AES yang ke-100, antara ingin menulis sesuatu yang bagus, tapi ternyata ga ada ide
Ada apa dengan 100? Kan semua bilangan unik, melambangkan proses dan hari yang juga pastinya berbeda-beda. Sebagai bagian dari jajaran bilangan yang jumlahnya tak terhingga, 100 sama uniknya, sama signifikannya dengan bilangan manapun. Namun kerap digunakan sebagai patok, membuat 100 sepertinya jadi sesuatu yang lebih istimewa. Melambangkan kegenapan, penuh, utuh, seluruh, selesai, terutama ketika ditulis dalam bentuk persen.
Kalau dibayangkan, menjalani 100 hari bisa lalu begitu saja tidak terasa. Sebenarnya kalau ada sesuatu yang ditaruh, contoh sederhananya target untuk melakukan sesuatu, setiap hari menuju 100 bisa menjadi lebih berwarna, berkesan, dan pada ujungnya ada satu capaian.
Jadi teringat beberapa cerita dari buku anak, tentang hari ke-100 bersekolah merupakan hari besar yang menyenangkan untuk dirayakan. Anak-anak mendapat berbagai tugas yang berhubungan dengan 100. Membuat atau mengumpulkan sesuatu hingga jumlah 100, mempelajari sesuatu hingga hari ke-100. Untuk anak-anak jenjang SD kecil yang sedang bolak-balik belajar bilangan, sepertinya menjadi proyek yang menarik pula. Tantangan yang membuat sebagian anak sangat bersemangat, berusaha mencari Ide-ide kreatif. Sebaliknya ada anak-anak pencemas yang merasa tidak punya apapun untuk dibuat, dikumpulkan, terlebih dipresentasikan pada teman-teman.
100th Day Worries (by Margareth Cuyler) adalah salah satunya. Cerita manis dan sederhana tentang seorang anak pencemas yang mendapat tugas untuk membawa 100 buah benda yang dapat ia kumpulkan untuk didisplay di sekolah pada hari ke-100. Hingga waktunya tiba, karena terus khawatir, ia malah tidak mendapat gagasan apapun, sementara teman-teman sudah mulai membawa berbagai koleksi mereka ke sekolah. Akhirnya pada hari ke-100, setiap anggota keluarganya membantu dengan menyumbangkan sesuatu untuk ia bawa. 10 pita dari ayahnya, 10 penghapus dari adiknya, 10 jepit dari kakaknya, 10 sekrup dari ibunya, 10 kancing berbagai warna, 10 manik-manik, 20 koin bahkan 10 batu kecil dari kandang iguana peliharaan adiknya. Ia berhasil tiba di sekolah dengan membawa 90 benda yang dikumpulkan seluruh keluarga. Ia masih membutuhkan 10 benda lagi untuk bisa mencapai 100. Hingga saat makan siang, ia membuka tempat bekalnya sambil masih berpikir keras. Di dalamnya ia mendapati surat kecil dari ibunya, pesan untuk jangan khawatir karena di akhir pekan besok mereka akan membantunya mencari 10 benda lagi, dan ibunya yakin gurunya tidak akan marah bila ia sedikit terlambat mengumpulkan koleksinya, ditutup dengan 10 X, lambang cium dari ibu. Seketika ia mendapat ide cemerlang. Saat waktunya mendisplay koleksi mereka, ia menata rapi benda-benda yang dibawanya. Gurunya bertanya apa yang ia kumpulkan. Ia bercerita tentang semua benda yang didapat dari keluarganya, termasuk surat dari ibunya. "Ini adalah 10 cium dari ibu," katanya. Koleksi dan hari yang sangat spesial!
Nice... selamat kak Ine sdh menjejak ke 3 digit esainya... semoga semakin menikmati menulis... ๐๐ค
very sweet! Thank you kak Ine. Ini tulisan ke 100 yang spesial!
Selamat ya Kak Ine untuk esai yang ke-100. Terima kasih sudah menuliskan kisah manis di penutup esai ini. Indah banget buat saya...๐ญ
Wah terima kasih pak @joefelus pak @ahkam masih perlu mengembalikan ritme ke harian nih.. mudahยฒan bisa segera ๐๐๐ผ