52 adalah angka yang selalu mengingatkanku pada kartu remi!
Aku sering terpesona oleh kalender, atau tepatnya, berbagai cara manusia mengukur waktu. Mulai dari kalender-kalender lunar seperti kalender Jawa, Arab, Tionghoa; hingga kalender solar seperti kalender Julian atau kalender Gregorian yang umum kita gunakan saat ini. Ada juga yang menarik, kalender Prancis Revolusioner, yang satu minggunya dihitung punya 10 hari. Sepertinya aku bisa menghabiskan waktu yang lama berbicara tentang kalender, atau mencari tahu tentang kalender. Begitu banyak cabang-cabang dan spesifikasinya, begitu banyak yang bisa dieksplorasi.
Kalender bisa merefleksikan begitu banyak tentang sebuah masyarakat. Sejarahnya, hal-hal yang menjadi fokusnya. Kenapa ada budaya-budaya tertentu yang lebih senang mempersepsikan tahun menggunakan pergerakan bulan ketimbang matahari? Kalender juga bisa menjadi bentuk oposisi, misalnya kalender Prancis Revolusioner yang awalnya digunakan untuk menjadi simbol “era baru kemerdekaan” setelah Revolusi Prancis.
Kalender bentuknya tidak harus berupa pencatatan hari, dikumpulkan menjadi bulan; tidak harus selalu berdasarkan pergerakan objek luar angkasa. Bisa juga merupakan konsep yang memimpin alur hidup kita, seperti padi. Saat Ekspedisi Kampung Adat tahun lalu, padi inilah yang kujadikan topik utama risetku: bagaimana hidup masyarakat tradisional banyak sekali yang berlandaskan siklus panen padi.
Yang tidak kusangka adalah bahwa kartu remi juga merupakan contoh kalender. Dalam dek klasik kartu remi Eropa, ada 4 kelompok dengan masing-masing memiliki 13 kartu di dalamnya. Katanya, ini ditetapkan sejalan dengan kalender Gregorian, sebagai simbol 4 musim dan 13 minggu di tiap musimnya. Ada juga banyak teori lain tentang simbolisme di balik dek kartu: fase-fase bulan, empat elemen, kebutuhan hidup manusia, struktur sosial Eropa. Begitu banyak hal sederhana yang sebenarnya punya banyak simbolisme dan sejarah di baliknya.