Sudah hampir setahun saya belum pernah mengunjungi kebaktian di gereja lagi, atau pun kebaktian secara online, yang paling saya rindukan adalah kebaktian langsung di gereja, melihat tempatnya yang dipenuhi oleh orang-orang. Kebaktian online adalah solusi terbaru untuk mengikuti kegiatan gereja, saya ingin sekali ikut dan berpartisipasi dalam beberapa kegiatannya, tetapi kenyataanya terlalu banyak acara gereja online yang dilaksanakan pada hari sekolah, ada waktu yang kurang tepat, di tengah jam sekolah atau saat saya mengerjakan proyek mandiri, biasanya dulu kebaktian di gereja hanya berada pada hari Minggu saja, sisanya diluar kegiatan itu saya melaksanakan ibadah di rumah, kegiatannya tidak sebanyak di gereja dulu, seperti nyanyi doa pujian, baca firman bersama, atau bermain, bertanya saat kebaktian remaja. Meski saya belum sempat mengikuti kegiatan ibadah, saya sebisa mungkin mencoba untuk menerapkan kegiatan seperti berdoa bersama dan rutinitas doa, berdoa bersama sudah sering dilakukan sejak dulu sebelum pandemi, tetapi kali ini menjadi lebih repetetif dan rutin, terutamanya untuk membantu kaitan saya dengan keluarga dan Tuhan.
Kebiasaan rutinitas berdoa, dilakukan dari pagi hari saat bangun, makan pagi, makan siang, makan malam dan saat mau tidur, diluar itu kadang saat mau pergi sekolah saya berdoa dulu, untuk keselamatan selama dijalan, sejujurnya kadang saya lupa untuk berdoa sebelum mau pergi ke sekolah, tetapi saya tidak lupa setiap malam sebelum ke depannya, saya selalu berdoa untuk keselamatan, meski bukan tepat hari saya mau pergi, tetapi sehari sebelumnya. Dalam beberapa bulan ini saya bersyukur begitu banyak, terutamanya dalam peningkatan keahlian saya dalam menggambar, mau dari menggambar proyek mandiri atau kegiatan menggambar bebas.
Diluar lingkungan spiritual, secara diri sendiri, di semester pembelajaran ini saya merasa ada sesuatu yang kurang, secara diri sendiri saya menjadi lebih santai, sampai ada beberapa momen menjadi terlalu santai, contohnya pada minggu pertama pengerjaan proyek mandiri, mengerjakan halaman komik. Saya terlalu meremehkan beban tugas pengerajaan, saya kurang peduli dengan tantangan yang akan ada di proyeknya, sehingga saya terlalu banyak membuang-buang waktu, menghabiskan waktu untuk keperluan diri sendiri yang bukan esensial. Secara pemikiran diri sendiri, ada beberapa aspek diri yang berubah, dari gaya hidup, secara sisi sekolah dan motivasi saya dalam menjalankan hidup ini, dimana selalu berujung dengan membuat seni visual, menggambar.
Permasalahan sempat terjadi di masa-masa ini, meski tidak terlalu besar, tetapi cukup “impactful”, saya menyadari bahwa saya kadang-kadang terlalu memikirkan diri sendiri, mementingkan tentang gambar, atau kegiatan yang hanya saya sukai saja, sehingga lingkungan sekitar saya lebih sering dihimbaukan, saya kurang memperhatikan lingkungan sekitar, sehingga seringkali ditemukannya perubahan di area tempat hidup saya, mau dari kota Bandung sendiri, tempat tinggal atau area yang ditinggali keluarga saya. Ekspresi yang saya dapatkan dari melihat perubahan-perubahan ini adalah, kagum dan aneh. Kekaguman saya dengan cepatnya sebuah transisi dapat terjadi, mau secara dari aspek arsitektur bangunan yang saya lihat, atau secara teknologi juga, kekaguman ini sering memunculkan sebuah keanehan, membuat saya bingung, mempertanyakan apa yang terjadi? dan penyebabnya apa?, keanehan ini kadang membuat saya kecewa, kadang-kadang sebuah perubahan lingkungan yang sudah saya anggap sempurna menjadi sebuah kualitas yang kurang saya pahami, mengecewakan dan tidak memuaskan.
Secara kesimpulannya, saya adalah seorang pribadi yang kurang bisa menerima begitu banyak perubahan, saya memegang begitu banyak ilmu dan pengetahuan yang lama, sehingga membebani saya, kurang bisa menerima perubahan jaman, mau secara teknologi, arsitektur atau budaya. Kenyataannya kadang ada beberapa perubahan yang menjadi poin-poin yang menjatuhkan moralitas manusia, sehingga menghancurkan cara manusia berpikir, contohnya budaya-budaya barat yang tidak mengikuti agama, untungnya di Indonesia masih banyak yang berpegang dengan agama, hukum bersandar dengan agama. Saya senang dan bersyukur untuk hidup di negara yang masih memegang nilai-nilai ini, saya tidak bisa membayangkan betapa hancur dan rusaknya moral atau butanya cara saya berpikir jika tinggal di negara-negara yang mengikuti budaya negatif barat.
Mengapa manusia selalu memberontak, tidak dapat menjadi seperti mesin, konsisten bekerja tanpa memberontak, sedangkan manusia melawan dan mematahkan peraturan yang mereka buat sendiri, untuk menciptakan kehidupan yang mereka anggap sempurna?