Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar kosong. Tapi ada masa ketika segala sesuatu terasa sulit diubah menjadi tulisan. Padahal biasanya, setiap kali saya menulis panjang di Ririungan maupun di blog pribadi, selalu ada tema besar yang bisa saya pegang. Ada gagasan utama yang menjadi semacam tulang punggung tulisan. Dari sana, kalimat tinggal mengikuti arah. Tapi kali ini berbeda. Saya merasa belum ada satu hal pun yang benar-benar layak dituliskan secara runut.
Atau mungkin, memang beginilah adanya. Tidak semua tulisan harus lahir dari tema besar. Kadang tulisan datang dari serpihan-serpihan kecil yang berserakan. Dari hal yang tidak cukup besar untuk menjadi esai serius, tapi terlalu menarik untuk dibiarkan hilang begitu saja. Maka di edisi tulisan sembarang ini, izinkan saya mengeluarkan beberapa hal yang memang pada dasarnya tidak terlalu beraturan. Dua minggu ini, saya cukup banyak berjalan-jalan dan menyimpan stok foto. Dari situ, saya menemukan sesuatu yang menarik: gang.
Ya, gang. Bagi sebagian orang, gang mungkin hanya jalan kecil di antara bangunan. Tempat lewat, tempat pintas, tempat orang masuk dan keluar tanpa banyak berpikir. Tapi bagi saya, gang selalu punya sesuatu yang diam-diam menarik. Ada cerita di antara sisi kiri dan kanan temboknya. Ada cat yang mulai pudar, pintu rumah yang setengah terbuka, kabel yang melintang, tanaman kecil yang tumbuh di tempat tidak terduga, dan cahaya yang kadang jatuh dengan cara yang aneh.
Sebagai orang yang suka foto—dan saya tidak sudi menyebut diri saya sebagai fotografer—gang memberi banyak kemungkinan. Dalam dunia fotografi, ada istilah leading line, yaitu teknik komposisi yang memakai garis nyata atau imajiner dari unsur lingkungan untuk mengarahkan mata pemirsa menuju subjek utama. Jalan, rel, pagar, tembok, atau lorong bisa menjadi garis yang menuntun pandangan. Gang, tentu saja, sangat cocok untuk itu. Bentuknya memanjang, sisi kiri dan kanannya membentuk arah, dan mata kita seperti otomatis diajak berjalan sampai ke ujung.
Tapi anehnya, saya tidak selalu tertarik pada subjek utama. Saya justru sering lebih suka memperhatikan detail pada temboknya. Retakan kecil. Bekas cat lama. Coretan yang tidak jelas siapa pembuatnya. Bayangan pipa. Lumut di pojok bawah. Semua hal yang mungkin tidak disengaja, tapi justru membuat sebuah gang terasa hidup. Buat saya, gang yang bagus bukan hanya gang yang berhasil mengarahkan mata ke satu objek. Gang yang bagus adalah gang yang membuat mata ingin berhenti berkali-kali sebelum sampai ke ujung. Seperti membaca paragraf panjang yang di dalamnya ada kalimat-kalimat kecil yang tidak boleh dilewatkan.
Apalagi kalau gang itu punya lekukan. Ada sesuatu yang menarik dari gang yang tidak langsung memperlihatkan ujungnya. Ia seperti menyimpan rahasia kecil. Kita tidak tahu setelah belokan itu ada apa. Mungkin rumah tua, mungkin warung, mungkin jalan buntu, mungkin juga hanya pemandangan biasa. Tapi justru ketidaktahuan itulah yang membuatnya punya daya tarik. Barangkali di situlah seni sebuah gang. Ia bukan tempat yang dibuat untuk dikagumi, tapi sering kali justru lebih jujur daripada tempat-tempat yang memang dirancang agar terlihat indah. Gang tidak berusaha terlalu keras. Ia hanya ada, dipakai, dilewati, ditinggali, lalu perlahan menyimpan jejak manusia di dinding-dindingnya.
Dan mungkin, menulis juga seperti itu. Saya terlalu lama menunggu tema besar, padahal mungkin yang saya butuhkan hanya berjalan pelan dan memperhatikan gang kecil yang saya lewati. Tidak semua tulisan harus punya ujung yang megah. Kadang cukup dengan satu pengamatan kecil, satu foto yang menarik, atau satu detail tembok yang membuat saya berhenti sebentar. Setelah dua minggu berjalan dan memotret hal-hal semacam itu, saya mulai merasa bahwa oasis di tengah kekeringan menulis mungkin tidak selalu datang sebagai ide besar. Kadang ia datang sebagai gang sempit, sebagai garis di tembok, sebagai lekukan jalan yang membuat kita penasaran. Dan barangkali, dari hal-hal kecil yang tidak beraturan itulah tulisan bisa kembali menemukan jalannya.