AES023 Jujur atau Bohong?
Sanya
Thursday October 31 2024, 8:10 AM
AES023 Jujur atau Bohong?

Bersambung dari cerita Sei tidur sendiri dan menghadapi ketakutannya, setelah bicara panjang lebar ala motivator ternyata acara belum selesai masih ada babak 2. Perpanjangan waktu pula, mepet waktu tidur +9 menit lah kira-kira. Tapi aku harapkan skor akhirnya akan 2-2 karena berhasil men-encourage Sei.

Malam ini dia balik lagi mengetuk kamarku sambil membawa bantal dan selimut. Alasan apa lagi ini. Tolong baim ya Tuhan. Tapi tidak apa-apa berarti wejangan tadi ada yang masuk otaknya. Mungkin masih ada unek-unek yang belum disampaikan.

Bring it on Sei.

Sambil tertawa aku bertanya pada Sei apa yang membuatnya mantap pindah tanpa basa basi.

“Aku mau cerita penting bu, aku terus kepikiran ini sampe ga bisa tidur”.

Oke.

Setelah dia merapikan lapaknya dia mulai bercerita.

“Bu aku kepikiran sama ceklis aku banyak sekali X nya”.

Lah bukannya kemarin fine aja ya? Sepertinya saat aku menulis tanggapan ortu tentang hasil capaian dan tantangan dikertasnya dia biasa saja kok sekarang tiba-tiba gelisah?

Hmm tapi rupanya diskusi tadi membuahkan hasil, memantik hal lain.

Setelah kutanya lagi kenapa memang? ada konsekuensi apa kalau banyak X nya? lalu dia bilang

 “Nanti aku gagal dapat poin, ga bisa ikut kemping”

“Nanti aku ga jadi nomer 1 di kelas”

“Nanti aku ditanya kakak kenapa ga berhasil rutinnya diceklis semua”

Ternyata babak 2 ini beda tema. Mari kita selesaikan dengan efektif dan efisien waktu.

Menyinggung arti berhasil dan kejujuran. Rasanya dia paham kejujuran lebih penting dari keberhasilan. Nilai kejujuran lebih tinggi nilainya dibanding berhasil tapi hasil berbohong. Lebih baik gagal tapi tahu letak kesalahannya dan memperbaikinya daripada harus berbohong tapi berhasil. Tidak semata-mata menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Ada pertimbangan baik buruk. Belajar memahami konsekuensi sebab-akibat.

“Kejujuran nomor 1 Sei, ibu yakin kakak juga sepakat dengan ibu”

Antara mendapat poin tapi harus bohong, atau gagal dapat poin tapi jujur, ini jadi kegalauannya. Sebenarnya bisa saja dia ubah sendiri toh pakai pensil ceklis nya, tapi memutuskan menceritakan kegalauannya, menceritakan perasaannya padaku. Mencari alasan mengapa harus jujur, mengapa tidak boleh berbohong. Penting untuk menjadi dasar tindakannya. 

Setelah itu dia langsung tertidur pulas. Sudah plong betul. Mungkin sudah terjawab kegelisahannya.

Senang sekali dia sudah mulai menumbuhkan nurani baik, akan jadi dasar integritasnya kelak.

 

You May Also Like