Selama kami di sini, kami sudah beberapa kali pergi ke Sawah. Ada sawah yang berada di sisi kiri dan sisi kanan Desa Ngadiprono ini.
Kalau sawah di sebelah kanan, terdapat banyak variasi tanaman di sana. Mulai dari jagung, cabai, padi, tembakau, dan lainnya.
Kami sempat jalan melewati sawah ini ketika kami ingin melihat Kali Progo yang ada jembatan di atasnya. Di ujung sawah itu, akhirnya kami melihat sebuah kali yang merupakan gabungan dari dua sungai di bawahnya.
Ada jembatan merah di atasnya, di mana para petani dan pemotor bisa pergi ke desa lain dengan mudah. Di jembatan ini, kami naik di tengahnya - jadi bukan di salah satu ujungnya. Ternyata, cukup mengerikan juga berdiri di atas jembatan.
Nah, kalau sawah di sebelah kiri desa, ada sawah yang hampir seluruhnya adalah padi. Tapi ada juga beberapa pohon kelapa.
Untuk mencapai sawah di kiri ini, kami harus berjalan dari rumah tinggal ke area Pasar Papringan, Kali Putri (tempat mencuci dan mandi pada perempuan - ada tujuh pancuran air), masuk ke jalan kecil di kanan, dan jalan lurus.
Di sana kami duduk di pematang sawah sambil melihat Pak Muh memanjat pohon kelapa dan melemparnya ke bawah. Pemandangan sawah di sini sungguh memanjakan mata, tidak seperti yang biasanya aku lihat di kota.
Jadi, kami duduk minum kelapa yang sudah dibuka sambil mengobrol. Tentu saja ditemani dengan bau khas tembakau dari rokok yang dilinting sendiri.
Meskipun baru beberapa hari di sini, aku melihat bahwa sawah ini sungguh menjadi pusat kehidupan warga di sini. Tidak hanya sebagai tempat untuk mencari nafkah tapi juga di mana interaksi sosial paling banyak terjadi.