AES353 Menalar Tuhan
Andy Sutioso
Sunday May 1 2022, 9:24 PM
AES353 Menalar Tuhan

Malam ini malam suci, takbir bersahut-sahutan memuliakan kebesaran Tuhan. Selamat merayakan kemenangan bagi saudara-saudaraku umat Islam yang sudah menuntaskan rangkaian ibadah puasanya - di sepanjang bulan Ramadhan. 

Memahami Tuhan memang jadi sesuatu yang jadi persoalan menarik di sepanjang peradaban manusia. Sebelum berkembangnya agama-agama di dunia, saya yakin manusia primitif sekalipun merasakan kebesaran Tuhan - pencipta alam semesta saat mereka menatap ke langit dan melihat taburan bintang di langit malam. Bahkan sampai sekarangpun manusia modern masih merasakannya. 

Malam ini saya ingin menuliskan beberapa cerita terkait hal ini. Topik yang nyaris tidak tersentuh di Ririungan ini. Saya memberanikan diri menulis tentang ini. Mudah-mudahan saya bisa menuliskannya dengan baik. Mohon ingatkan kalau ada yang perlu saya koreksi - tujuannya saya sekedar berbagi pengalaman 🙏🏼

Kisah yang pertama dari pengalaman saya mengikuti salah satu forum dialog yang diselenggarakan oleh Jaka Tarub (Jaringan Kerja Sama Antar Umat Beragama) - kalau tidak salah kepanjangannya begitu. Forum ini diselenggarakan di Gereja Melania, dan dihadiri dua narasumber yang sama-sama menarik. Pertama adalah KH Bambang Pranggono, kedua adalah Romo Tri Harsono. Pak Bambang dalam sharingnya bercerita sudah berkali-kali naik haji dan beribadah umroh - tapi pada saat yang sama beliau juga sudah enam kali berkunjung ke Basilika Santo Petrus. Romo Tri, seorang pastor, studi masternya - kalau tidak salah beliau tuntaskan di Universitas Kairo di Mesir. Jadi beliau juga fasih berbahasa Arab. Keren ya. Yang saya ingat betul adalah ucapan pak Bambang - beliau bilang, saya merasa batin saya sama tergetarnya saat berada di Basilika Santo Petrus seperti halnya saat saya berada di depan Ka'Bah. Karena - beliau melanjutkan, di kedua tempat itu, nama Tuhan sama-sama banyak sekali disebut. Cerita beliau lainnya juga tidak kalah menarik karena beliau juga pernah mengikuti jalan salib berkunjung ke tempat-tempat suci umat Katolik. Tapi di sisi lain beliau bilang bahwa beliau melakukannya karena sangat mencintai Al Qur'an - dan menghormati agama lain adalah salah satu ajaran Al Qur'an. Kisah lengkapnya - ada di blog saya yang tautannya ada di sini.  

Kisah kedua adalah dari proses pembelajaran di kelas dua Semi Palar. Ini di tahun-tahun awal Semi Palar - waktu itu kakak sedang mengajak anak-anak menjelajah di dalam tema Angkasa Luar. Singkat cerita setelah beberapa waktu mengeksplorasi berbagai hal tentang angkasa luar, tata surya, planet, galaksi dan lain sebagainya, salah satu murid berkomentar, "Kak, Tuhan itu pasti satu, kalo Tuhannya banyak, planet-planet itu pasti tabrakan!". Wow keren ya pemikirannya. Logika yang sangat sederhana - tapi sangat mendalam pemikirannya. Ini adalah gambaran tentang bagaimana seorang anak usia 7-8 tahun menalar Tuhan. Luar biasa. 

Kisah ketiga yang saya ingin tuliskan di sini saya dapatkan sewaktu saya mengikuti Extension Course Filsafat. Kelas mingguan setiap Jum'at malam yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar. Kelas-kelas ECF ini selalu menarik karena mendatangkan narasumber-narasumber keren yang kalibernya kelas berat. Sekitar tahun 2009 kalau saya tidak salah, saya mengikuti program yang membahas topik tentang Filsafat Ketuhanan. Di salah satu kuliahnya, hadir Goenawan Muhammad - pendiri majalah Tempo. Dia juga penulis buku dengan judul "Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai". Buku yang keren banget. Ada satu kalimat beliau yang saya ingat betul, yang intinya begini. "Tuhan itu kan tidak perlu dibela". Manusia-manusia yang berpikir bahwa Tuhan itu perlu dibela - dia itu kan dengan sendirinya merendahkan Tuhan". Kurang lebih begitu intinya - kata-kata persisnya saya tidak ingat. Tapi betul banget kan. Tuhan itu kan maha besar. Tuhan yang menciptakan alam semesta ini yang begitu besar - dan belum bisa didefinisikan sampai di mana batasannya. Kebesarannya sendiri kan jadinya tidak terukur. Begitu akbarnya Tuhan Sang Maha Pencipta ini. Jadi ya sebetulnya Tuhan itu kan tidak perlu dibela... Manusia itu siapa kok merasa sehebat itu bisa membela Tuhan... Lalu GM juga bilang, kita manusia inilah yang sering mencatut nama Tuhan untuk kepentingan kita masing-masing... 

Terkait judul di atas, Menalar Tuhan - saya kira ini upaya kita menusia untuk mendefinisikan Tuhan dan berusaha menempatkan dimensi Ketuhanan di dalam perjalanan hidup kita. Tapi seperti yang saya tuliskan di atas, Tuhan sepertinya tidak akan bisa masuk dalam ruang nalar kita. Mungkin yang kita coba lakukan adalah memaknai kebesaranNya - dan itu baik adanya. Kalau kita bisa sampai kita ke situ - kita akan bisa memaknai juga kedebuan kita sebagai salah satu serpihan ciptaanNya...

Maafkan kesalahan saya lahir dan batin. Semoga semua makhluk berbahagia.    

Photo by David McEachan: https://www.pexels.com/photo/silhouette-of-mosque-below-cloudy-sky-during-daytime-87500/

joefelus
@joefelus   4 years ago
Wah bagus sekali kak! Terima kasih!