Ting.. masuk notifikasi pesan dari nomor ayah. Meski bertanda pesan lanjutan, tapi kalau ayah yang kirim, artinya penting. Karena ayah termasuk jarang berkirim pesan lewat gawai. Ternyata isinya sebuah cerita, yang sepertinya dari jaman dulu, dimana ukuran sukses masih dilihat dari faktor ekonomi. Versi ringkasnya begini.. Β
Menuju akhir hayatnya seorang ayah memberi pesan terakhir kepada 2 orang anaknya. Pertama, jangan pernah menagih hutang yang sudah kalian berikan. Kedua, jangan pernah tubuh kalian terkena terik matahari secara langsung. 10 tahun berlalu sejak sang ayah meninggal. Anak pertama berhasil membangun tokonya hingga terkenal, anak kedua bangkrut, tidak punya apa-apa. Ketika ditanya apa yang terjadi, anak kedua mengatakan bahwa ia bangkrut gara-gara ayahnya berpesan untuk tidak pernah menagih uang yang sudah dipinjamkan, jadilah ia kehabisan modal. Ayah juga berpesan untuk tidak terkena panas matahari secara langsung. Karena hanya punya motor, ia selalu pergi dengan taksi sehingga pengeluarannya membengkak. Anak pertama menjelaskan bahwa ia bisa berhasil berkat pesan ayahnya. Karena ayah berpesan untuk tidak pernah menagih uang yang dipinjamkan, ia tidak pernah meminjamkan uang pada siapapun. Pun dengan pesan kedua, karena hanya punya motor, ia selalu berangkat ke tokonya pagi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Pelanggannya terus bertambah karena tahu bahwa tokonya selalu buka lebih awal dan tutup lebih lama. Kedua anak mendapat pesan yang sama, tapi yang 1 membuatnya menjadi berkat, sementara yang kedua memandangnya sebagai alasan kegagalan.
Baru beberapa AES lalu rasanya menulis tentang sudut pandang sebagai kunci. Bahwa segala sesuatu itu netral adanya. Sesuatu yang sangat baik bisa jadi petaka bila dimaknai negatif. Sebaliknya sesuatu yang tragispun bisa jadi baik bila dimaknai positif. Mungkin demikian adanya manusia, penuh kontradiksi. Jadi suka tersesat dengan kontradiksi dalam diri. Terlebih saat berada di titik sulit, lalu harus menuntun diri untuk bisa melihat situasi dengan netral.
Seorang teman mengatakan bahwa segala yang terjadi pada kita, itu kita yang minta kok. Ucapannya saat itu sangat menohok, karena aku baru mengalami situasi pahit. Ketika hal-hal baik terjadi; kesehatan, kelancaran, kebahagiaan, keberhasilan, tentunya pernyataan itu mudah diterima. Bahwa itu terjadi sebagai hasil dari upaya, kerja keras kita. Sebaliknya ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi; kecelakaan, penyakit, kendala, kegagalan, tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa itu terjadi karena kemauannya. Butuh waktu untuk aku mencerna maksud dari pernyataan tersebut, kemudian menerima dan mengakui. Setelah itu baru dapat melihat dengan netral, dan menaruh makna positif untuk mengatasi.
Wah ini bagus sekali kak Ine. Katanya Attitudes juga influence perceptions. Jadi bagaimana persepsi anak pertama begitu berbeda dengan anak kedua.
Iya ya pak, kompleks pastinya, banyak hal yg berpengaruh..
Nice post kak Ine... Yang namanya sudut pandang itu kan seperti pake kacamata ya... Kalo kacamata kita lensanya gelap ya semua yang dilihat gelap. Kalau kacamata kita kotor, ya segala sesuatu tampak kotor, sebaliknya kalau kacamata kita bersih, kita melihat segala sesuatunya apa adanya... ππΌπ
Dualitas selalu nempel pada ego. Netralitas berarti terlepasnya ego dan hadirnya yg Esa. β€πππΌ Terima kasih sudah berbagi