Alamiahnya manusia membentuk pola di keseharian sesuai ritme semesta yang terajut dengan bermacam kebutuhannya. Setiap orang disadari atau tidak membentuk polanya sendiri dalam rentang waktu 24 jam yang sama bagi setiap manusia. Punya waktu istirahat, bangun, bergerak, makan, bekerja, bermain, dsb., kira-kira sama dari hari ke hari, sehingga menjadi kebiasaan.
Yang kadang aku alami, tetiba muncul hal-hal seperti mudah terkuras energi fisik dan mental. Jadi cepat lelah, mudah merasa terganggu oleh hal-hal sepele, merasa banyak hal tidak terselesaikan baik.. Ketika menengok kembali aktivitas di hari-hari sebelum, ternyata banyak pola yang berubah. Menata kembali pola tersebut, untuk aku banyak berpengaruh. Membagi dan mencacah waktu agar dapat mengerjakan hal-hal yang penting untuk diri, membuat diri merasa dan bekerja dengan lebih baik.
Kata bang Aristotle, "We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.” Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Bila keunggulan tumbuh dari kebiasaan baik, sepertinya asumsi sebaliknya juga berlaku. Kekacauan juga bisa muncul dari kebiasaan buruk yang terus dilakukan. Kembali lagi memperhatikan pola di keseharian membuat aku lebih sadar dengan kebiasaan buruk secara tidak sadar menyusup. Misalnya ketika menunda mencuci piring selesai masak dan makan, atau melewatkan rutin olahraga. Awalnya karena tidak sempat, akhirnya keterusan. Atau terlalu lama berada di depan layar, karena kagok menyelesaikan tugas, atau karena larut menonton film seri episode demi episode. Menata kembali struktur membuat aku lebih wawas terhadap waktu, tugas dan sasaran yang ingin dicapai setiap harinya. Intinya sama dengan ungkapan Aki Muhidin, bahwa ngajadi itu ya perlu lewat tuman, terbiasa.