AES 022 Pasar Papringan
seline
Friday May 29 2026, 3:35 PM
AES 022 Pasar Papringan

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba! Akhirnya hari gelaran Pasar Papringan datang juga, yeeeyy! Kami sudah bangun sekitar jam 05.00 pagi karena pasarnya sendiri dibuka tepat jam 06.00. Jadi, kami harus sudah sampai di sana sebelum jam segitu. Kami tiba di lokasi kurang lebih jam 05.40. Awalnya, kami datang sepagi itu karena ingin membantu mempersiapkan stand atau lapak. Namun, ternyata semua stan sudah siap tertata dengan rapih. Akhirnya, kami langsung berpencar dengan sendirinya untuk mengeksplorasi lingkungan dan menikmati suasana di sekitar pasar. Aku dan Farzan berjalan ke arah kanan pasar, sedangkan yang lain menuju ke arah sebaliknya.

Tepat pukul 06.00 saat kami sedang berpencar, perutku mulai terasa lapar karena belum sempat sarapan pagi itu. Aku pun memutuskan untuk membeli dua jajanan terlebih dahulu untuk “mengganjal” perutku, yaitu sate gemblong asin dan kue putu. Setelah selesai makan sambil jalan-jalan melihat sekitar, otakku mulai bertanya-tanya, “Ke mana ya teman-teman yang lain? Kok udah 10 menit enggak ada yang kelihatan?” Didorong rasa penasaran, aku berinisiatif untuk menyusul ke arah yang mereka tuju tadi.

Ternyata dugaanku benar, mereka semua sedang berkumpul di tempat penukaran uang tunai ke alat transaksi khas Papringan, yaitu pring. Sebenarnya, sejak malam sebelumnya kami memang sudah diminta tolong oleh Bu Ella untuk membantu di bagian teller. Tempat penukaran ini lokasinya tepat berada di depan pintu masuk yang ada gapura selamat datangnya. Di Pasar Papringan sendiri ada dua tempat penukaran uang. Selain yang di depan pintu masuk untuk batch pagi, ada satu lagi di bagian agak tengah pasar untuk batch siang.

Sistem transaksinya cukup unik. Di setiap stasiun penukaran terdapat tiga baris antrian horizontal. Di barisan paling kiri adalah untuk kelipatan 50.000 (50, 100, 150 ribu, dan seterusnya). Uang pring untuk barisan ini sudah dipaketkan atau direnteng, di mana satu renteng senilai 50.000 berisi 20 pring. Di barisan tengah adalah untuk kelipatan 20.000 yang juga sudah direnteng, berisi 8 pring per rentengnya. Sementara itu, barisan paling kanan disediakan khusus untuk pembelian satuan, seperti nominal belasan pring atau yang lebih kecil. Di baris satuan ini pring tidak direnteng karena jumlahnya sedikit. Harga satu pring sendiri adalah 2.500. Jika persediaan pring di tiga barisan batch pagi ini habis, tempat penukaran baru akan dialokasikan ke batch siang yang ada di dalam pasar.

Saat aku tiba di sana, aku melihat Ara, Vania, dan Tata sudah duduk siap di bangku meja teller untuk melayani pengunjung. Ara menjaga barisan kiri untuk kelipatan 50.000, Vania di tengah untuk kelipatan 20.000, dan Tata di paling kanan untuk barisan satuan. Sementara itu, Dea bertugas menjadi penghitung pengunjung menggunakan alat penghitung orang aku lupa namanya, tapi itu lho, alat klik yang biasa dipakai pramugari untuk menghitung penumpang. Lalu, Kak Gina dan Bu Ella memantau kerja kami dari meja yang berada di belakang teller. Farzan sendiri entah ke mana, mungkin dia sedang asik jalan-jalan atau membantu warga yang berjualan.

