Membaca berita yang beredar beberapa waktu terakhir selalu membuatku gusar. Tampaknya tiada hari tanpa gebrakan baru. Mulai dari akar rumput sampai puncak pohon tertinggi seperti berlomba-lomba mengacaukan keadaan yang sudah runyam. Seperti akan hidup abadi, mereka saling bersautan merusak janjinya 'menjadi manusia yang beradab'.
Bagaimana bisa pemangku kebijakan bekerja hanya berdasarkan janji atau sumpahnya di bawah kitab suci, tanpa kontrak hukum tertulis. Tanpa iman mudah saja mengingkari janjinya pada Tuhan apalagi hanya melanggar aturan manusia, tidak seberapa. Tidak adil rasanya, bekerja untuk sesama manusia tetapi membuat kontrak kerja pada Tuhan. Apakah kami hanya bisa meminta pertanggungjawaban nanti di akhirat? Atau karena terikat budaya, sudah ikhlaskan saja biar Tuhan yang balas?
Tamak, selalu tidak merasa puas dengan yang dimiliki dan selalu menginginkan lebih.
Serakah, mengejar ambisi tanpa memperdulikan nilai moral dan hak orang lain.
Rakus, tak pernah merasa cukup seakan seisi dunia adalah miliknya
Bagi mereka merasa cukup adalah suatu yang tabu, hal tersebut telah sirna terbawa derasnya hawa napsu yang semakin lama semakin tak terkendali menghilangkan sifat manusianya menjelma menjadi suatu entitas lain, masih berwujud memiliki raga namun kosong tanpa jiwa. Mereka bukan lagi manusia.
Sejatinya manusia diberikan akal sebagai pembeda dari makhluk hidup lainnya. Tidakkah kita ingin mengindahkan anugerah Tuhan satu-satunya ini sebagai rasa syukur atas kebaikanNya?
Memang! Kualitas kemanusiaan sedang diuji. Tidak hanya ditanah air. Menyedihkan!