Pagi tadi aku sempat mendengarkan homili Kardinal Suharyo minggu kemarin tentang pengharapan. Bapak Uskup sempat menjelaskan bahwa harapan tidak serta merta sama dengan optimisme.
Optimisme, menurut Bapak Uskup dilandaskan pada perhitungan-perhitungan manusia, sementara harapan dilandaskan pada keyakinan bahwa Allah yang telah memulai sesuatu yang baik akan menyelesaikanya pula.
Aku pun jadi teringat rasa kecewa yang pernah kumiliki terkait harapan. Penjelasan Bapak Uskup itu menyadarkan bahwa ternyata itu adalah ekspektasi dan bukan harapan.
Ketika apa yang dinantikan tidak terwujud ada rasa marah yang ingin mempersalahkan sesuatu atau seseorang atau keadaan. Perasaan tidak terima pada kegagalan membuatku terus mempertanyakan, 'Mengapa?'
Kesedihan yang bercampur-campur itu pada akhirnya membuatku merasa tak layak, dan tak cukup baik dan pantas menerima apa yang jadi pengharapan itu. Kekecewaan membuatku menutup diri, dan melunturkan optimisme menjadi pesimisme.
Ekspektasi menurut kamus juga bermakna harapan, namun ekspektasi jelas milik manusia dan berlandaskan perhitungan manusia. Kemauan ini itu, begini begitu yang dilandasi rencana manusia. Sedangkan menurut Bapak Uskup, harapan adalah tentang rencana Tuhan dan tentang menyandarkan diri pada keyakinan akan kesempurnaan rancanganNya.
Aku teringat bagaimana kekecewaanku dulu itu membuatku berteriak menyerah padaNya, 'Baiklah, jika memang menurut Engkau bukan itu, lalu apa?' Lontaran pertanyaan itu ternyata membuatku belajar mendengarkan. Lewat kehadiran diri aku belajar menyadari keberadaanku dalam momen kehadiran itu, apa adanya dan hanya mendengarkan.
Jawaban yang kuperoleh dalam kehadiran yang berwujud kepingan kata atau gambar bercerita dalam kepala pada akhirnya memunculkkan ketekunan untuk hadir terus menerus karena adanya kebutuhan akan jawaban. Bisa jadi seperti anak Smipa yang senang berada di sekolah karena suasana di sekolah yang menyenangkan.
Kesenangan demi kesenangan yang terlewati dalam kehadiran dari waktu ke waktu itu yang kemudian memberikan gambaran lain berupa kepingan diri. Menyatukan kepingan diri yang terkumpul satu satu itu serupa dengan keyakinan akan rencanaNya atas diriku, dan lantas terasa jadi seperti sebuah harapan.