Beberapa bulan kebelakang waktu tampaknya berlalu begitu cepat. Teori relativitas waktu memang benar adanya. 24 jam terasa berlalu bagai beberapa menit saja. Guliran jam guliran hari guliran minggu terasa hanya sekejap. Mungkin ini yang dinamakan berpacu dalam (bukan melodi) waktu.
Waktu istirahat pun tak cukup terasa seperti istirahat yang sebenarnya. Rasanya sekarang waktu yang tepat untuk keluar mencari angin di luar. Keluar dari kepenatan, keluar sejenak dari tekanan. Duduk sejenak memandang langit yang tak cukup cerah, bintang masih bersembunyi namun bulan perlahan meninggi memperlihatkan sinar lembutnya. Mendekati purnama, cukup bulat tetapi masih belum sepenuhnya membentuk lingkaran sempurna.
Bulan selalu utuh. Hanya perbedaan sudut pantulan terhadap mataharinya yang membuat setiap hari selalu berbeda. Kadang hilang total kadang seperti garis lengkung kadang bersinar indah berbentuk serupa layaknya matahari sang pemberi cahaya.
Tak peduli utuh atau tidak, bulan tetap naik bergerak ke atas menjalani harinya. Tak gentar dengan silaunya pancaran sinar matahari bulan cukup menerima refleksi dari matahari, untuk menemani malam. Tanpa tergesa, bergerak sesuai ritmenya sendiri.
Terang bulan (bukan martabak) menemani refleksi singkatku malam ini. Padahal bulan pun mendapat refleksi dari matahari. Berada di antara mereka sepertinya terjadi gerhana dalam diri. Entah gerhana matahari atau bulan. Singkat namun cukup membuatku sedikit bersemangat sebelum masuk ke duniaku lagi.