Ada apa hari ini tuan? Bergembira nampaknya menjadi hal yang lumrah untuk kau lakukan. Kaum kami hanyalah kamu yang terlupakan, tidak lebih dari statistik suara untuk meraup sebanyak-banyaknya kekuasaan. Engkau lebih suka nada-nada hitungan dana daripada rintihan anak yang merindukan nasi diatas piring plastiknya. Kini aku duduk bersila di depan teras rumah, tembok tetangga berdiri kokoh menghalangi pandangan di sekitarku. Entah harus menjerit seperti apa agar kami didengar? Apakah perlu kami bertindak seperti hewan merusak segalanya supaya tindakan kami yang "salah" bisa kau anggap?. Satu batang hisapan rokokku setara dengan penderitaan yang terjadi di seluruh seantero negri. Ibu Pertiwi telah banyak mengeluarkan air mata, lagu-lagu wajib nasional sudah sering dikumandangkan setiap Minggu, namun nampaknya nilai nasionalisme tidak lebih dari dogma untuk membenarkan perbuatan kejimu. Aku kirimkan doa sekaligus kutukan terhadap penguasa-penguasa yang nampak memiliki mata namun buta hatinya. Para pendahulu kami yang telah tewas diracun, diculik, disingkirkan dan diasingkan, tidak akan pernah kami lupakan, apinya masih menyala didalam hati sanubari kami. Dengarkan, kutulis syair ini bersamaan dengan suara jeritan Token listrik di rumahku. Sungguh kalian tidak akan pernah mengetahui itu, berapa menyakitkannya suara lengkingan yang hampir terdengar setiap seminggu sekali, dan aku yakin aku tidak sendiri.