AES 21 Refleksi Pembelajaran 1 Bulan di KPB K11
SamBin
Wednesday August 25 2021, 5:02 PM

Sudah sudah 1 bulan lewat dalam kelas 11 KPB ini, saya sendiri sejak pertama kali menginjak jenjang SMA kelas 11 di KPB mengalami berbagai momen dan belajar banyak sekali hal yang baru. Di kelas 11 ini saya memasuki fase baru, proyek baru dan beberapa proyek lama seperti proyek kertas, untuk proyek barunya adalah proyek mandiri, sebuah proyek yang paling saya tunggu sejak pertama kali melihat KPB dan bergabung dalam KPB, selama proses belajar di KPB, terjadi banyak sekali perubahan, sebelumnya kelas 10 KPB Sage, dimana saya belajar sebagai seorang anggota kelompok, berkomunikasi dengan teman-teman sekelas saya, 6 orang dalam kelas 10 Sage, teman-temannya sama saja, proses interaksinya juga masih sama seperti saya di jenjang SMP, di kelas 10 sebelumnya, topik yang digali adalah kerja kelompok, sekarang di kelas 11 ini, saya belajar menjadi seorang individu yang mandiri, mengelola proyek sendiri dan membawa tanggung jawab proyek mandiri yang saya buat, beda dengan kelas 10 sebelumnya, dimana sebuah proyek menjadi tanggung jawab kebersamaan kelas, belajar untuk bersosialisasi, bekerjasama dan membagi porsi pekerjaan secara rata atau sesuai kemampuan.

Dilanjut kembali ke perbedaan, cara belajar di kelas 10, hampir semua kegiatan masih ada panduan dari kakak kelas, belajar materi baru, secara kesimpulannya di kelas 10, 50% peran masih dalam tanggung jawab kakak kelas, 50%nya masih ada dalam murid juga, untuk proyek sendiri masih dikerjakan oleh murid, kakak dulu berperan banyak dalam mengajarkan gaya hidup dan proses belajar di KPB. Sekarang di kelas 11, proses belajar dan kegiatan lebih diserahkan tanggung jawabnya ke murid, perbedaan mayoritasnya adalah dalam pengaturan jadwal kegiatan, di kelas 10, masih ada skenario kegiatan perharian, biasanya berisi awal hingga akhir jadwal kegiatan yang harus dilakukan, untuk saat ini, jadwal kegiatan lebih menjadi tanggung jawab murid, contoh paling besarnya, dalam mengatur kegiatan pengerjaan proyek mandiri.

Secara kesimpulan perbedaan terbesar adalah porsi tanggung jawab yang diberikan ke murid, dibandingkan ke kakak kelas, di kelas 11 ini, saya belajar untuk menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam melaksanakan proyek saya sendiri, bertanggung jawab dengan semua jalan atau proses yang saya pilih, atau semua tantangan yang akan ada di dalam proyek mandirinya, sisanya perbedaan secara proyek, yaitu dalam mengumpulkan dana, kali ini di kelas 11, proyek kertas beroperasional kembali, diambil kendali oleh 3 anggota kelas, dengan tujuan untuk memproduksi kertas dan menjualnya melalui koperasi. Yang paling baru adalah pindahnya tanggung jawab proyek “Nyenack”, yang nanti berfungsi sebagai media galang dana kegiatan kelas.

Proyek mandiri, proyek terbaru dan yang paling saya tunggu-tunggu, entah kenapa proyek ini menggoda diri saya untuk membuat komik, sebelum ide komik, saya hanya terbayang untuk membuat kompilasi karya untuk portfolio kuliah dan kerja, tetapi sejak saya melihat karya milik salah satu murid k12, (Sebelum saya naik ke kelas 11), tepat di jenjang kelas 10 tahun 2020, saya melihat sebuah proyek yang dibuat oleh Farah, fokus saya selalu tertarik dengan karya yang ia buat, sebuah komik digital, meskipun karya yang ia buat sudah lewat fase proyek mandiri. Proyek mandiri ini memacu antusiasme diri saya, sehingga saya bertekad keras untuk melaksanakan dan menuntaskan proyek ini dengan senang dan bangga, kenyataanya sendiri, sebelum saya membuat proposal atau logframe proyek, saya merasa “Scared and enthusiastic”, di benak pikiran saya, yang satunya berkata saya antusias dalam mengerjakan proyek ini, sebuah momen dimana saya mengekspresikan imajinasi. perasaan saya, mencoba untuk menuangkan semua keahlian menggambar yang sudah saya latih sebelumnya, ditambah dengan adanya keahlian menggambar digital yang baru-baru tahun 2021 ini saya coba, ditambah karena saya sudah punya sebuah tablet grafik, tapi sayangnya jarang sekali dipakai sejak awal 2019.

Saya merasa antusias dan takut, dari awal saya mencoba dan masuk dalam dunia seni visual menggambar, berawal dari menggambar dengan pensil dan kertas, kemudian mengeksplorasi dalam dunia menggambar digital, dibalik antusiasme dan ketekunan itu, saya merasa takut, ketakutan ini berbentuk seperti, tidak percaya diri, malu, iri dan “social anxiety” yang dialami oleh saya sejak SMP, semua ini berdampak dengan fatal tiap kali saya mencoba mencari inspirasi untuk menggambar digital, ,melihat sebuah komik digital atau komik fisik, dan saat melihat karya gambar digital orang lain, buktinya dari salah satu seniman digital yang karyanya sekarang sedang dijadikan inspirasi bagi saya, seorang seniman di “Twitter”. Untuk saat ini saya terjebak dalam sebuah fase dimana saya merasa antusias setiap kali melihat gambar yang dibuatnya, kemudian takut setiap saya mau membuat karya.

Bagi saya proyek mandiri ini adalah sebuah “passion project”, dimana saya bisa memvisualkan imajinasi dan ide yang sudah dikumpulkan sejak tahun 2017, idenya adalah Corvelas (UMF), tidak hanya itu, yang membuat saya menikmati proyek ini adalah antusias saya dalam menggambar digital. Selama melakukan proyek ini, terdapat proses yang baru dan berbeda, contohnya seperti proses asistensi, berfungsi untuk mengecek progress proyek, dimana nantinya proses akan dievaluasi dan diberi masukan jika terdapat kekurangan. Menurut saya, proses asistensi ini sangat membantu saya untuk mengetahui kekurangan dalam membuat sebuah proses, contohnya dari logframe proyek yang sudah direvisi oleh saya, tetapi ketika dicek masih terdapat beberapa kekurangan yang tidak saya sadari, asistensi, bagi saya akan berperan besar selama saya membuat halaman komik, yang nantinya akan dicek oleh mentor proyek, ditambah mentor proyek adalah seorang komikus professional, alhasil saya bisa mendapatkan banyak pengalaman baru saat menginjak dalam dunia seorang komikus.

You May Also Like