Sejujurnya aku sempat bingung karena semua orang sudah memiliki pekerjaan masing-masing. Akhirnya aku hanya bisa diam berdiri di sebelah Kak Gina dan Bu Ella sambil mengamati yang lain. Oh iya, seharusnya ada remaja-remaja desa setempat yang ikut menjadi teller, tetapi katanya mereka bangun kesiangan. Alhasil, kelas kamilah yang memegang penuh posisi teller di batch pagi. Setelah berjalan sekitar 5 menit, aku melihat Tata sepertinya agak kesulitan di barisan satuan yang dijaganya. Aku pun langsung menawarkan diri untuk bergantian peran dengan Tata. Begitu duduk, aku langsung mempelajari cara kerja transaksi dan cara menuliskan jumlah pring yang ditukar di kertas formatnya. Syukurnya, aku bisa mengerti sistemnya dengan cepat.

Setelah waktu berjalan 40 menit, tibalah puncak keramaian. Antrian orang yang ingin menukarkan uang benar-benar membeludak di depan meja kami. Di tengah-tengah kehebohan itu, ada segrup ibu-ibu yang terdiri dari sekitar 7 orang sedang asik mengobrol menggunakan bahasa Sunda. Secara spontan, kami langsung bertanya dari mana asal mereka. Benar saja, mereka ternyata orang Bandung. Setelah mengobrol singkat, kagetnya ternyata mereka adalah teman-temannya Kak Andy. Wah, dunia terasa sempit ya… Mengetahui fakta itu, kami langsung memperkenalkan diri bahwa kami adalah murid-murid Semi Palar. Kedua belah pihak sama-sama kaget sekaligus tertawa. Setelah itu, mereka lanjut berjalan ke dalam pasar dan kami melanjutkan pekerjaan kami kembali.

Namun, di tengah kesibukan itu, ada sedikit hal yang membuatku SEBAL. Banyak pengunjung yang tampaknya kurang literasi. Padahal di depan meja teller sudah terpampang tulisan yang BESAR mengenai rentang harga pring untuk makanan atau kerajinan, lengkap dengan petunjuk kelipatan uang untuk setiap baris antrian. Eh, masih saja ada orang yang datang ke barisanku (yang khusus satuan) lalu menyodorkan uang 300.000 untuk ditukarkan?!?! Di dalam hatiku membatin, “Aduh Ibu, masa Ibu enggak lihat tulisan segede gaban di depan barisan itu apa?” Setelah melewati berbagai ke chaos an tersebut, akhirnya pring di ketiga barisan kami habis total. Operasional penukaran pun langsung dialokasikan ke tempat penukaran batch siang yang ada di dalam pasar, yang kini sudah diurus oleh remaja-remaja desa yang baru datang. Karena tugas kami sudah selesai, aku pergi ke meja belakang teller batch siang untuk menyimpan tas.

Meskipun perutku masih terasa agak kenyang karena gemblong dan putu tadi pagi, aku merasa sangat haus karena banyak bicara dan memberitahu ke banyak orang ketika mereka berada di barisan teller yang salah. Aku pun langsung berjalan-jalan mencari stand minuman. Ternyata di sana ada lumayan banyak lapak yang menjual es teh dan es jeruk. Saat aku mendatangi salah satu lapak untuk memesan es jeruk, ternyata di sana ada teman-temannya Kak Andy yang kami temui di meja teller tadi. Untungnya mereka masih mengenali wajahku. Tiba-tiba saja, mereka semua mengumpulkan sisa pring mereka sekitar 2 sampai 3 pring per orang, lalu memberikannya kepadaku. Mereka berkata, “Eh, kita kayanya udah mau pulang deh. Ini pring sisanya buat kamu aja, jangan lupa dibagikan ke teman-teman yang lain ya.” Aku yang kaget sekaligus senang langsung menjawab heboh, “TERIMA KASIH BANYAK TANTE! OMG, BAIK BANGET, TERIMA KASIH LHO TANTE!” Setelah es jerukku jadi, ibunya bilang kalau gelasnya boleh dibawa. Aku pun berjalan kembali ke meja tempat menyimpan tas sambil minum es jeruk segar di tengah udara pasar yang sejuk.

