AES125 Niis Ka Gambung
carloslos
Thursday February 20 2025, 2:56 PM
AES125 Niis Ka Gambung

Kemarin jam 7 pagi, aku dan rombongan berangkat ke Gambung, Ciwidey. Tujuan kami jelas: ke kebun kopi. Tapi buat aku, perjalanan ini lebih dari sekadar wisata edukasi atau jalan-jalan biasa. Ini adalah perjalanan untuk menantang tubuhku.

Kami berangkat dari PPM, tempat yang sudah jadi bagian dari sejarah hidupku. Tiga tahun lalu saat aku masih kelas 7, aku menghabiskan 5 hari 4 malam di sini, penuh cerita dan kejadian yang masih lekat di ingatan.

Salah satu cerita legendaris adalah saat kami tersesat di kebun teh. Pak Vinan masih ingat betul kejadian itu, bagimana kita terlihat panik, capek, haus, dan bingung harus jalan ke mana. Sampai akhirnya Kak Bayu menemukan kami, seperti pahlawan dalam film survival.

Dan kini, aku kembali ke tempat ini. Tapi kali ini bukan tersesat, melainkan dengan satu tujuan: hiking ke kebun kopi bersama Pak Anwar.

Hiking kali ini cukup menantang. Lumpur di mana-mana, jalanan licin, dan aku yang kurang persiapan akhirnya kena batunya. Sepatuku tenggelam dalam lumpur, sampai akhirnya aku menyerah dengan melepaskan sepatu dan lanjut jalan tanpa alas kaki sampai pulang.

Di momen itu, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Dulu di Papua, aku sering jalan tanpa alas kaki. Di sana itu hal biasa tanah, batu, dan jalanan berbatu sudah seperti sahabat. Saat orang-orang di sini terkejut melihat aku nyeker di medan licin, aku justru merasa nyaman.

Lucunya, rombongan hiking malah mengapresiasi aku karena hiking tanpa alas kaki. Mereka melihatnya sebagai keberanian, padahal buatku ini justru nostalgia. Sejenak aku merasa kembali ke masa lalu ke jalanan di Papua, ke tanah yang dulu aku pijak tanpa ragu.

Perjalanan ini bukan sekadar tentang kopi atau hiking, ini tentang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Tentang bagaimana tempat bisa berubah, tapi kenangan tetap melekat. Tentang bagaimana kaki yang dulu kuat menapak tanah Papua, kini kembali diuji di tanah Jawa.