Karena letak Dusun Ngadiprono yang terpencil dan terpojok, sulit bagi kami untuk ke mana-mana. Akses keluar-masuk hanya ada satu, di Barat (orang-orang di sini, termasuk anak kecil, menariknya menggunakan arah mata angin sebagai petunjuk). Semua motor warga, tukang sayur keliling, bis pariwisata, harus lewat sini untuk bisa masuk dan keluar.
Karena kami ingin ke kita, kami harus pesan go-car dari Balai Desa. Letaknya kurang-lebih dua kilometer dari tempat kami tinggal, jadi kami harus jalan dulu, lewat kampung dan sawah. Ini sangat memakan waktu.
Saat pertama kami pesan go-car di hari Minggu, kami memesan dengan dua aplikasi, di HP Vania dan HP-ku. Rupanya supirnya sama, Pak Ferri. Tapi dia memperbolehkan kami bertujuh menumpang di mobilnya, dengan biaya tambahan. Dia juga memberikan nomor HP-nya agar kami bisa mengontaknya kalau butuh bantuan antar-jemput.
Perjalanan kami pulang hari Minggu itu juga dengan go-car, yang juga kami minta nomornya. Dia juga bernama Pak Ferri. Jadi ada dua Ferri. Ada juga lagunya:
Satu-satu, Ferri ada satu
Dua-dua, Ferri ada dua
Tiga-tiga, Ferri ada tiga
Satu-dua-tiga, Ferri semuanya
Kami sedang menunggu bertemu Ferri ketiga.