Fakta bahwa 70% lebih oksigen kita berasal dari tumbuh-tumbuhan yang ada di lautan, seperti Acantharian, a strontium based radiolariam ini. Jadi mahluk ini tidak berbasis karbon tapi berbasis metal. Fakta lain bahwa pada hutan yang sudah tua/matang, antara oksigen yang dihasilkan dengan oksigen yang diperlukan oleh hutan untuk mendekomposisi organik di dalam hutan berimbang, sehingga net oksigen yang dihasilkan oleh hutan sesungguhnya tidak banyak atau bahkan zero.
Bayangkan apa yang terjadi jika mahluk hidup penghasil oksigen di lautan itu tidak dapat bertahan hidup lagi? Bencana terbesar akan terjadi…Bumi akan kekurangan oksigen…lautan kita akan menjadi asam. Kita memproduksi CO2 lebih banyak dari yang alam bisa hilangkan. Dari 40 Giga tonnes total CO2 yang dibuang per tahun, hanya 23 Giga tonnes yang bisa dihilangkan per tahun oleh alam, 17 Giga tonnes yang tidak bisa dihilangkan per tahun. Hal ini yg mengakibatkan perubahan iklim.
Makin tingginya CO2 yang terlarut di laut mengakibatkan air laut semakin asam. Acidification air laut akan lebih berbahaya dibandingkan dengan Climate Change. Dalam 25 tahun, tingkat keasamannya sedemikian rupa sehingga tidak mampu mendukung kehidupan berbagai organisme di lautan. Pada PH 7,9 saja, akan terjadi apa yang disebut “trophic cascade collapse of the entire marine ecosystem”.
Dampaknya, kita akan kehilangan paus, singa laut, burung-burung, dan sebagian besar ikan-ikan, yang artinya juga bahwa suplai makanan untuk hampir 1 milyar orang akan hilang. Carbonate plankton ( Coccolithophores & Foraminifera) akan larut dan hilang, level oksigen akan drop 4 kali lebih cepat, sementara CO2 akan meingkat lebih cepat juga. Diperkirakan 50% dari tumbuhan laut yang dalam 50 tahun terakhir ini ada di laut akan hilang. Ini bukan lagi Climate Change, ini adalah Ecosystem Destruction.
Kenapa permasalahan seperti ini terjadi? Jawabannya adalah karena pencemaran yang dilakukan oleh manusia selama bertahun-tahun. Pencemaran oleh toxic chemicals, limbah industri, sampah, pencemaran udara oleh asap kendaraan dan asap industri yang akhirnya bermuara ke laut, microplastics dari kosmetik & pakaian, dan lain-lain. Jika kita mampu mengurangi dan menghilangkan pencemar-pencemar ini, maka kita akan mampu menyelamatkan laut kita dan mengembalikan kemampuan alamiahnya. Mari Bersatu mencegah bahaya katastropik ini.
(Covid-19 secara tidak langsung berkontribusi dalam pencegahan terjadinya Ecosystem Destruction)