Di meja belakang teller 2 alias batch siang, aku bertemu dengan Ara, Tata, dan Hilya (anak yang punya rumah singgah kami). Kami pun asik mengobrol sampai hari agak siang, sekitar jam 09.00. Tiba-tiba, aku dipanggil oleh Mbak Ika, orang Spedagi. Aku diminta untuk mengikuti beliau dan ternyata aku dimintai tolong untuk membantu menghitung pring dari setiap lapak pedagang. Setelah pring dihitung, jumlahnya akan ditulis di kertas bon, lalu pringnya ditarik kembali ke bagian teller karena persediaan pring di sana sudah hampir habis. Pekerjaan ini seru banget sih. Sembari menghitung pring, aku sekalian bisa melihat-lihat stan makanan yang belum sempat aku kunjungi sebelumnya.

Aku sempat berhenti di sebuah lapak gorengan yang menjual lumpia goreng dengan berbagai varian isi seperti, rebung, wortel, toge, dan jamur. Ada juga tempe mendoan di sana. Mungkin karena melihat muka kelaparanku, Mbak Ika tiba-tiba menawarkan, “Mau coba?” Aku pun bertanya ragu, “Emang gapapa, Mbak?” Penjual gorengannya langsung menyaut ramah, “Gapapa, ambil aja kalau mau coba.” Akhirnya aku mengambil satu lumpia isi rebung, dan rasanya ENAK BANGET! Karena enaknya seenak itu, aku langsung memesan satu untuk setiap varian isi agar bisa kuambil setelah pekerjaanku selesai nanti.

Tepat di sebelah lapak gorengan itu, ada lapak milik Bu Imah, istri dari Pak Endro yang punya rumah singgah kami. Beliau menjual sate ayam dan sate tempe bacem yang kemarin malam sempat kami bantu tusuk-tusukin porsinya. Di sana, aku juga melihat Farzan yang sekitar 80% waktunya di pasar dihabiskan untuk membantu Bu Imah membakar sate. Lucu banget tau lihatnya, udah kaya beneran orang Jawa, hahaha.

Pekerjaan menghitung pring dari lapak ke lapak ini berjalan kurang lebih sekitar satu setengah jam. Begitu selesai, aku kembali lagi ke meja belakang teller untuk beristirahat. Tiba-tiba aku teringat kalau kami memiliki jatah makan siang sebesar 8 pring. Aku pun langsung pergi ke tempat penjual lotek. Karena ingat kemarin saat sesi test food aku sempat mencobanya dan rasanya memang enak banget. Setelah membeli lotek, aku kembali lagi ke base meja belakang.

Di tengah ramainya suasana pasar, tiba-tiba ada pemandangan unik. Salah seorang tetangga kami menggendong kucingnya berjalan-jalan melewati keramaian. Kucing itu digendong persis seperti anak balita dan sama sekali tidak dipakaikan tali pengikat. Anehnya, kucing bernama Molly itu bisa diam saja dan super kalem. Lucu banget, aku belum pernah melihat kucing sekalem itu di tengah keramaian pasar.

Akhirnya, gelaran pasar resmi selesai tepat jam 12.00 siang. Sebelum pulang ke rumah singgah, kami semua diarahkan untuk berkumpul di rumah Bu Ella terlebih dahulu. Begitu sampai di sana, mataku langsung terbelalak melihat segunung uang tunai hasil pendapatan pasar hari itu. Itu adalah uang cash terbanyak yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Setelah selesai dihitung bersama, ternyata hasil dari sekali gelaran pasar hari ini mencapai sekitar 80 juta!!! Gila, banyak banget!?!? Setelah urusan di rumah Bu Ella beres, kami semua langsung pulang ke rumah singgah. Karena energi kami sudah terkuras habis untuk gelaran pasar yang seru hari ini, kami memutuskan untuk langsung beristirahat total di rumah sampai hari berakhir.

You May Also Like