Sudah hampir 2 tahun kita hidup berdampingan dengan Covid-19, dan sampai hari ini covid belum hilang hilang dikarenakan masih banyak orang yang tidak mau mengikuti protokol kesehatan (prokes). Dari mulai anak kecil hingga lansia tidak mengikuti protokol kesehatan. Tidak mengikuti protokol kesehatan adalah masalah yang sering muncul di masyarakat Indonesia, meskipun masalahnya terlihat ringan, tetapi susah ditangani karena masih banyak orang yang tidak percaya kehadirannya corona dan tidak percaya guna nya masker dan hand sanitizer. Jika masih banyak orang yang tidak mau mengikuti protokol kesehatan, kasus covid akan meningkat karena bakteri dari droplet bisa menyebar ke orang lain dan lain lain. Berdasarkan artikel di merdeka.com, sebanyak 11% persen orang di Indonesia yang tidak mengikuti protokol kesehatan.
Beberapa hari yang lalu saya telah mewawancarai dengan anggota keluarga saya, yaitu ibu saya yang bernama Syagini Ratna Wulan. Saya memilih untuk menginterview dia karena dia mempunyai sudut pandang yang berbeda terhadap Covid-19 ini dibanding orang lain. Ini adalah hasil interview nya.
Mengapa orang-orang tidak mau memakai masker?
“Mungkin saja kekurangan oksigen atau mempunyai gangguan pernafasan, atau bisa juga dia sudah mempunyai perlindungan pribadi dan dia percaya bahwa bahan masker yang non wofen sintetis itu mengandung racun dan merusak lingkungan.”
Apakah mereka tidak takut terkena corona?
“Mungkin mereka sudah pernah terkena covid sebelumnya jadi merasa dirinya sudah kebal, untuk yang belum kena mungkin mereka sangat percaya bahwa akan kekuatan dan kekebalan badannya. Mereka percaya bahwa badannya diciptakan oleh sang pencipta, bukan diciptakan oleh pikiran buruknya, juga bukan diciptakan oleh ketakutan yang disebar di media sosial.”
Mengapa mereka bisa santai santai saja?
“Karena obat sehat itu santai dan happy”
Apakah mereka punya perlindungan pribadi?
“Karena kita tidak bisa menganggap orang lain lebih bodoh dari kita, jadi kita tidak bisa menghakimi cukup besar kemungkinan bahwa setiap orang punya perlindungannya terhadap diri sendiri. Tapi poin yang paling penting bahwa badan manusia punya kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri.”
Bagaimana cara mereka menjaga diri selama hidup berdampingan dengan corona?
“Kalau menurut pandangan saya ada orang-orang yang menjaga kekebalan tubuhnya tetap baik dengan hal-hal yang tidak biasa seperti, olahraga organ tubuh melalui latihan pernafasan dengan metode Wim Hof, Qigong, juga bermeditasi jaringan tubuh untuk menguatkan cakra dan meningkatkan kekebalan tubuh. Lalu yang harus dilakukan adalah melepaskan rasa takut dengan metode releasing seperti EFT, sedona, dan Tre. Lalu untuk asupan sehari-hari perbanyak sayur organik, yang tidak mengandung GMO (Genetic Modifred Organism), dan asupan yang tinggi kandungan glutathione seperti kale, brokoli, bayam, bawang putih dan lain lain, juga disertai vit C dan olahraga.”
Interview nya berjalan dengan lancar saya setuju dengan pandangan ibu bahwa orang punya alasan sendiri mengapa tidak mengikuti protokol kesehatan. Tetapi jangan juga menormalkan orang yang tidak mau mengikuti protokol kesehatan dengan alasan yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Iya segitu saja dari saya, semoga kalian setelah membaca blog saya bisa merubah pandangan yang baru terhadap ada nya Covid-19 ini dan orang orang yang tidak mau mengikuti protokol kesehatan. Terimakasih semuanya, semoga Covid-19 ini cepat hilang dan Indonesia kembali seperti dulu saat tidak ada Covid-19, atau mungkin saja bisa lebih baik karena kita sudah mendapatkan banyak pelajaran saat hidup berdampingan dengan Covid-19.
Daftar pustaka:
https://m.merdeka.com/amp/peristiwa/data-satgas-covid-19-8881-masyarakat-pakai-masker-8843-jaga-jarak.html (diakses tanggal 13 september 2021)
Sumber foto
https://pt.pngtree.com/freepng/corona-virus-women-clean-their-hands-by-spraying-with-alcohol-gel-or-antibacterial-soap-cleanser_5342797.html
Wawancara dengan ibu Syagini Ratna Wulan
Tanggal 10 September 2021
Penulis: Surasuci
Teksnya sudah keren, dan aku pun menjadi terbayang apa pandangan orang lain terhadap pandemi ini. Karena ternyata pandanganku berbeda dengan yang ada di teks.