[Tulisan ini pernah dipublikasikan di Ning Semi Palar pada tanggal 14 Juli 2021, tulisannya hijrah ke mari supaya afdol].
Suatu hari, seorang anak menghubungi saya. Dia merasa kalut, merasa dirinya tak cukup baik dalam segala hal. Dan meluncurlah dengan lancar kalimat mutiara seperti yang tertera di atas.
Apakah karena saya Mamah Dedeh?
Oh, tentu bukan.
Sesungguhnya, saya melihat diri saya sendiri di anak tersebut (meskipun tentunya dia jauh, jauuhh lebih keren dibandingkan saya).
Sesungguhnya, saya sedang menasihati diri saya sendiri. Nasihat yang hingga kini belum sepenuhnya bisa saya tunaikan.
--
Iya. Di balik haha-hehe yang biasanya saya tampilkan, sesungguhnya saya adalah seorang pencemas. Khawatir segala sesuatu yang saya harapkan tidak berjalan lancar. Saya takut gagal. Saya takut kalah. Saya takut kalau apa yang saya lakukan tidak cukup baik, contohnya saja saat saya menulis tulisan ini, hehehe. Saya khawatir penafsiran saya salah, atau saya menulis sesuatu yang gak jelas, semoga tidak ya!
Kadang saya terperangkap pada pikiran dan skenario yang diciptakan pikiran saya sendiri. Sinetron banget memang hidup ini, udah kayak Ikatan Cinta. Melakukan ruminasi. Iya, kayak sapi. Punya hal yang bikin cemas, dikunyah, ditelan, terus dimuntahkan, eh ditelan lagi. Terus aja gitu, sampai Ultramen jadi Ultraflu.
Kenapa sih sebegitunya khawatir? Karena kalah, gagal, tidak dianggap, ditolak, atau apapun itu namanya, rasanya tidak enak. Ya kan? Ayo, ngaku!
Untuk itu, saya selalu berusaha menghindari segala perasaan tidak enak tersebut dengan melakukan segala sesuatu sebaik-baiknya, supaya bisa merasa puas, merasa berhasil, sesuai apa yang saya mau.
Namun, hidup tak selalu berjalan seperti yang kita mau, bukan?
Dan itu sangat melelahkan.
--
Kebetulan sekali di hari Senin, setelah sebelumnya libur selama 12 hari, Kak Andy mengajak kami Kakak-kakak untuk kembali menengok ke dalam diri melalui pembahasan Doing and Being serta Beyond Thinking. Terima kasih Kak, jujur otak saya agak keram :”) Tapi layaknya bapak-bapak yang pakai sarung Wadimor, saya merasa adem bener. Ini adalah pembahasan yang diam-diam saya rindukan di antara pelbagai urusan teknis, analisis, dan -is -is lainnya.
Dari penelusuran lebih lanjut yang saya lakukan, saya baru tahu, sekeras apapun kita doing, kita tak akan pernah puas jika kita tak menyentuh being. Dalam kasus saya, tampaknya sekeras apapun saya berusaha untuk melakukan yang terbaik (menurut saya), saya tak akan kunjung puas. Karena sesungguhnya saya harus berdamai dengan rasa tidak nyaman ketika kalah ataupun gagal.
Ketika saya bertanya lebih jauh ke dalam diri, berupaya untuk jujur, sesungguhnya saya sangat takut ditolak atau tidak diakui. Entah darimana perasaan ini bermula, mungkin saya perlu mencari tahu lebih dalam.
Kita tak bisa terus-menerus menolak hal yang membuat kita tidak nyaman. Sebab katanya, whatever you resist, persist. Seperti kalimat yang saya sampaikan pada anak yang dibicarakan di atas, saya tampaknya perlu lebih legowo, membuka hati, menerima rasa tidak nyaman itu sebagaimana adanya. Menghayati bahwa pain and pleasure is a bliss.
Dan kini, saya tidak malu mengatakan bahwa saya adalah seorang sedang sedang terus belajar untuk bisa menerima diri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Saya juga terus berproses untuk bisa mengubah diri secara seimbang; not too much effort, but not too little either.
Mungkin ini akan menjadi perjalanan panjang. Jadi, doakan saya, ya?!
Salam,
Rosmelia – peserta Benteng Takeshi