Akhirnya melangkahkan kaki ke PVJ lagi, setelah lebih dari setahun absen dari sepuluh tahun kunjungan rutin karena pekerjaan. Demi anak lanang, kami ke Kala Kini Kinanti untuk satu pengalaman arsitektural.
Sepulang PTM kemarin kami langsung melipir ke sana dan sesampainya di sana kami berkeliling sembari menunggu jam kunjungan pameran selanjutnya yang dibuka setiap satu jam sekali.
Kami menyempatkan diri melihat-lihat perubahan apa yang ada di sana, toko mungil kami masih tetap sama dan masih kosong belum ada penyewa baru. Toko di depannya sudah berganti penyewa, 3 toko brand besar di sekitarnya dan beberapa toko kecil tutup juga. Suasana cukup sepi di rabu siang itu, tak banyak orang berlalu lalang, lengang tanpa kesibukan.
Sungguh berbeda rasanya ketika hadir di sana hanya sebagai pengunjung dan berjalan-jalan menyusuri lorong tanpa tempat tujuan tertentu.
Tidak ada rasa kehilangan, tidak ada rasa rindu, tentu tidak ada juga rasa sedih karena PVJ bukan lagi jadi bagian dari kehidupan kami. Justru rasanya ringan dan bebas melangkah tanpa beban.
Setelah berputar, kami tiba kembali lokasi pameran dan tepat pukul 1 siang kami dipersilakan masuk ke ruangan. Sebelum masuk petugas menyodorkan selembar kertas bergambar berisi gambar kode untuk dipindai sebagai akses ke katalog digital karya peserta pameran. Di dalam ruangan gelap, samar-samar terlihat maket-maket yang berjajar di depan kami
Tak lama kemudian keempat sisi dinding ruangan yang menjadi layar itu mulai menyala menayangkan video presentasi penjelasan karya-karya dengan tatanan videografi yang apik. Satu-persatu maket pun mulai disorot lampu dan ruangan pun menjadi terang hingga kami bisa berkeliling melihat maket. Setiap maket bisa dilihat nomernya pada lantai yang juga jadi bagian dari layar tayang videonya. Sementara penjelasan dari karya bisa dibaca pada video di dinding layar yang terus menayangkan deret demi deret tulisan penjelasan dari 66 karya yang dipamerkan itu.
Sebuah kemasan baru pameran arsitektur yang apik, mengikuti perkembangan teknologi, meski desain arsitekturnya tetap seputar permainan ruang dan pembentuk ruang.
Mengamati satu persatu karya itu seperti membongkar peti tua berisi suasana masa lalu, kami merasakan ruang, mencerna rasa yang muncul karena daya tarik karya itu, konsep yang dituliskan maupun detail-detail menarik dari bangunan-bangunan mungil itu.
Selain nostalgia rasa akan pengalaman ruang, lebih penting bagi kami saat itu adalah kesempatan kami mengamati minat Milo lewat pengalamannya dalam ruang itu.
Kami mencermati apa saja yang dilakukannya selama 40 menit itu, hal apa yang menggugah ketertarikannya untuk menghampiri suatu karya, hal apa yang memicu rasa ingin tahunya, apa hal yang jadi pertanyaan-pertanyaannya selama di sana, apa yang kami diskusikan, seperti apa antusiasmenya saat mendengarkan penjelasan kami, dan juga pendapat-pendapat yang ia lontarkan terhadap karya-karya itu.
Momen itu terasa sebagai pijakan baru buat Milo yang mulai mengalami dunia yang menarik minatnya itu, meski masih dalam posisi pengamat di kejauhan. Begitu pula bagi kami yang akan mendamping prosesnya. Tentu kami bisa merasakan kendala kami hingga saat ini tidak berkarya di dunia arsitektur, sehingga kurang lebih kami pun punya gambaran apa saja yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi profesional di sana dan apa saja sisi-sisi yang perlu dibangun dari diri Milo.
Satu pijakan yang cukup menenangkan, meskipun ternyata kegiatan jalan-jalan di mall itu menguras energi, karena pukul 8 malam aku pun sudah tertidur pulas tanpa sempat menulis.