Bersentuhan dengan luka pasti akan membuatmu rapuh. Ketika satu persoalan sederhana membuat kegelisahan yang lama, bisa jadi karena di dalam diri termuat memori luka lama terkait persoalan yang sama. Kegelisahan itu adalah cara tubuh mengorek luka lama itu agar terlihat dengan jelas, sementara persoalan barunya hanyalah media untuk membereskannya.
Jika ada kemauan untuk menengok, merasai luka itu seberapapun pedihnya, berarti ada kesempatan untuk menjadi sembuh karena kesadaran untuk merawat lukanya.
Sebaliknya jika kerapuhan begitu menakutkan maka yang terjadi selanjutnya adalah penyangkalan atau pelarian diri. Jika sudah begitu kesempatan sembuh menjadi terlewati dan bukan tidak mungkin luka bertambah lagi.
Dalam kacamata lain persoalan juga bisa dilihat sebagai bentuk karma. Apa yang terjadi di depan mata adalah buah karma sebelumnya. Kehadirannya adalah kesempatan berharga untuk membereskan karmanya sehingga seseorang dapat terlepas dari karma-karma bahkan lingkaran samsara. Menjadi manusia adalah kesempatan yang ditunggu oleh setiap jiwa-jiwa untuk menuntaskan karmanya.
Itulah jalan pemurnian diri, serupa menjernihkan atau mengosongkan diri. Pemicu bisa jadi seperti sebuah batu yang dilemparkan di permukaan air, dan oleh karenanya air yang tenang bergolak. Jika kemudian hal itu mengusik diri sehingga muncul kegelisahan untuk mencari batunya, maka usaha mengeluarkan batu itu akan membongkar endapan di dasar air dan kemudian munculah kesempatan untuk sekaligus mengeluarkan endapannya. Keputusan ada di tangan yang ingin mengangkatnya.
Selalu ada hasil pemikiran berupa keputusan yang mendahului setiap tindakan demi tindakan. Pemilihan keputusan demi keputusan itulah jalan pemurniannya. Akan jadi kian jernihkah atau tetap nyaman dalam kekeruhan.
Jalan pemurnian juga bisa berarti jalan salib. Usaha peniadaan diri yang penuh ketidaknyamanan yang hanya bisa dilalui dengan keyakinan akan arah kebaikan.
Barangkali seperti ketidakmengertian yang muncul saat membaca tulisan ini, ketidakmengertian pula lah yang menjadi teman selama proses itu berlangsung. Sebuah jalan yang penuh ketidaktahuan, bisa jadi gelap, bisa jadi berbatu dan mendaki. Kunci melewatinya hanyalah dengan setia pada tiap langkahnya.
Menapak satu demi satu. Menapaki sungguh setiap tapakannya, dan menjejaki tapakan hingga dapat merasakan dorongan balik dari alas pijakannya. Seperti itulah kesadaran menjejak, selalu ada gema dari apapun yang terjatuh di atas muka bumi. Selalu ada gaung dari tiap tetesan energi di atas permukaan semesta. Tidak ada yang statis kecuali mati, karena hidup selalu menggerakkan sesuatu. Menghidupi kehidupan adalah dengan terus bertumbuh selama hidup mengalir, dan tidak membiarkan jiwa menjadi mati dalam raga yang hidup.