AES0008 9 Video Green Renaissance Pilihan KPB
Naufal
Sunday July 23 2023, 8:23 PM

InShot_20230724_192039926.jpg

(tim PubDok)

Kamis, 20 Juli 2023 ketiga kelas jenjang Kelompok Petualang Belajar (KPB) berkegiatan bersama di basecamp, agendanya adalah nonton bareng. Tapi bukan sekadar nonton bareng seperti pada umumnya: menonton satu film atau satu video secara bersama-sama lalu mendiskusikannya bersama setelahnya. Kegiatan nonton bareng KPB hari itu agak berbeda. 

'Kelas' awalnya dibuka dengan duduk melingkar bersama, waktu hening selama dua menit dipimpin oleh Mikha, lalu berdoa. Setelahnya, dimoderatori oleh Kak Gina, dijelaskan 'rencana' yang telah dipersiapkan para kakak untuk hari itu yaitu: kelas akan dibagi menjadi tiga kelompok (pembagian kelompok juga telah kakak buat secara rahasia sebelumnya) yang artinya masing-masing kelompok akan berisi empat orang. Lalu tiap kelompok dipersilahkan memilih tiga video dari ratusan video yang ada di channel youtube Green Renaissance, video yang dirasa cocok dengan kelompoknya dan syaratnya: video yang dipilih tidak boleh sama antar kelompoknya. Kemudian, video yang ditonton bersama itu dijadikan bahan diskusi di kelompoknya hingga di penghujung masing-masing kelompok akan menceritakannya. 

Metode ini dilakukan tentu saja karena hari itu masih lah pekan pertama di TP19 ini, sehingga para kakak masih perlu menjadi inisiator bagi penyelenggaraan 'kelas'. Seperti pemilihan Green Renaissance yang memang dipilih duluan oleh para kakak, alasannya sederhana: pada awalnya agenda hari itu inginnya menonton sebuah film panjang dan lalu di akhir didiskusikan. Setelah berdiskusi panjang berhari-hari sebelumnya (wah kok kedengarannya jadi lebay, ya? :D) untuk menentukan film apa yang cocok dengan tema besar TP19 ini, yaitu Merayakan Kehidupan, para kakak KPB bahkan sempat hampir buntu karena dua alasan:

1. Dari sekian banyak pilihan film bertema sesuai (yang ada irisan isu lingkungannya, isu tentang banalitas kemajuan teknologi, dan juga isu kesadaran manusia yang hubungannya dengan kemanusiaan) yang diajukan oleh masing-masing kakak di KPB, ternyata setiap film memiliki keterbatasannya sendiri untuk menjadi media pembuka yang bisa mengakomodir semua anak (12 anak dengan karakteristik yang tentu saja berbeda-beda) yang ada di KPB, mengingat ini ingin menjadi momen pembukaan bersama untuk merenungkan tema besar TP19 ini;

2. Kekhawatiran tentang 'film bertema lingkungan' itu sendiri yang seringkali merayakan ketakutan, alih-alih menumbuhkan harapan (pertimbangan ini awal munculnya dari Kak Robert). Sementara itu kita memerlukan lebih dari sekadar menularkan kesadaran kepada teman-teman KPB lewat realitas menyeramkan, tapi perlu juga semacam jalan yang bisa dilihat sebagai harapan. 

Sampai akhirnya, muncul lah ide dari Kak Tema 'bagaimana kalau (channel youtube) Green Renaissance?' dengan penjelasan tentang profil Green Renaissance sendiri yang merupakan gerakan yang menyebarkan pandangan-pandangan hidup manusia dari seluruh dunia, melalui pendekatan video dokumenter pendek, setiap video memperlihatkan seseorang atau bahkan lebih, mereka membicarakan pandangan mereka tentang hidup, dari hal-hal yang sederhana tetapi mendalam, dan pandangan yang beragam itu selalu mengandung perenungan tentang alam, sosial, dan budaya. Kemudian bergulirlah dan diramulah saran Kak Tema itu secara bersama-sama, hingga akhirnya menjadi satu rangkaian kegiatan yang dilakukan pada hari itu, hari ketiga sekolah di TP19 ini. Dan inilah ke-9 video Green Renaissance pilihan KPB:

1. To Live Simply

Ini adalah satu dari tiga video pilihan kelompok pertama yang berangotakan Jose (K12), Zalika (K11), Adrien (K11), dan Ezar (K11). Dua video lainnya adalah video berjudul Do What You Love dan How Much Is Enough. Menurut Jose kenapa mereka memilih ini, karena video ini salah satu video teratas yang bisa langsung dilihat jika kita membuka channel Green Renaissance. Jadi, alasannya memang se-simply itu.

Jose lalu mulai mendeskripsikan videonya, katanya video ini menarik karena kita bisa belajar dari perpspektif seseorang di video itu yang awalnya merasa tidak menemukan kebahagiaan hidupnya dari rutinitas awalnya yang di Singapura, hanya bekerja dan mencari uang, sampai akhirnya dia mendapat momen ketika memutuskan 'kabur' ke India dan di sana lah dia menemukan kebahagiaan itu. Menjadi petani di sana. 

