Belajar dari pak ogah, ogah-ogahan begitu dia semangat mencari recehan. Rupanya aku dan pak ogah memiliki kesamaan. Suka mengumpulkan recehan. Recehan pak ogah literally uang, recehanku berupa pemikiran receh.
Saat menyetir, naik ojek, scrolling, atau sendirian biasanya pikiran receh ini datang. Recehan ini aku tabung dicelengan notes. Recehan yang terbersit tadi kalau waktunya pas akan langsung kutulis esainya, dibayar lunas. Kalau tidak ya disimpan dulu. Di Bank recehku.
Recehan yang mengendap dicelengan ini biasanya akan berkembang menjadi lembaran, karena ide untuk menulisnya bertambah, tapi jadi bertele-tele idenya melebar kemana-mana. Inilah art-nya menulis. Komposisinya abstrak. Kadang santai kadang serius. Kadang ringan kadang berat.
Ah tapi menulis hal receh lebih menarik, ada bunyi cring-cringnya daripada menunggu lembaran walaupun nilainya lebih tapi membosankan.
Recehan ini tabungan baruku, investasi jangka panjang. Dicicil sedikit demi sedikit mungkin hasilnya sekarang belum tampak, nanti 5 atau 10 tahun lagi pasti sudah terasa manfaatnya.
Tidak perlu menunggu sesuatu yang besar untuk memulai, mulai saja dari yang kecil.
Small steps lead to big steps.