AES9 Eskalasi Cakue dan Bubur Kacang Ijo | Ngacapruk
DwiY
Sunday April 5 2026, 12:34 PM

Ketenaran cakue atau bubur kacang ijo sebagai sajian kuliner dengan harga mursida yang dikonsumsi di waktu nanggung kiranya tidak usah diperdebatkan dengan sengit. Namun keseruan menerima kenyataan bahwa saat ini harga kedua kuliner tersebut mulai berubah atau setidaknya terdapat penyesuaian kuantitas penjualan kiranya bukan menjadi topik obrolan utama yang tersaji di meja-meja coffee shop oleh para pecandu kopi masa kini. Yaa… topik yang hangat sejauh ini berkutat pada darurat energi dan penerapan WFH di negara-negara kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Bisa jadi kita lupa atau belum cukup menyadari betapa harga dan penyesuaian kuantitas penjualan cakue atau bubur kacang ijo bisa diulik dengan seru saat dipertemukan dengan situasi geopolitik dunia saat ini. 

Sulit untuk menutup diri dari informasi mengenai kawasan Asia Pasifik yang terus mencatat peningkatan ketegangan geopolitik. Situasi ini dapat dipandang sebagai upaya untuk mengendalikan lahan, populasi, sumber daya, jalur pelayaran, perdagangan, dan rantai pasok untuk setiap komoditas yang diperjualbelikan pada lingkup lintas negara. Hal ini menjadi konsekuensi dari kepentingan geopolitik yang bersaing dan lingkup pengaruh yang tumpang tindih, misalnya, Act East Policy (AEP) oleh India, Belt and Road Initiative (BRI) oleh Tiongkok, The US’s Indo Pacific Strategy oleh Amerika Serikat, Japan’s Free and Open Indo Pacific Strategy oleh Jepang, dan The EU’s Global Gateway Initiatives oleh beberapa negara eropa, dapat dipandang menjadi sumber potensi yang dominan atas ketegangan, persaingan, dan ketidakstabilan di negara-negara kawasan Asia Pasifik. Hal ini kemudian menjadi lebih runyam saat rute pelayaran perdagangan di Selat Hormuz akhirnya dibatasi hingga harga minyak dunia meledak. 

Usut punya usut dan taro kata di dunia ini terdapat salah satu negara yang hendak mempertahankan hegemoni globalnya hingga memicu sebagian besar ketidakstabilan di seluruh kawasan. Bahkan negara ini dengan semangat membara memperluas aliansi militernya hingga mengalihkan sumber daya penting dari layanan sosial dasar kepada pengeluaran di bidang pertahanan. Pengeluaran pertahanan di kawasan Asia-Pasifik, diperkirakan mencapai 503 miliar USD, seharusnya dapat mengatasi kebutuhan paling mendesak di kawasan ini dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Sangat bisa banget dana ini menjamin rantai pasok bagi produksi cakue dan bubur kacang ijo yang sustainable.

Kenyataannya mengenai rantai pasok produksi cakue atau bubur kacang ijo yang terganggu saat ini sudah di depan mata. Senyata dengan munculnya kebijakan WFH di sejumlah negara kawasan Asia Pasifik. Bahkan di Thailand mendeklarasikan darurat energi nasional, para PNSnya diminta untuk mengurangi konsumsi cakue… eh bukan-bukan… tapi diminta WFH bahkan dihimbau untuk kembali menggunakan tangga dibanding menggunakan lift, hingga AC di kantor perlu diatur pada suhu 27 derajat. Kemudian di Sri Lanka ada kebijakan yang menarik karena menjadikan hari Rabu sebagai hari libur. 

Di tengah disrupsi rantai pasok produksi cakue dan bubur kacang ijo, manandakan adanya kondisi perdamaian dunia yang belum holistik. Para pedagang dan konsumen garis keras kuliner ini nampaknya tidak membuat kesepakatan yang berimbang atas keputusan mereka. Mereka dipaksa atau terpaksa membuat keputusan itu. Begitu pula pada keluarga besar Rumah Belajar Semi Palar, barangkali terdapat konsumen cakue dan bubur kacang bubur kacang ijo yang di dalam hati terdalamnya berkeberatan dengan kenaikan dan penyesuaian kuantitas penjualan produk favoritnya tersebut. Meski begitu Rumah Belajar Semi Palar sebagai lembaga pendidikan juga bagian dari anggota masyarakat dunia memiliki peran yang fundamental untuk menyemai bibit-bibit perdamaian. Melalui budaya berpikir kritis di setiap olahan akademik yang berlangsung di ruang-ruang kelas dengan tetap mengedepankan suara batin terdalam, kesadaran moral, atau insting alami manusia yang membedakan antara benar dan salah, ataupun baik dan buruk bisa diutilisasi menuju perdamaian dunia. Lalu untuk WFH atau penerapan hybrid learning dan semacamnya di Rumah Belajar Semi Palar kelihatannya menunggu waktu saja. Sebab di dalam setiap konflik atau krisis global selalu muncul adanya disrupsi dan kita perlu beradaptasi karenanya.