AES 016 Jembatan Merah dan Kelapa
seline
Tuesday May 12 2026, 8:46 AM
AES 016 Jembatan Merah dan Kelapa

Hari keempat dimulai dengan rasa syukur karena akhirnya aku bisa tidur nyenyak dan bangun jam setengah tujuh pagi dalam kondisi yang lebih segar. Untuk mengisi energi, aku dan yang lainnya sarapan pepaya yang dibelikan Farzan saat dia lari pagi tadi, ditambah porsi nasi goreng yang asoy. Meskipun sudah merasa baikan, aku masih agak ragu dengan kondisi fisikku karna baru saja sakit kemarinnya, jadi aku memutuskan untuk menunda mandi pagi demi menjaga kesehatan. Agenda pertama kami adalah berkunjung ke rumah Bu Tuti untuk melihat peternakan ayamnya. Di sana, kami disambut dengan sangat hangat dan dijamu berbagai makanan kering sambil mendengarkan beliau berbagi banyak cerita menarik tentang kehidupan di sini.

Setelah dari rumah Bu Tuti, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju Kali Progo awalnya tapi ternyata diatas kali itu langsung ada jembatan merah. Jembatan ini punya pemandangan unik karena tepat di bawahnya terdapat pertemuan dua sungai yang menyatu membentuk huruf "Y". Sayangnya, matahari sedang terik-teriknya saat itu, yang membuat kulit beberapa dari kami belang seketika saat sampai di rumah. Sekitar jam dua siang, aku akhirnya memberanikan diri untuk mandi karena aku kepanasan BGT setelah jalan kaki dari jembatan merah. Tak lama setelah itu, Pak Sam datang menjemput dengan rencana awal untuk memperkenalkan jenis-jenis bambu yang digunakan di venue Pasar Papringan. Namun, rencana itu berubah saat kami tidak sengaja berpapasan dengan Pak Yadi dan Pak Moh yang sedang berboncengan motor. Mereka langsung mengajak kami ke kebun kelapa, sebuah tradisi wajib bagi tamu yang berkunjung agar bisa mencicipi air kelapa langsung dari pohonnya.

Kami pun berjalan menuju lokasi kebun yang ternyata berada di jalur lurus setelah melewati Kali Putri atau mata air yang kami datangi di hari kedua. Sesampainya di sana, kami disuguhi atraksi keren saat melihat Pak Moh memanjat pohon kelapa dengan lincah. Dengan golok di tangannya, dia memotong buah kelapa hingga jatuh satu per satu ke tanah. Kami pun menikmati air kelapa yang sangat segar itu langsung dari buahnya. Setelah airnya habis, buah kelapa itu dibelah dua agar kami bisa memakan dagingnya menggunakan potongan kulit kelapa bagian ujung sebagai sendok alaminya. Saat langit mulai mendung, kami pun bergegas pulang melalui jalan pintas yang berbeda dari jalur yang pernah ditunjukkan Mas Ahmad sebelumnya. Hari ini ditutup dengan makan malam sementara pilekku masih sedikit terasa, lalu segera beristirahat untuk mengumpulkan tenaga kembali.