untuk merespons ketakutan tersebut dengan apa yang bisa kita lakukan. Kita perlu mempertahankan qualia kita. Karena kita manusia dan kita memang punya itu, AI tidak punya qualia seperti kita.
Prof. Bambang juga punya kalimat yang lumayan banyak diulang, yaitu "kita ini berbeda tetapi kita satu. Kita ini satu tapi berbeda. Kita di sini berlaku kita semua manusia, hewan, tumbuhan, dan semua.". Pada sesi tanya jawab ada dua penanya yang menjadi sorotan saya, yang pertama dari seorang audiens perempuan bernama Raisa. Katanya ia seorang yang saat ini sedang mengerjakan sebuah projek AI, katanya, ia justru bersyukur bahwa sejauh ini AI masih selalu memiliki cacat alias tidak pernah 100% akurat baik itu AI teks maupun visual. Kenapa? Sebab kalau kita sudah sampai di titik AI tidak lagi memiliki kesalahan, kiamat lah sudah. Bagi Raisa, ia selalu percaya bahwa AI dan seluruh teknologi adalah budak manusia. Penanya lain yang saya soroti adalah seorang mahasiswa filsafat (alias tuan rumah) semester 4, dia bertanya: bagaimana ilmu filsafat memandang kiamat dan mengapa harus ada kiamat? Prof. Bambang menjawab pertanyaan ini dengan jawaban apa adanya, bahwa sejauh dia tau, belum pernah ia menemukan ilmu filsafat ada yang membahas kiamat. Semua bahasan itu berasal memang dari agama. Tapi mengapa seminar hari ini ada, karena, menurut Prof. Bambang kita ini perlu bekerja sama alih-alih berkompetisi dan kita ini satu... (mengulang kalimat kojonya). Kita juga tidak perlu takut pada AI, jangan pernah berhenti mencipta! Karena mencipta itu bentuk cinta. Jika empati adalah meresap energi dari orang lain (sekitar), cinta itu memberi energi. Jangan tenggelam dalam empati. Jadikan cinta sebagai motor bagi pikiran kritis yang dapat terus mencipta dan memaknai hidup ini secara kerja sama. Pungkas Prof. Bambang mengakhiri sesi tanya jawab.
Jadi, dalam refleksi dan sepenangkapan saya, kiamat selalu akan menjadi sesuatu yang jauh dalam imajinasi, tapi bisa jadi dekat jika itu adalah dalam bentuk ketakutan. Kiamat meteor atau kiamat AI, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa terhindar dari ketakutan yang terlalu menguasai, jangan berhenti mencipta, dan utamakan kerja sama daripada kompetisi!
😂 saya telat daftar
Ini komen yg rada kurang esensial. Justru karena itu bisa diyakini bukan keluaran AI. ☝️🙃