Bahasa Indonesia itu relatif mudah dipelajari. Hal ini beberapa kali aku dengar. Terakhir sewaktu Marius meminta kami untuk menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengannya. Bahasa Inggrisnya cukup baik, dan karena khawatir dia bingung, kami sering menggunakan bahasa Inggris. Namun dengan kegigihannya, dia berhasil membuktikan kemampuannya dalam berbahasa Indonesia dengan cepat selama beberapa bulan berada di sini. Yang lucu juga, dia paling bingung ketika bertemu dengan orang yang minta diajari bahasa Perancis =D “Tidaaaak..” katanya. Hal-hal yang membuat bahasa Indonesia termasuk sederhana adalah karena tidak perlu pusing dengan gender untuk membedakan benda ataupun kala (tenses) seperti pada bahasa Perancis atau Jerman, Inggris. Pelafalannya konsisten, apalagi dibandingkan bahasa Perancis. Dalam bahasa Indonesia paling ada ê pepet, seperti pada kata enam, é taling terbuka, seperti pada kata lele dan è taling tertutup, seperti pada kata lelet. Atau pelafalan huruf V dan F yang agak sulit khususnya untuk lidah Sunda. Pembentukan kata-kata bahasa Indonesia juga sederhana dengan awalan, akhiran atau imbuhan, dan ditulis dengan menggunakan alfabet latin yang dikenal mayoritas orang di dunia.
Meski sederhana dan mudah, ternyata tidak banyak orang Indonesia yang bisa berbicara ataupun menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik maksudnya sesuai konteks, dan benar maksudnya sesuai kaidah. Semisal konteks menulis teks pada WA tentu berbeda dengan laporan, tapi penulisan ‘di’ yang disambung atau dipisah, sesuai kaidah, tidak berbeda ketika menulis WA atau laporan. Hal ini disampaikan Ivan Lanin, seorang pemerhati dan aktivis penganjur penggunaan bahasa Indonesia baku. Baku tidak berarti kaku. Tetap bisa luwes, enak dibaca atau didengar, meski baik dan benar. Beberapa cara yang ia berikan adakah dengan memanfaatkan kekayaan diksi dalam bahasa Indonesia. Dengan catatan bahwa untuk memperkaya kosa kata memang perlu rajin membaca. Bermain dengan struktur kalimat, yang tidak harus SPOK juga bisa membuat penyampaian lebih menarik. Atau bisa juga dengan menggunakan fatis, ungkapan yang tidak mengandung makna tapi bermanfaat untuk menyampaikan emosi; ah, ih, uh, sih, deh, dong. Tuturan menjadi lebih santai dan memberi rasa yang berbeda. Satu lagi yang menarik adalah penggunaan alih bahasa. Menyisipkan satu atau beberapa kalimat dengan bahasa berbeda. Terlebih bila bisa menggunakan bahasa setempat. Misalnya saat menyampaikan penjelasan pada orang di daerah Sunda, akan lebih diterima tentunya bila dapat meyampaikan beberapa kalimat dalam bahasa Sunda. Maksudnya bukan mencampur bahasa lain dalam satu kalimat. Karena mencampur bahasa lebih menunjukkan ketidakmampuan mencari kata yang tepat. Kebiasaan mencampur bahasa juga salah satu hal yang teramati dan menjadi pertanyaan Marius. Karena terbiasa melihat banyak orang di Eropa yang menguasai 4 bahasa, tapi dengan mudah membedakan penggunaan sesuai kebutuhan, tidak dicampur aduk.
Simpulan Ivan bahwa kebanggaan maupun ketrampilan berbahasa Indonesia semakin menurun, sepertinya memang perlu mendapat perhatian lebih. Padahal bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu yang indah dan kaya. Ia berharap bahwa orang Indonesia bisa bangga dengan bahasanya sendiri, memampukan diri untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Ia mengatakan bahwa ia baru akan berhenti cerewet di media sosialnya, kalau sudah 60% (saja) orang Indonesia bisa membedakan penulisan ‘di’ yang dipisah dan dirangkai. =D
Setuju 100%, Kak Ine.
Hehehe tepat kak Ine! Apalagi kalau sudah pakai kalimat kompleks tapi tidak pernah selesai! Bahasa tabloid, surat kabar sering seperti ini. Dimulai dengan "Jika" tapi tidak pernah ada anak kalimat yang memakai "Maka". Pembaca digantung hehehehe Lebih parah lagi Murid Nina pernah nulis paper atau jawab soal ujian tapi pakai bahasa SMS. Bayangkan!!! Hahahaha..