Adrien dan Zalika lalu bergantian bercerita mengenai makna yang mereka tangkap dari video ini, bahwa ada pelajaran dari kisah hidup seseorang yang bercerita di video To Live Simply tentang ada kalanya seseorang akan merasa lelah dengan dunia luar dan membuat lupa dunia dalam. Uang daripada hidupmu sendiri. Ezar juga kemudian menggenapi dengan bercerita tangkapannya bahwa seseorang perlu menemukan momen transformasinya, seperti seseorang dalam video ini yang mendatangi realitas baru di India yang tidak ia temukan di Singapura, dan ternyata, ada kalanya kebahagiaan tidak selalu tentang uang, sekalipun finansial pas-pasan, seperti pilihan hidup orang dalam video itu yang pada akhirnya memilih menjadi petani di India, tapi dia mendapatkan penemuan atas dirinya sendiri.

Di akhir, Jose menambahkan bahwa sebetulnya bukan uang akhirnya tidak penting, karena itu juga yang dia (orang dalam video) sampaikan, uang hanya salah satu aspek dalam kehidupan, tapi itu tetap saja aspek, yang harus diselaraskan dengan aspek lainnya yaitu kebahagiaan dan penemuan diri sendiri.

2. Do What You Love

Video kedua yang mereka pilih adalah Do What You Love. Zalika menceritakan pemilihan judul ini karena merasa judulnya relate dengan dirinya. Bagi Jose dan Zalika, secara bergantian mereka bercerita bahwa sebetulnya video ini masih 'nyambung' dengan video pertama.

Menampilkan beberapa orang tua yang menekankan tentang lakukan lah sesuatu yang kamu cintai dan jangan sia-siakan hidupmu. Sekalipun, menurut Ezar, video ini mungkin terasa seperti kita sedang mendengarkan ceramah dari seseorang, tetapi sebetulnya pesannya penting tentang bagaimana mencintai hidup dengan melakukan apa yang dicintai. Kelompok ini bersepakat bahwa ketiga video pada akhirnya punya koneksi satu sama lain. Ini menjadi kesimpulan sekaligus pertanyaan.

3. How Much Is Enough

Seperti yang sudah disebut, video How Much Is Enough punya benang merah yang sama berkaitan dengan hidup sederhana dan melakukan apa yang dicintai. Fokus video ini yang mengangkat soal konsumerisme, menurut Ezar dan Adrien yang menjelaskan bergantian, bahwa kita seringkali tergoda dengan produk padahal kebahagiaan itu bisa didapat lewat hal-hal yang sederhana seperti membuat keluarga dan orang sekitar tertawa. Kita akhirnya belajar untuk bisa lebih melihat hidup ini secara sederhana, mencintai diri, dan bisa memaknai arti cukup yang sebenarnya, ujar Jose menutup sesi cerita kelompok pertama.

4. The Human Experience

The Human Experience adalah video pertama yang dipilih oleh kelompok kedua. Saski (K12) adalah yang pertama memilih judul ini dalam kelompok, alasannya, Saski merasa punya koneksi dengan kalimat dalam judulnya karena menurutnya ia adalah seseorang yang merasa bahwa pengalaman manusia atau pengalaman hidup seseorang, seringkali menjadi sumber ilmu yang memberikan pembelajaran atau inspirasi. Flavi (K11) yang juga di kelompok ini melihat kalau video yang menampilkan kesendirian, aktivitas seseorang yang minim sosialisasi, tapi bisa memberikan makna penting mengenai bagaimana koneksi seseorang dengan orang lain, sesuatu tentang mengekspresikan perasaan kita ke sekitar. 

Saski meneruskan deskripsinya mengenai video ini, di mana seseorang yang bercerita di video ini adalah seorang ibu yang mempunyai anak. Bagaimana ia memaknai hidup anaknya, bahwa anak-anaknya memiliki penuh hidup mereka sendiri dan hidup mereka adalah anugerah mereka. Abigail (K11) yang juga anggota dari kelompok ini bercerita bahwa ekspresi diri terkadang perlu diketemukan dalam kesendirian. Pengalaman hidup yang lalu setiap orang selalu penting dan momen menentukan adalah di saat seseorang itu memaknainya. Soal koneksi diri dengan orang lain juga ditambahkan oleh Yanuar (K10), anggota KPB yang baru bergabung di KPB di TP19 ini yang juga termasuk dalam kelompok ini, menurut Yanuar video ini bercerita pengalaman hidup seseorang yang berkoneksi dengan orang lain.

