Entah sudah berapa banyak saya menulis tentang hujan. Setiap kali hujan datang, saya selalu merasa ada cerita baru yang ingin dituangkan meski terkadang judul yang menarik terasa sulit ditemukan. Hujan pagi ini misalnya. Ia datang diam-diam, mengetuk-ngetuk genteng rumah seperti ingin mengingatkan saya pada lirik lagu anak-anak yang pernah menemani masa kecil: "Tik tik tik, bunyi hujan di atas genteng." Pagi-pagi begini, biasanya saya sibuk dengan rutinitas yang sudah hapal di luar kepala. Tapi hujan kali ini seperti memiliki kekuatan magis. Ia membungkus suasana dengan rasa malas yang lembut, mengajak saya untuk kembali menarik selimut dan membiarkan waktu berjalan lebih lambat. Aroma khas tanah basah meresap ke udara, berpadu dengan suara hujan yang jatuh berirama.
Ada sesuatu yang berbeda dari hujan di pagi hari. Jika hujan sore membawa rasa nostalgia, hujan pagi membawa kehangatan yang aneh, semacam pelukan dari cuaca yang berkata "Tenang saja, tidak apa-apa untuk beristirahat sejenak." Rasanya seperti diberi izin untuk menunda semua hal, meski hanya beberapa menit. Hujan pagi ini juga membuat saya merenung tentang waktu. Betapa kita sering terjebak dalam jadwal yang padat, melupakan nikmat kecil seperti mendengarkan hujan. Padahal, sesederhana duduk dengan segelas kopi hangat sambil menikmati suara tik-tik-tik itu, sudah cukup untuk membuat hati terasa ringan.
Mungkin itu sebabnya saya selalu suka menulis tentang hujan. Ada keindahan universal di dalamnya, yang bisa dirasakan oleh siapa saja. Bagi anak-anak, hujan adalah lagu. Bagi yang dewasa, hujan adalah kenangan. Dan bagi mereka yang lelah, hujan adalah alasan untuk berhenti sejenak. Jadi hujan pagi ini meski tidak dramatis atau penuh cerita besar, tetap punya caranya sendiri untuk meninggalkan jejak. Seperti tulisan-tulisan tentang hujan sebelumnya, ia mungkin akan bergabung menjadi bagian dari kumpulan kecil ini. Tapi tidak apa-apa. Karena setiap tetes hujan seperti setiap tulisan, punya pesona uniknya masing-masing.