Hari ke dua demonstrasi, para demonstran pro Union mulai menyerbu kembali menara Triton. Kepala komisaris kepolisian DIS, dikenal sebagai “Duke Montreal”, seorang manusia, memimpin dengan tangan besi dan dikenal sebagai pria yang bijak dan tangguh, Duke mengerahkan semua anggota kepolisian, termasuk “6th division riot”, dan total 40 divisi kepolisian dari DIS dan kantor kepolisian lokal. Untunganya para polisi DIS sudah bersiap sejak pagi hari, pergantian anggota polisi dilakukan tepat pada malam hari, sehingga polisi dari hari pertama dapat beristirahat di dalam menara Triton. Berbeda dengan para demonstran pro Union, berdiam di depan menara Triton selama 24 jam, beberapa demonstran tertidur, sisanya berjaga di depan bangunan, malam hari dijadikan momen gencatan senjata bagi para anggota kepolisian DIS dan para demonstran pro Union dan non pengikut Union.
Pagi harinya jam 05:45, para pendemo mulai bergerak kembali, sisanya para pendemo non Union melarikan diri dari lokasi, para pendemo ini berbeda dengan para pengikut Union, yang dikenal kejam, pengikut keras dalam organisasi Union sendiri. Jumlah demonstran menurun menjadi beberapa juta orang, yang sebelumnya mencapai beberapa triliun, dikarenakan semua persenjataan yang dikeluarkan oleh DIS dan Corvelas dalam menangani situasi ini, beberapanya juga ada yang menyerah karena pidato yang diberikan oleh Duke, sehingga kebanyakan demonstran menyerahkan diri ke DIS tanpa perlawanan sama sekali, terdiri dari manusia dan “anthro citizen”. Dari beberapa demonstran yang mengikuti demonstrasi ini sebenarnya bayaran dan hasil cuci otak pidato yang diberikan dari organisasi Union, pengikutnya berkisaran dari usia 18 sampai 60 tahun ke atas, dimana demonstran pemuda menjadi mayoritas pendemonya.
Lanjut kembali ke lapangan, para demonstran mulai menyerang kembali menara DIS, suara tembakan senapan api dan kibaran bendera para demonstran bisa terdengar dari seluruh sudut kota, teriakan para demonstran yang tiada henti. Dari sisi para polisi DIS, terlihat dingin dan tangguh, berlengkapan dengan baju huru hara berwarna hitam dan putih, berperisai baja, bertongkat pentungan elektrik, demikian dari kesunyian barisan polisi, hanya terdengar nafas berat dan retihan listrik dari pentungan yang digenggam polisi.