5. Dogs Teach Us To Love Unconditianally

Ini video kedua pilihan kelompok Saski, Yanuar, Flavi, dan Abigail. Kata Yanuar, video ini dari judulnya memancing pikiran tentang hubungan manusia dengan anjing. Ternyata isi videonya memang menceritakan pentingnya memaknai hubungan manusia dengan makhluk lain yaitu dengan hewan, sambung Yanuar. Saski juga bercerita kalau seseorang di video ini menunjukan bagaimana rasa cinta itu bisa kita dapatkan dari bagaimana anjing memberikan kasihnya kepada manusia itu tanpa pamrih, di tengah kehidupan yang penuh dengan serba perhitungan, termasuk dalam hal cinta, seekor anjing mengajarkan kita tentang tulus mencintai, tentang unconditional love. Flavi juga membagi tangkapannya bagaimana seseorang di video ini yang bisa belajar dari anjingnya yang sudah tua, namun cinta yang ia dapatkan dari anjingnya masih konsisten bisa dirasakan. Dari kasih sayang seekor anjing menjadi serangkaian makna kehidupan. Abigail pun menambahkan bagaimana dari video ini kita belajar bagaimana hewan peliharaan mengajarkan esensi tentang cinta yang unconditionally.

6. Alone In The Crowd

Video ketiga berjudul Alone In The Crowd atau sendiri di tengah keramaian, Flavi bercerita kalau keramaian yang dimaksud ialah kehidupan ini dan manusia terkadang bisa menemukan titik kesepiannya, di sanalah seorang manusia akan merasakan sebuah spiritual love atas kehidupan. Video ini bagi Saski lebih menceritakan bagaimana makna hidup sebagai sebuah realitas yang nyata. Makanya video ini seperti mengajak kita untuk lebih sadar tentang apa yang harus kita kerjakan dalam hidup ini. Abigail juga bercerita tentang video ini kalau pada dasarnya semua manusia memang saling terkoneksi, tapi juga sekaligus sendirian dalam menjalani hidup ini. Selain itu film ini juga mengajarkan tentang bagaimana mengekspresikan rasa kesepian, menjadi sebuah bentuk kerja yang nyata, yang itu merupakan bentuk dari cinta.

7. A Curious Mind

Kelompok terakhir beranggotakan Kiran (K12), Kenza (K10 & K11), Mikha (K11), dan Milo (K11). Mereka memilih tiga video antara lain A Curious MindBeneath The Waves, dan Wanting To Live. Di video pertama ini, Kiran cerita kalau ia setuju soal adanya keterhubungan dari ketiga video seperti kelompok pertama, karena itu juga yang dirasakan di kelompok ini. Bahwa setiap orang dan kehidupannya itu memang berbeda-beda. Khusus video pertama ini, menurut Kiran beberapa orang bercerita soal rasa ingin tau mereka para pembuat boneka sebagai jalan memelihara imajinasi. Kenza juga bilang bahwa video ini mengajarkan pentingnya menikmati hidup. Juga penting untuk melakukan apa yang kita sukai, sekalipun terkesan kekanak-kanakan, seperti boneka atau mainan, tapi itu penting, ujar Milo. Mikha juga menambahkan kalau video ini juga mengajarkannya tentang pentingnya mencari kebahagiaan dalam hidup, dengan merawat imajinasi, rasa ingin tau, dan bisa melakukan apa yang kita cintai.

8. Beneath The Waves

Video kedua ini adalah pilihannya Milo, alasannya katanya karena secara personal Milo menyukai laut. Tapi video ini ternyata lebih jauh dari perkiraannya, bukan hanya bicara laut dan berbagai aktivitasnya tapi ada bahasan tentang koneksi manusia dengan alam semesta yang penuh misteri sampai perenungan fase kehidupan manusia. Mikha dan Kenza bergantian menambahkan cerita tentang video ini bahwa ada makna tentang alam liar dan kebebasan yang dapat diambil dari pengalaman manusia berinteraksi langsung dengan lautan. Makhluk laut yang besar. Menyelam. Kiran juga menambahkan bahwa pada satu titik, manusia akan menemui fase serupa ombak dan lautan yang dalam dan penuh misteri.

9. Wanting To Live

Hubungan ketiga video bisa genap setelah sampai pada video terakhir, Wanting To Live, setelah video pertama dan kedua yang mengangkat tema besar fase kehidupan manusia, lewat yang satu bercerita tentang perlunya rasa ingin tau serupa anak kecil itu tetap perlu untuk dijaga sekalipun sudah dewasa dan yang satunya lagi lewat sifat-sifat laut sebagai analogi kehidupan, Wanting To Live yang diceritakan Kiran dan Mika berturut-turut sebagai kisah proses perjalanan manusia dari titik gelap menuju titik terang. Harapan yang muncul dari seluruh proses yang dilalui. Milo menambahkan, video ini secara khusus memang mengangkat kisah seorang pengidap bipolar yang survive dengan menumbuhkan kesadaran tentang lingkungan sekitar. Kenza menguatkan bahwa harapan itu bisa muncul dari satu keinginan hidup yang kuat. Itu lah benang merah fase kehidupan dari ketiga video pilihan kelompok ini, bagaimana seorang manusia akan memiliki fase berat kehidupannya masing-masing, namun bagaimana cara manusia melewatinya? Itu yang dapat kita belajar dari ketiga video pilihan kelompok ini.

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Wow mantap. Ini salah satu kanal favorit saya. Smipa banget. Videografinya bagus banget 👍😇