Di akhir tahun 2024 hingga mengawali tahun 2025, melakukan perjalanan mengunjungi negeri seribu arsitektural Islam yang indah dan dekat di hati, yaitu Turkiye. Menyambangi beberapa kota; Istanbul, Bursa, Konya, dan Cappadocia. Titik tuju perjalanan spiritualku dan suamiku salah satunya adalah menapak di tanah dimana penyair cinta yang dikagumi berbagai umat yaitu Jalaluddin Rumi dimakamkan. Di Konya, berbagai nafas nilai-nilai sufistik sangat terasa kekentalannya, mulai dari bagaimana masyarakat di sana sangat mengagumi masjid sebagai tempat merenung dan berserah pada Sang Maha, hingga mendalami berbagai kultur ala sufisme seperti musik dan tarian sema atau yang sering kita kenal sebagai whirling dance.
Di hari yang sama, di hari Jumat yang agung, kami berjalan sekitar 10 menit di keadaan kota Konya yang saat itu sedang musim dingin hingga -2 derajat celcius yang menambah gelora kehangatan spiritual dalam diri kami untuk menjelajahi sudut-sudut museum Rumi yang sangat indah dan menggetarkan hati. Terasa begitu dekatnya Tuhan dengan kami melalui cara Rumi menulis berbagai kata yang indah untuk manusia pahami arti cinta yang luas yang bukan hanya pada sesama manusia namun juga jatuh cinta kepada Sang Maha dengan segala kesempurnaannya.
Duduk termenung, mata memandangi tiap-tiap putaran indah para penari Sema yang sangat menakjubkan. Berserah diri hingga dunia tak lagi menjadi titik fokus yang mereka lakukan dalam ritual berputar, menari, dan mengagumi Tuhan dengan segala cinta kasih yang diberikan untuk manusia. Sepenggal kata yang aku (google translate) tangkap dalam ritual Sema berbahasa Turkiye itu berbunyi : 'hambamu berpaling pada kebenaran dan meninggalkan dirinya yang berhubungan dengan akal dan cinta, dan mencapai kedewasaaan sebagai orang yang sempurna...". Sempurna hingga pada akhirnya definisinya adalah menemukan titik kosong untuk bertemu Ia yang mencipta.
Maha cinta dalam segala luasnya kisah rasa dengan Sang Kekal-Abadi.