Bebas. Satu kata sakti yang menampilkan ketidak mampuan. Bukankah kita hanya mampu melakukan hal yang kita ketahui saja. Buktinya, ketika mendapatkan kata bebas ini yang dilakukan adalah mengulang pengalaman terdahulu di sekarang ini. Betapa tidak mampunya menghadirkan hal baru, rasanya demikian dan rasa ini menyebalkan rasanya. Tuh kan, kebebasan merasa ini pun membuat diri merasakan rasa dan tidak mampu untuk tidak merasakannya. Bebas kah yang begini?
Jadi mudah lah untuk memiliki kendali saat memberikan kebebasan, karena yang muncul adalah kecenderungan pola dan beragam variasi yang tidak jauh daripadanya. Daripada saat memberikan pembatasan dan arahan bahkan pengawasan, membuat kendali berkurang dengan sangat signifikan. Karena variasi yang hadir dari pembatasan adalah keluar dari dinding batasan, jadinya di luar dugaan kan. Yah kalau bukan aksinya yang mendobrak dinding batasan, gerutuan & gosipnya menyebar ke udara dan saling bertemu dengan frekuensi serupa menggumpal jadi semacam awan berat mengandung partikel entahlah yang entah juga kapan turunnya.
Berikan kandang berjeruji kebebasan dan ia akan bertindak seperti dirinya sendiri, semampu dirinya sendiri dan setidak mampu dirinya sendiri yang begitu saja dan ragamnya terduga juga. Tanpa diminta, ia akan masuk kandang dengan sukarela. Kurung ia dalam lingkaran pengungkung bertembok aturan dan keharusan dengan pengawasan, maka ia akan menemukan mereka dan semakin banyak dan semakin besar dan menciptakan gerakan tak terduga yang sangat merepotkan. Pecahlah tembok lingkaran pengungkung itu dan hadirlah kelompok baru dengan kebebasannya yang baru.
Setelah terjadi demikian bagaimana? Hmm.. alternatif responnya bisa jadi yaitu, pertama adalah nikmati saja. Aahhh.. mantap! ini kelegaan sesaat, mengingat kalimat kelima tulisan ini. Kedua, kembali lagi saja ke paragraf pertama kalimat ketiga dan lanjut ke paragraf ketiga kalimat pertama.