*Peringatan beberan (spoiler alert)
Masih lewat subuh, gedung-gedung Tokyo sekadar titik-titik cahaya lampu yang sebentar lagi lenyap, selagi gerisik daun-daun berbisik dengan berisik. Di jalan lowong itu, terlihat seorang perempuan tua menyapu semua yang tersisa dari hari kemarin. Berpindahlah adegan pada sebuah kamar, kamar petak sederhana. Seorang lelaki paruh baya terbangun tanpa bunyi weker sebelumnya. Dari keremangan, bisa terlihat lampu duduk yang menunduk pada William Faulkner yang sedang menelungkup. Begitulah adegan pembuka Perfect Days (2023) garapan Wim Wenders.
Lelaki paruh baya pada adegan pembuka itu ialah Hirayama, protagonis dalam film ini. Hirayama bekerja sebagai pembersih toilet umum di seputaran Tokyo. Ia memiliki rutinitas yang mundane, sebagaimana masyarakat pekerja kerah biru pada umumnya. Mulai dari bangun ketika cahaya matahari masih sipit, melipat futon, menyemprot tanaman, berseka, membeli kopi kalengan dari vending manchine, sebelum akhirnya ia berangkat kerja. Rutinitas tersebut dihadirkan secara berulang dan ulang dalam film.
Sepanjang film, Hirayama hanya sedikit saja membuka mulutnya untuk berbicara, maka sedikit pula kesempatan untuk mengetahui motif utama film. Namun, berbarengan dengan itu, satu-dua hal terjadi di tengah rutinitas yang dijalankannya. Distorsi-distorsi kecil yang terjadi dalam rutinitasnya, secara tak langsung, sedikitnya membeberkan tentang siapa sebenarnya Hirayama, atau setidaknya, apa yang ada di dalam pikirannya. Teknik naratif yang seolah “bertukar tangkap dengan lepas” menjadi sebuah cara yang membuat penonton akan terus mengira-ngira dan menanti-nanti hingga film berakhir, yang bisa jadi membuat film ini memikat atau justru sebaliknya.
Profesi yang dilakoni Hirayama adalah sebuah keputusan yang secara sadar dipilihnya. Dalam satu adegan, diceritakan bahwa ia sebenarnya bisa saja menjalani kehidupan yang lebih baik—juga lebih sempurna—dalam sudut pandang orang kebanyakan. Namun ia menganggap bahwa hanya dengan profesi inilah ia bisa menghabiskan hari demi hari dengan sempurna.
Hirayama tidak hadir secara tiba-tiba, ia memiliki masa lalu yang tidak diceritakan. Masa lalu inilah yang harus ditanggung olehnya, sehingga ia memilih untuk menjalani kehidupan sepanjang narasi film. Lagu House of the Rising Sun-nya The Animals mengawali adegan ketika Hirayama mengendarai mobil van untuk berangkat kerja, /Oh mother, tell your children/Not to do what I have done/Spend your lives in sin and misery/In the house of The Rising Sun/. Lirik tersebut bisa dihubungkan dengan kehidupan Hirayama sendiri. Ia mungkin bukanlah tokoh yang sepenuhnya baik dan baik-baik saja, dan ia sangat sadar akan hal ini.
Dalam beberapa adegan, ia pun merasakan berbagai emosi yang terejawantahkan dari mimik atau gestur tubuhnya, misalnya senang, terpikat, sedih, bingung, kesal, cemburu, malu, dan selainnya. Dengan kata lain, ia tak sepenuhnya terbebas dari perkara. Hanya saja, ia menghikmati segalanya dengan penuh sadar ketika emosi itu hadir. Ia tidak memaksakan segala hal yang berada di luar kuasanya, mirip laku zen, yang secara praktis dapat diartikan sebagai menyerap segala hal dengan hikmat.
Barangkali, hari sempurna yang dimaksud dalam Perfect Days adalah hari ketika seseorang dapat menyelesaikan segala hal yang dapat diselesaikannya, seperti ketika Hirayama tidak terburu-buru membaca buku William Faulkner dengan menyisakan beberapa lembar untuk dibaca pada esok hari. Sementara, membiarkan sesuatu terjadi pada esok hari jika memang harus terjadi. Hal ini dinyanyikan oleh Hirayama kepada Niko, keponakannya, “kondo wa kondo, ima wa ima!” yang gampangnya diterjemahkan jadi, “nanti ya nanti, sekarang ya sekarang!”.
Sedangkan, bagaimana dengan masa lalu? Masa lalu selalu berada pada tempatnya, tidak pernah dan akan bergeser sedikit pun. Mungkin beberapa hal bisa terlupa, tetapi itu cuma sebentar dan juga yang terlupa cuma bagian-bagian pucuk esnya saja. Hal yang pasti, semua yang terjadi pada masa lalu membawa seseorang pada saat sekarang. Maka, tidak ada pilihan lain, seseorang haruslah menerima masa lalu dengan penuh sadar sebagai alasan untuk disikapi pada saat ini. Sedikitnya, soal masa lalu beririsan dengan lagu Perfect Day dari Lou Reed, /Just a perfect day/Problems are left to know/Weekenders all night long/It's such fun/Just a perfect day/You make me forget myself/I thought I was someone else/Someone good/.
Film Perfect Days mungkin memiliki konflik yang tipis, tetapi dari sinilah Perfect Days dapat dimaknai dengan luas. Kehidupan seorang paruh baya yang mundane dan berulang. Hirayama tidak banyak berbicara, dengan begitu kepalanya penuh dengan pembicaraan, sama seperti orang-orang yang menonton film ini. Setelahnya, adegan berakhir ketika Hirayama kembali berangkat kerja. Kali ini ia memutar lagu Feeling Good yang dinyanyikan oleh Nina Simone, /It's a new dawn/It's a new day/It's a new life/For me/And I'm feeling good/. Dari berbagai hal yang dialami oleh Hirayama sepanjang film, pada hari itu, pada pagi yang baru, Hirayama merasa baik-baik saja, begitu pun seharusnya yang dirasakan oleh penonton film ini.
2024
Wah menarik kak buat jadi watchlist aku, kak coba nonton Drive My Car premisnya bagus.
Iyaa, itu film asyik. Saya udah nonton dan baca cerpennya juga. Wah kayaknya selera kita sama, nih. 😁
Keren... Nuhun esainya tentang Perfect Days. Sekalian berbalas esai, ini tulisan saya yang nyambung dengan ini https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/6488/aes687-now-is-now 🙏🏼😊
Kondo wa kondo, ima wa ima, ya Kak 🙌😁