AES196 Membahas Soal Musik Indonesia
carloslos
Thursday September 10 2026, 8:08 PM
AES196 Membahas Soal Musik Indonesia

Halo teman-teman yang budiman, pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita sedikit soal musik. Saya rasa, sebagai remaja, musik sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir di perjalanan, di kamar, di sela tugas sekolah, bahkan kadang menjadi teman saat kepala sedang terlalu penuh. Mungkin karena itu pula saya suka mengeksplor musik, terutama musik Indonesia.

Ada rasa penasaran yang aneh ketika mendengarkan lagu-lagu lama Indonesia. Semakin saya dengar, semakin saya merasa bahwa musik Indonesia tidak sesederhana yang kadang dibayangkan orang. Ia bukan hanya soal lagu cinta, patah hati, atau lirik yang mudah dinyanyikan. Di dalamnya ada pertemuan banyak pengaruh, banyak zaman, dan banyak keberanian untuk mencoba.

Harus saya akui, era 80-an punya daya tarik tersendiri. Banyak lagu Indonesia pada masa itu terasa berkiblat pada city pop Jepang, jazz funk, dan warna musik seperti Shakatak. Dari pertemuan itu, lahirlah sesuatu yang kemudian sering disebut sebagai pop kreatif.

Namanya saja sudah menarik: pop kreatif.

Seolah-olah pop tidak cukup hanya menjadi pop. Ia harus punya ruang untuk bergerak, untuk bereksperimen, untuk tidak tunduk sepenuhnya pada formula yang itu-itu saja. Dalam genre ini, kita mengenal beberapa nama besar seperti Fariz RM, Yockie Suryo Prayogo, dan tentu saja Guruh Soekarnoputra. Mereka seperti membuka jendela baru dalam musik Indonesia, bahwa lagu populer pun bisa terdengar cerdas, berlapis, dan tetap enak didengar.

Selain pop kreatif, Indonesia juga punya tradisi jazz yang cukup kuat. Bahkan sampai sekarang, kalau mendengar beberapa nama band jazz Indonesia, rasanya kita sedang membuka lemari arsip yang isinya tidak pernah benar-benar usang.

Ada Indonesia 6, yang sempat kembali ramai dibicarakan. Ada juga Emerald, Krakatau, dan Karimata. Nama-nama seperti Erwin Gutawa dan Chandra Darusman pun menjadi bagian penting dari ekosistem musik ini. Mereka bukan hanya memainkan musik, tapi juga ikut membentuk warna tertentu dalam musik Indonesia: warna yang luwes, teknis, tapi tetap punya jiwa tropisnya sendiri.

Menurut saya, di Asia Tenggara, jazz memang terasa paling menjamur di Indonesia. Bukan berarti negara lain tidak punya perkembangan musiknya sendiri, tentu saja. Tapi kalau dibandingkan secara kasar sebagai pendengar, Indonesia seperti punya ruang yang lebih luas untuk jazz masuk ke musik populer.

Thailand, misalnya, pada masa tertentu masih kuat dengan warna tradisionalnya, lalu baru pada dekade 90-an mulai lebih terlihat orientasinya ke rock dan musik populer modern. Filipina berbeda lagi. Musik mereka banyak dipengaruhi balada dan kiblat Amerika. Hal ini masuk akal, sebab pada masa itu musik Amerika memang sedang kuat dengan penggunaan piano, synthesizer, R&B, dan produksi musik yang terdengar lebih mengilap.

Indonesia berjalan dengan caranya sendiri. Kita punya pop kreatif, jazz fusion, balada, pop melayu, dan segala campuran yang kadang sulit diberi batas jelas. Mungkin justru di situlah menariknya musik Indonesia. Ia sering tidak sepenuhnya murni, tetapi justru hidup karena percampuran.

Kalau ditanya lagu balada Indonesia dari dulu sampai sekarang kiblatnya ke mana, saya rasa jawabannya cukup jelas: pop melayu.

Ada kekuatan pada sajak dan lirik. Ada cara bernyanyi yang menaruh perasaan di depan. Balada Indonesia sering kali tidak hanya ingin terdengar indah, tapi juga ingin membuat pendengarnya ikut merasa. Kata-katanya kadang sederhana, tapi justru karena sederhana itulah ia mudah masuk.

Saat ini, balada Indonesia banyak didominasi oleh nuansa akustik. Gitar, vokal yang dekat, aransemen yang tidak terlalu ramai. Seolah-olah musik ingin kembali menjadi ruang curhat yang intim. Tapi di sisi lain, karena popularitas city pop sempat naik lagi beberapa tahun terakhir, mulai banyak juga musisi yang mengeksplor warna lama itu dalam bentuk baru.

Saya pribadi senang melihat gejala seperti ini. Sebab musik Indonesia, bagi saya, tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Ia selalu mengambil sesuatu dari luar, lalu mengolahnya dengan rasa lokal. Kadang hasilnya berhasil, kadang terasa nanggung, tapi proses mencobanya tetap menarik untuk diamati.

Tentu saja, tulisan ini bukan penjelasan dari seseorang yang bergerak langsung di industri musik. Saya bukan produser, bukan musisi profesional, bukan pengamat yang punya data lengkap di meja kerja.

Saya hanya pendengar. Seorang pendengar yang kadang terlalu penasaran, lalu masuk dari satu lagu ke lagu lain, dari satu nama ke nama lain, sampai akhirnya sadar bahwa musik Indonesia ternyata punya lorong panjang yang seru untuk ditelusuri.

Dan mungkin, sebagai pendengar, itu sudah cukup. Karena pada akhirnya, musik tidak selalu harus dibedah dengan teori besar. Kadang ia cukup didengar pelan-pelan, lalu kita biarkan ia menunjukkan dari zaman mana ia datang, dan rasa seperti apa yang ingin ia tinggalkan.