Tahun ke tahun selalu ada waktu yang membuatku lebih sibuk dari biasanya, adalah ketika kembali mengajar. Meski hanya dua hari dalam sepekan jatahku mengajar, kuakui hari itu layaknya hari suci bagiku. Tak ada hal yang bisa menggeser kecuali amat sangat mendesak.
Namun, ada perbedaan besar yang kurasakan sejak pandemi. Apalagi saat aku nekad mengatur jadwal mengajar secara paralel di dua tempat sekaligus, dan itulah hal tergila yang pernah kulakukan apalagi dengan berjarak. Mengerikan. Aku menjadi supersibuk bahkan di akhir pekan pun masih harus menyelesaikan materi ajar dan menilai. Serasa juggling antara urusan mengajar, rumah dan mendampingi anak. Satu meleset bubar jalan. Nggak sama sekali keren sih, aku merasa kehilangan banyak di saat itu.
Ternyata yang paling mengerikan adalah jika sebelumnya aku menggeser prioritas hanya di dua hari, kali itu aku menggeser banyak prioritas hampir di setiap hari sehingga ada hal-hal yang kusenangi terpaksa kutinggalkan. Sepanjang satu semester aku jungkir balik mengembalikan siklus yang semestinya bisa kujalani dengan lebih santai. Akhirnya aku mengerti soal target, bukan lagi berfokus pada berapa banyak target yang harus terlampaui, tetapi menjadikan pekerjaan itu sebagai berkah kebaikan. Perbedaannya aku jadi bisa mengurangi sibuk dan menikmati prosesnya sebanyak mungkin, sisi positifnya aku gak terlalu stress ketika target itu sedikit meleset.
Dalam proses itu pun aku mempertanyakan sebetulnya apa sih yang jadi keinginan terdalamku? Karena bisa saja perasaan saat aku berhasil melihat targetku tercapai gak sebanding dengan apa yang sudah kulewatkan demi hal itu. Maksudku, perasaan ini kan tidak kekal, semua ada batas limitnya. Saat aku merasa bahagia atas capaian edom misalnya, ketika momen itu terlewati sudah, semuanya ya akan mengkristal. Atas itu pula aku bertekad mengakhiri kerancuan dalam diriku. Aku harus kembali mengalir tanpa dibebani perasaan ini dan itu. Tanya "Apa lagi yang akan kukejar setelah ini?" mendadak hilang, bukannya tak lagi berselera, tetapi aku mau menempatkan segalanya dengan wajar, hingga aku pun bisa dengan berani merasa cukup. Bukankah itu yang dimaksud dengan bahagia?
Ya, setidaknya aku gak perlu terjebak mengejar sesuatu yang tidak ada habisnya. Tetapi tetap bisa menjalani hidup secara tenang tanpa perlu terburu-buru. Tujuan akhirnya tentu berharap untuk bisa ada di gelombang nafs muthmainnah.