AES121 - Bukan Universitas
Ara Djati
Wednesday May 13 2026, 3:51 PM
AES121 - Bukan Universitas

Tanggal 10 Mei, selepas gereja dan makan siang, kami pergi ke Universitas Balakarta di Salamsari, di sebelah selatan Ngadiprono. Universitas Balakarta bukan universitas. Dia adalah inisiatif gagasan Mas Atfi utnuk meningkatkan akses literasi dan diskusi di Temanggung. Mereka sudah ada sejak beberapa tahun, menggelar diskusi dan kelas dengan 'dosen' yang bisa dari mana saja, siapa saja. Tempat mereka singgah sekarang, di kampung Mas Atfi di rumah dari 1912 yang direnovasi, baru buka tahun lalu.

Ukiran-ukiran kayu menghiasi ambang pintu yang terbuka lebar. Di dalam, ada rak-rak buku: sebagian untuk dipinjam dan dibaca di tempat, sebagian dijual. Pintu selalu terbuka. Mereka tidak takut pencuri, karena kata Mas Atfi, apa yang mau dicuri? Lagipula, buku kalau dijual pun hasilnya tak seberapa. Kalaupun ada yang mencuri buku, itu tandanya dia memang benar-benar membutuhkannya. Syukur-syukur dikembalikan lagi. Kalau tidak, ya sudah.

Kami duduk di ruang tamu, dikelilingi dinding yang penuh poster dan buku, gitar dan mesin tik, catatan dan pernak-pernik, semua melantangkan sebuah suara. Entah itu kutipan dari buku, kata-kata perlawanan, penulis dan aktivis hebat yang wajahnya dicetak dan dijadikan gapura. Di tembok musholla pun ada wajah-wajah tokoh-tokoh Islam Indonesia.

Kami mengobrol panjang dengan Mas Atfi, tentang literasi dan Temanggung dan tembakau. Melinting di sini bukanlah gaya hidup, tapi hidup itu sendiri. Mas Atfi memberikan banyak perspektif baru yang menarik, terutama soal desentralisasi kebudayaan. Hanya karena Temanggung bukan tempat yang ramai, bukan pusat pelajar, bukan berarti pembibitan intelektual tidak dimulai.

Kami pulang dengan ide-ide baru dan setumpuk buku baru.