Pada tanggal 26 Mei 2022, mendekati akhir semester, Kelompok Gobak Sodor pergi melakukan live-in singkat ke PPM Gambung. Selama di perjalanan, ada 1 hal unik yang kutemukan pada diri teman-temanku, yaitu disiplin, fokus, dan tidak banyak lupa. Semuanya tampak siap untuk perjalanan ini dari berhari-hari yang lalu, contoh yang kulihat adalah kegiatan vlogging yang dilakukan Bryan selama perjalanan, dan kegiatan sepanjang hari.
Pada perjalanan umumnya, aku suka merasa ragu dan cemas, tidak yakin apakah semua barang-barang sudah terbawa dengan lengkap. Berdasarkan perjalanan-perjalanan sebelumnya, selalu aja ada hal yang terlupakan, entahlah itu sendal, alat mandi, bahkan hingga jaket pun bisa ketinggalan. Diriku sendiri ternyata benar, ada banyak hal yang tak tercatat di ceklis tertinggal, yaitu jas hujan, sumpit untuk makan, dan mi instan.
Hal-hal seperti itu sudah tidak menjadi masalah bagiku, aku menganggapnya (it is what it is)apa yang terjadi, terjadilah. Yang penting adalah langkah tindak lanjut seperti apa yang akan aku ambil, tidak kebanyakan berpikir tetapi cekatan mencari solusi. Meskipun terkadang masih ada hal yang menggantung di pikiranku dan membuatku khawatir, bahkan tidak merasa nyaman.
Kami semua makan siang cukup awal, yaitu di jam 10.30. Sehabis makan siang, kami langsung berkegiatan dengan salah satu warga desa, yaitu Pak Dayat. Beliau memandu kami untuk memupukkan tanaman teh, dan membuka lahan baru bagi kapolaga yang akan ditanam. Kegiatannya cukup seru dan berkesan, salah satu hal yang kutangkap adalah rasa saling mengandalkan ketika sedang bekerja, semuanya ingin santai, pekerjaan minim, dan menunggu orang lain kerja untuk kerja. Meskipun begitu, segala keputusan yang kami buat sudah berdasarkan insting kita masing-masing, tidak perlu menunggu kakak.
Pada sore hari, kami semua berjalan kaki ke tempat kediaman Pak Anwar, yaitu kepala RT salah satu perkampungan. Beliau menurutku adalah seorang sosok baik, ramah, bisa bercanda, dan akrab. Awalnya (ketika beliau mengunjungi PPM), beliau berkata rumahnya tidak jauh dari sini, pada kenyataannya, butuh 45 menit untuk mencapai tujuan.
Pengalaman menarik tiba ketika kami sudah berada di kandang sapi milik Pak Anwar. Kami ditantang untuk memandikan sapi tersebut, mencuci kotorannya, juga menyikatnya. Awalnya kurasa itu adalah sebuah tantangan berat dan besar, ternyata jauh lebih ringan dan tidak jorok dibandingkan ekspektasi. Meskipun begitu, kami tetap merupakan pribadi yang saling menunggu, gugup, khawatir, dan banyak omong sedikit kerja nyata. Untungnya, aku bisa belajar untuk lebih percaya diri dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar, sehabis beres memandikan sapi. Bahkan, hal baik yang bisa kudapatkan setelah memandikan sapi adalah, jajan di warung milik Pak Anwar, minum susu murni segar, sebelum berjalan pulang.
Sore hari pun tiba, kami sampai kembali ke penginapan pada pukul 17.00. Sudah saatnya bersiap-siap makan, menyelesaikan pekerjaan, dan beres-beres (termasuk mandi). Karena aku yang kebagian piket hari ini, maka aku perlu mengerjalan tugas dan beban tambahan. Salah satunya, memasak nasi dengan alat tanak, sesuatu yang belum pernah kulakukan sendiri (biasanya aku memakai rice cooker dan hafal takarannya). Bahkan, uniknya aku juga mengukur takaran beras dengan tidak konvensional dan tidak wajar, yaitu dengan genggaman tangan. Untungnya, aku bisa percaya dengan diriku, akhirnya proses berjalan cukup lancar, tanpa keraguan, dengan berpikir secara lancar.
Meskipun hasil akhirnya sedikit kurang memuaskan, aku bisa belajar banyak dari proses membuat nasi di katrol, beberapa di antaranya adalah tahan panas dan mencari solusi ketika tutup wadah copot (fleksibel dan gesit), mencari akal ketika api di kompor terlalu besar, dan tidak lupa akan pekerjaan (manajemen kematangan). Akhirnya, dengan tidak berpengalamannya aku ini, aku bisa bangga atas ‘keberhasilan’ yang kucapai.
Setelah itulah, aku akhirnya mengerjakan tulisan ini dengan fokus, dengan tidak menunda-nunda, dan cepat menutup buku dari tulisan perjalanan hari ini. Sampai jumpa di esok hari.