AES22 the periodic table
vania
Monday October 28 2024, 3:20 PM
AES22 the periodic table

Setelah lama tidak menulis, mari kita menulis lagi. Sesi tadi siang bersama dengan Kak Andy, menjadi sebuah reminder betapa pentingnya menyadari siapa diri kita dan apa yang ingin kita cari. Karena untuk aku sendiri, aku masih bingung mau apa. Kalau aku melihat orang lain, mereka memiliki hobi dan bakat yang sudah sangat jelas dan aku rasa akan dilanjutkan hingga mereka dewasa. Sedangkan aku ini, chaotic banget. Aku bisa ini dikit itu dikit. 

Jadi kalau ditanya Vania itu mau apa, jujur aku juga masih bingung. Mungkin aku memang masih di proses untuk mencari bintangku sendiri. Karena proses bagi masing-masing individu berbeda-beda sesuai dengan kapasitasnya. Anyway, kali ini kita bukan membahas identity crisis, melainkan apa sih perbedaan Semi Palar dengan sekolah pada umumnya?

Sungguh, jauh berbeda. Setelah bertemu banyak orang di luar (selain lingkungan sekolah dan rumah), kebanyakan orang takjub dengan sekolah ini. Kok bisa anak SMP pergi ke luar kota sendiri? Bikin buku? Proyek inovasi? Kampung adat? Project based, apaan tuh? SERIUS SMANYA GAK ADA PELAJARAN?? AKU JUGA MAU!! MAU PINDAH KE SANA AJA DEH!!.

Padahal selama aku bersekolah di Semi Palar, dari kelompok bermain, rasanya sekolah ini ya biasa saja. Tapi kalau aku compare dengan sekolah lain, ternyata memang ada perbedaan yang kontras. Banyak teman-temanku yang menghabiskan hari-harinya belajar pelajaran, mungkin 12 mata pelajaran. Pusing banget pasti. Aku suka mikir sendiri, gunanya mereka belajar 12 tahun kalau metodenya gini, apa sih gunanya? Terus mereka dewasa bakal dipake gitu tabel periodik? Atom? Aduh, kacau. Tapi aku salut dan tepuk tangan sih untuk kemampuan menghafal segala hal. 

Aku yakin, ada banyak sekolah lain di luar sana yang punya prinsip-prinsip holistik seperti ini. Tapi mungkin hanya sepersen, dan sisanya ya seperti itulah kenyataan pahit yang harus kita hadapi. Apalagi di Indonesia, yang kurikulumnya kacau banget. Perbedaan Semi Palar yang mudah terlihat adalah program merdeka belajar yang memang sudah ada dari lama. Dengan metode pembelajaran berbasis proyek dan tema yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa untuk kehidupan sehari-hari mereka. 

Tentu, proses merupakan hal yang jauh lebih penting dari sekedar nilai. Tapi sayangnya, di sekolah lain, terutama sekolah negeri, hal ini malah jadi ajang kompetisi. Tak terkecuali sekolah-sekolah yang gurunya ikut ke sistem korup ini. Guru sengaja membuat nilainya bagus, padahal mungkin sebaliknya. Jadi meskipun siswa tersebut terlihat pintar, mungkin ia tidak mengerti. Sama dengan metode hafalan yang hanya akan mereka ingat saat ujian. Ketika selesai ujian, informasi tersebut akan langsung masuk ke recycle bin otak mereka

Hal ini membuatku berpikir, kalau sekolah-sekolah ini memakai prinsip dan metode yang sama, seharusnya pendidikan kita melesat maju sih. Tapi ya, lagi-lagi kita ada dibawah pemerintah yang bukannya membantu secara utuh, malah korupsi dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Aku berharap, setiap siswa bisa berekspresi secara bebas tanpa dibuat batas-batas tertentu. Biarlah mereka memiliki ide, merekalah yang akan mewujudkan Indonesia Emas 2045. “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world,” kata Nelson Mandela. 

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Wow... well written Vania. Good post 🙏🏼😊