Suatu hari, dalam sebuah percakapan sebelum tidur. Anakku yang berumur 10 tahun bertanya, “Ibu seneng gak, punya anak kayak aku?” Aku tertegun sejenak. Di kepalaku, langsug muncul berbagai pertanyaan tentang kenapa dia bisa bertanya seperti itu. Apakah akhir-akhir ini dia kurang merasa dicintai? Apakah aku sempat mengutarakan hal yang kurang nyaman untuknya? Apakah ada hal yang membuatnya mengganggapku tak senang akan kehadirannya? Atau apa ya? Semua muncul di kepala. Namun alih-alih semua hanya dipikiranku, aku pun bertanya padanya. “Memangnya kenapa, kak? Kok kakak nanya gitu?” Dia dengan santainya menjawab, “Aku penasaran aja. Soalnya aku seneng jadi anak ibu. Tapi aku sendiri gak tau perasaan ibu sebenernya senang atau gak.” Hatiku langsung lega.
Perbincangan kami pun berlanjut, tentang banyak hal. Mulai dari apa yang ia suka dariku dan apa yang tidak ia suka dariku. Begitupun sebaliknya. Lalu kami saling bercerita tentang momen menyenangkan saat kami bersama. Ternyata untuk sebagian besar orang, masa-masa pandemi adalah hal yang tidak menyenangkan. Baginya, saat pandemi kami bisa bersama-sama sepanjang hari. Dari bangun tidur sampai tidur lagi bisa lihat orangtua di rumah itu sangat mengasyikan katanya. Dia pun bercerita bahwa saat kecil, dia melihatku sebagai idola. Katanya, “Ibu itu penjago kalau di rumah. Bisa beres-beres, masak, cuci-cuci, belajar, olahraga, sampai bisa jadi pembenar barang.” Waah, terharu sekali. Padahal tidak sebegitunya rasanya. Hehehe. “Bagaimana kalau sekarang, kak?” tanyaku dengan penasaran. “Kalau sekarang ibu gak terlalu jadi idola aku, tapi jadi apa ya. Hmmm.. mungkin sekarang jadi temen curhat, rasanya bestie aku bertambah tapi orangtua. Cuma ibu juga bertambah sih marah-marahnya.” Tawanya menggelegar sambil memelukku dengan erat. Sebuah kalimat penutup yang ia ungkapkan sebelum tidur membuatku terharu. “Ibu, aku selalu sayang sama ibu. Aku senang jadi anak ibu. Semoga ibu juga selalu senang ya ada aku di keluarga ini.”
Jadi teringat sebuah pesan dalam sebuah kelas parenting. Seorang anak tidak pernah memilih dilahirkan dari keluarga yang seperti apa. Anak tidak bisa memilih siapa ayah dan ibunya. Anak adalah anugerah yang Tuhan percayakan pada kita agar kita senantiasa menyayangi dan mencintainya.