Sebuah koridor panjang membentang jauh di depan mata Priviina dan pasukan lainnya, koridor tersebut cukup gelap, penerangannya sangat minim. Sebelum masuk ke koridor tersebut, terlihat beberapa pasukan musuh di ujung koridor tersebut, koridor itu terlihat luas, sayangnya tidak ada satu pun benda atau barikade yang dapat digunakan untuk menyerang pasukan musuh, dalam waktu sempit seperti ini Priviina memutuskan untuk mencoba mendistraksi pasukan musuh, dalam waktu yang singkat, Priivina mencoba memancing salah satu pasukan musuh dengan sebuah suara, Priviina mencoba membuka salah satu pintu di jalan masuk koridor, membuka pintu itu, sebuah suara keras muncul dari engsel pintu, menarik perhatian salah satu pasukan penjaga di ujung koridor, sedangkan saat itu Priivina menunggu pasukan musuh muncul, dengan pasukan sekutu lainnya mencoba menunggu di pintu masuk koridor, dengan ini pasukan musuh itu mencoba masuk ke ruangan itu, membuka sebuah kesempatan untuk salah satu pasukan sekutu untuk mencoba menjebak pasukan yang masuk ke ruangan itu.
Dengan begitu cepatnya, dengan sebuah pisau, pasukan musuh itu ditusuk dari belakang, dengan tangan kiri pasukan sekutu menutup mulutnya, menahan satu pun suara yang kemungkinan akan menarik perhatian pasukan lainnya. Hilangnya salah satu pasukan musuh yang menjaga ujung koridor itu, masih tetap menarik perhatian pasukan satunya lagi, Priivina sudah tahu ini akan terjadi, dengan ini Priivina meminta salah satu pasukan lainnya untuk menyergap pasukan itu, karena dalam waktu itu pasukan sekutu yang pertama masih akan sibuk dalam mencoba menyembunyikan mayat pasukan musuh sebelumnya. Pasukan musuh mencoba masuk ke ruangan itu, sebuah sebuah pistol dengan sebuah peredam suara, suara yang muncul dari pistol itu sudah teredam, sehingga tidak menarik perhatian pasukan musuh yang kemungkinan sedang berada di area tersebut.